sudutnalar.com, 29 September 2026

PURBALINGGA, SUDUTNALAR – Ketika pagi dimulai, suasana kelas di SMK Negeri 1 Purbalingga tidak langsung dipenuhi kegiatan belajar. Sebelum pelajaran pertama berlangsung, siswa terlebih dahulu diberi waktu untuk membaca buku selama 15 menit. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari kebiasaan literasi yang diterapkan sekolah untuk mendorong siswa lebih dekat dengan buku.
Kegiatan literasi dilaksanakan pada pukul 07.00-07.15 pada hari-hari yang telah dijadwalkan dalam rangkaian minggu literasi. Sekitar 1.500 siswa kelas X hingga XII mengikutinya di kelas masing-masing. Program ini telah berjalan sejak awal tahun ajaran 2023/2024. Sekolah tidak memberikan nama khusus pada kegiatan tersebut dan menyebutnya sebagai minggu literasi. Pelaksanaannya dilakukan secara berkala, diselingi kegiatan sekolah lain seperti upacara, senam, dan kerja bakti.
Selama waktu membaca, siswa bebas memilih buku yang ingin dibaca, baik buku bawaan sendiri maupun pinjaman dari perpustakaan sekolah sebelum kegiatan dimulai. Novel remaja dan komik menjadi beberapa jenis bacaan yang dipilih siswa.
Usai membaca, siswa menulis ringkasan singkat bacaannya di buku jurnal baca. Jurnal tersebut dikumpulkan kepada wali kelas setiap bulan untuk diperiksa. Selama kegiatan, wali kelas mendampingi dengan duduk di depan kelas atau sesekali berkeliling memastikan kegiatan berjalan baik.
Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMK Negeri 1 Purbalingga, Suratno, mengatakan, kegiatan ini dilaksanakan untuk meningkatkan minat baca, mengembangkan kemampuan berpikir kritis, serta menambah pengetahuan siswa di luar materi yang diperoleh di kelas. Pada awal pelaksanaannya, tidak semua siswa langsung terbiasa. Sebagian siswa sempat mengeluhkan kegiatan membaca karena merasa bosan. Namun, setelah berlangsung selama beberapa bulan, sebagian siswa mulai terbiasa dengan rutinitas tersebut.
Perubahan itu dirasakan Amel, siswa kelas X. Ia mengaku dulu jarang membaca, tetapi kini lebih sering karena kegiatan berlangsung rutin. “Dulu jarang, sekarang jadi lebih sering karena dipaksa rutin,” ujar Amel. Ia juga menambahkan biasanya memilih novel remaja ketika mengikuti kegiatan literasi.
Namun, pelaksanaan literasi masih menghadapi beberapa kendala. Koleksi buku di pojok baca dinilai belum cukup beragam. Selain itu, sebagian siswa masih membawa atau menyelipkan penggunaan gawai saat kegiatan berlangsung.
Sekolah melakukan evaluasi melalui buku jurnal baca siswa serta data kunjungan dan peminjaman buku di perpustakaan. Pihak sekolah menerima laporan dari pustakawan bahwa peminjaman buku mengalami peningkatan sejak kegiatan literasi berjalan.
Untuk mempertahankan kebiasaan membaca tersebut, sekolah berencana menambah koleksi buku, terutama fiksi remaja yang sesuai dengan minat siswa. Sekolah juga menyiapkan rencana untuk melatih siswa menjadi duta baca antarkelas agar kegiatan literasi tidak berhenti sebagai rutinitas pagi, tetapi dapat terus berkembang di lingkungan sekolah.
Penyusun: Citra Rahma Latifah
Editor: Chiquita Abidah Azni
