
Tampilan fisik robot Covid Medical AMR (Autonomous Mobile Robot)
(Foto: Dokumen Pribadi milik Rama Sami Fauzan)
BANDUNG, SUDUTNALAR β Kreativitas akademisi muda Indonesia kembali melahirkan inovasi di bidang teknologi dan robotika. Rama Sami Fauzan, alumni S1 Teknik Elektro Universitas Padjadjaran (Unpad) angkatan 2019, bersama rekan seperjuangannya berhasil merancang sebuah sistem robot otonom cerdas. Inovasi ini berawal dari penugasan karya tulis ilmiah di bangku kuliah, di mana mahasiswa didorong untuk mendalami jurnal-jurnal ilmiah yang menarik. Dari diskusi bersama rekan-rekannya, Rama memutuskan untuk fokus di bidang robotika hingga sukses mengubah sasis kursi roda medis menjadi robot multifungsi untuk pengantaran logistik rumah sakit secara otomatis.
Gagasan di balik penciptaan robot ini berakar dari situasi krisis kesehatan yang mendesak di masa pandemi. Menjelaskan fungsi utamanya, Rama memaparkan bahwa robot tersebut dirancang untuk mendistribusikan barang kebutuhan medis tanpa memerlukan intervensi manual secara konstan. βNama robotnya Covid Medical AMR (Autonomous Mobile Robot), tujuannya untuk pengantaran logistik di rumah sakit secara otomatis,β ujar Rama. Fokus utama kehadiran robot ini adalah mengantarkan obat-obatan sekaligus meminimalkan kontak fisik langsung antara tenaga medis dan pasien untuk mengurangi risiko penularan. Meskipun pada mulanya diinisiasi sebagai solusi darurat mengantarkan obat, implementasi teknologi otonom ini memiliki fleksibilitas tinggi dan potensi pengembangan yang luas untuk menunjang efisiensi operasional fasilitas kesehatan secara jangka panjang.

Rancangan robot Covid Medical AMR (Autonomous Mobile Robot)
(Foto: Dokumen Pribadi milik Rama Sami Fauzan)
Keunikan robot ini terletak pada aspek perancangan fisik dan pemilihan materialnya. Alih-alih membangun struktur dari awal, tim perakit memanfaatkan sasis kursi roda medis yang dipadukan secara kreatif dengan rangka rak penyimpanan obat bertingkat di bagian atasnya. Pemilihan kursi roda tersebut didasari oleh faktor ketersediaan serta standarnya sebagai alat kesehatan. βYang tersedia saat itu hanya kursi roda medis, tapi alasan lainnya karena kursi roda medis sebagian sudah memenuhi standar keperluan alat di rumah sakit,β ungkap Rama menjelaskan landasan perancangannya.
Proyek pengembangan teknologi yang memakan waktu sekitar dua tahun ini tentu tidak lepas dari berbagai tantangan. Kendala utama yang kerap dihadapi dalam pengembangan robotika di Indonesia berkaitan dengan pembiayaan, mengingat sebagian besar komponen perangkat keras merupakan barang impor berharga relatif tinggi. Selain itu, tantangan teknis juga muncul saat menyelaraskan antara perhitungan teoretis di atas kertas dan implementasi nyata di lapangan yang dinamis.
Kendati demikian, serangkaian uji coba fungsional terhadap karyanya berhasil dilalui dengan baik di lingkungan kampus. Bahkan berkat capaian riset teknologi yang gemilang itu, Rama sempat mendapat tawaran rekomendasi khusus dari dosen pembimbingnya untuk melanjutkan studi jenjang S2 ke Korea Selatan.
Penulis: Hanunah Rizqi Mumtaz | Editor: Fajriati Fatwa
