
WONOSOBO, SUDUTNALAR – Guru Bahasa Indonesia SMK Gema Nusantara Wonosobo, Siti Ma’rifah, menilai Kurikulum Merdeka dan nilai-nilai pesantren dapat berjalan beriringan dalam kegiatan belajar mengajar. Menurutnya, keduanya tidak perlu dipertentangkan selama guru mampu mencari titik temu dalam proses pembelajaran.
Pandangan itu disampaikan Siti saat diwawancarai tentang upaya menyeimbangkan Kurikulum Merdeka dengan penanaman nilai keagamaan di sekolah tempatnya mengajar. SMK Gema Nusantara adalah sekolah menengah kejuruan swasta di pusat kota Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah. Sekolah dinaungi naungan Yayasan Masjid Al-Manshur dan menerapkan sistem pendidikan yang terintegrasi dengan nilai-nilai pondok pesantren.
Kurikulum Nasional dan Arahan Yayasan Tak Harus Bertentangan
Siti menyebut, selama ini ia tidak melihat pertentangan antara tuntutan kurikulum nasional dan arahan yayasan. Baginya, keduanya memiliki peran berbeda, tetapi saling melengkapi.
“Kurikulum nasional memberikan tujuan dan capaian pembelajaran yang harus dicapai, sedangkan nilai-nilai dari yayasan menjadi penguatan karakter siswa. Jadi, saya berusaha menjalankan pembelajaran sesuai dengan tuntutan kurikulum, tetapi tetap memasukkan nilai yang menjadi ciri khas sekolah.”
Ia mengatakan bahwa target materi dan persiapan ujian tetap menjadi tanggung jawabnya sebagai guru. Namun, dalam prosesnya ia juga dapat menanamkan nilai kedisiplinan, tanggung jawab, sopan santun, dan kejujuran.
“Kuncinya adalah mencari titik temunya. Anak tetap mendapatkan kompetensi akademik yang dibutuhkan, tetapi karakter dan nilai keagamaannya juga tetap terbentuk,” ujar Siti Ma’rifah.
Nilai Agama Dikaitkan dengan Materi Bahasa Indonesia
Siti menilai pelajaran Bahasa Indonesia cukup mudah dikaitkan dengan nilai agama dan pesantren tanpa mengesampingkan tujuan pembelajaran utama. Saat mengajarkan surat resmi, laporan, atau teks prosedur, ia tetap mengutamakan struktur dan kaidah kebahasaan. Di sela materi itu, ia menyisipkan nilai kejujuran, tanggung jawab, sopan santun, dan kedisiplinan.
“Anak tidak hanya belajar bagaimana membuat tulisan yang benar, tetapi juga memahami sikap yang seharusnya ada di dalam kehidupan sehari-hari maupun dunia kerja,” tuturnya.
Ia menilai hal itu penting karena siswa SMK memang dipersiapkan untuk memasuki dunia kerja. Kemampuan teknis saja dinilai belum cukup tanpa sikap yang baik. “Mereka juga perlu punya sikap yang baik, bisa berkomunikasi dengan sopan, bertanggung jawab terhadap pekerjaan, dan jujur. Nilai-nilai tersebut sebenarnya sejalan dengan pendidikan pesantren,” ujarnya.
Siti mengaitkan keduanya melalui kegiatan belajar yang dekat dengan kehidupan siswa, bukan dengan menyajikan materi agama secara terpisah dalam pelajaran Bahasa Indonesia.
Memanfaatkan Keleluasaan Kurikulum Merdeka
Siti menilai Kurikulum Merdeka memberi ruang yang cukup bagi guru untuk menyesuaikan pembelajaran dengan kondisi dan kebutuhan siswa. Dengan begitu, guru tidak harus terpaku pada materi teoritis.
“Dalam pembelajaran Bahasa Indonesia, saya bisa memilih teks atau topik yang dekat dengan lingkungan siswa, termasuk yang berkaitan dengan kehidupan pesantren dan nilai-nilai keislaman,” tuturnya.
Untuk materi teks eksposisi, argumentasi, dan teks sastra, ia memilih tema seperti pendidikan, akhlak, kehidupan remaja, dan lingkungan pesantren. Pemilihan itu tetap disesuaikan dengan tujuan pembelajaran.
“Nilai keagamaannya masuk secara alami melalui bahan atau aktivitas pembelajaran, bukan sekadar ditempelkan supaya terlihat ada unsur agamanya,” ujar Siti Ma’rifah.
Pendekatan Bertahap bagi Siswa yang Belum Terbiasa
Siti mengakui latar belakang siswa SMK beragam. Sebagian sudah terbiasa dengan lingkungan pesantren, sedangkan sebagian lainnya belum. Karena itu, ia menekankan agar nilai-nilai pesantren tidak terasa asing atau memaksa. “Sebagai guru, saya harus bisa memberikan contoh dan membiasakan mereka secara perlahan,” ungkapnya.
Dalam pelajaran Bahasa Indonesia, pembiasaan itu dilakukan lewat hal-hal sederhana, seperti berbicara dengan sopan, menghargai pendapat teman, bersikap jujur saat mengerjakan tugas, bertanggung jawab dalam kerja kelompok, dan menggunakan bahasa yang baik. Siti juga berusaha memberi teladan melalui sikapnya sendiri.
“Anak-anak akan lebih mudah menerima nilai tersebut kalau mereka melihat dan merasakan langsung penerapannya, bukan hanya mendengar nasihat,” katanya.
Dengan cara itu, ia berharap siswa dapat belajar dengan nyaman dan perlahan memahami manfaat nilai-nilai pesantren dalam kehidupan sehari-hari.
“Nilai-nilai pesantren itu sebenarnya juga berguna untuk kehidupan mereka sehari-hari dan ketika nanti masuk dunia kerja,” tutur Siti.
Penyusun : Chiquita Abidah Azni
Editor : Citra Rahma Latifah
