
Tampilan AI Mode ketika Doodle diklik (Foto: Search Engine Roundtables)
BANYUMAS, SUDUTNALAR — Raksasa teknologi global, Google, baru saja merayakan hari jadinya yang ke-28 pada 27 September 2026 kemarin. Tanpa disadari banyak pengguna, Google jadikan perayaan tahun ini sebuah panggung untuk memamerkan kecanggihan model kecerdasan buatan mereka dan membuktikan sejauh mana teknologi mereka berkembang.
Sudah menjadi kebiasaan bagi perusahaan ini untuk memberikan kejutan-kejutan kecil kepada penggunanya. Google sendiri memiliki tradisi bernama Google Doodle, yaitu saat mereka sengaja mengubah logo di situsnya menjadi gambar unik untuk memperingati momen penting.
Tradisi ini sendiri bermula pada Agustus 1998 saat pendiri utamanya, Larry Page dan Sergey Brin ingin berlibur untuk menghadiri festival Burning Man di Nevada, Amerika Serikat. Mereka menaruh coretan manusia stik di huruf O kedua di tulisan Google sebagai tanda bahwa mereka berada di luar kantor dan berharap pengguna memaklumi apabila server mereka mengalami galat.
Awalnya, langkah ini dibuat hanya untuk iseng. Namun, tanda itu menjadi ikonis sehingga Google mulai membuat lebih banyak Doodle setiap sedang memperingati sesuatu. Tahun ini, Google kembali merayakan ulang tahunnya yang ke-28. Biasanya, mereka sekadar memberikan animasi lucu atau mini-game sederhana untuk dimainkan. Namun kali ini, mereka mengambil pendekatan berbeda untuk menunjukkan kemajuan mereka dalam 28 tahun menjadi raksasa internet.
Saat mengunjungi situs, pengguna disuguhi logo Google bergaya piksel yang mengingatkan pada era komputasi awal, ketika Google pertama kali muncul di layar komputer yang resolusinya masih sangat rendah. Di sinilah letak aksi pamer terselubung tersebut dimulai. Saat diklik, alih-alih memunculkan animasi, Doodle itu justru langsung mengaktifkan Google AI Mode dengan prompt: “create a quiz on all the fun company lore for Google’s birthday” (buatkan kuis tentang seluruh kisah unik perusahaan untuk ulang tahun Google). Dalam hitungan detik, AI tersebut langsung meracik kuis interaktif yang dirancang untuk menguji sekaligus mengedukasi pengguna mengenai sejarah perusahaan.

Tampilan AI Mode ketika Doodle diklik (Foto: Search Engine Roundtables)
Kemampuan model kecerdasan buatan mereka untuk menghasilkan pertanyaan interaktif secara instan ini jelas merupakan unjuk gigi teknologi yang luar biasa. Namun, alih-alih menyajikannya dengan desain antarmuka modern yang canggih, Google memilih untuk membungkus kuis tersebut murni dengan tema situs mereka pada saat pertama dirilis.
Strategi visual ini berfungsi sebagai jembatan antara keterbatasan teknologi di masa lalu dengan kecanggihan komputasi awan yang mereka miliki hari ini. Melalui pameran teknologi yang dibalut nostalgia tersebut, Google seolah ingin menegaskan bahwa dari proyek eksperimen sepasang mahasiswa di masa lalu, kini telah menjelma menjadi pemimpin internet yang besar di era digital.
Reporter : Fauzan Haris Wiarso
Editor : Handaru Arya Adhyasta
