
BANYUMAS, SudutNalar- Tofik, kepala sekolah SDN 2 Banteran, tidak pernah bercita-cita menjadi guru. Lahir pada 1988 dari keluarga sederhana, awalnya ia ingin melanjutkan pendidikan di program studi Ilmu Hukum, Universitas Jenderal Soedirman. Namun, ia memilih menjadi guru untuk memenuhi keinginan mendiang ibunya.
Kedua orang tua Tofik bekerja sebagai petani. Meski memiliki banyak anak dan keterbatasan ekonomi, pendidikan tetap menjadi bekal yang diutamakan keluarga.
Ayahnya pernah berpesan bahwa mereka tidak memiliki banyak harta untuk diwariskan sehingga hanya pendidikan yang dapat diberikan setinggi yang mereka mampu. Tofik kemudian menempuh pendidikan guru melalui program D2 di Kebumen.
Perjalanan pendidikan tidak selalu mudah. Saat kuliah, Tofik sempat merasa bosan dan kehilangan motivasi belajar. Ia kembali mengingat perjuangan keluarga hingga akhirnya bangkit dan menyelesaikan Pendidikan.
Setelah menjadi guru, Tofik sempat gagal dalam seleksi CPNS sebelum akhirnya berhasil pada 2009. Sambil mengajar, ia melanjutkan pendidikan S1 dan mengikuti PLPG. Ia juga sempat tidak lulus UTN, tetapi kembali belajar hingga akhirnya lulus pada 2017.
Pengalaman tersebut membentuk pandangan Tofik tentang perjalanan hidup. Ia mengibaratkannya seperti kereta yang tidak selalu berjalan cepat. Ada saat untuk melaju, melambat, bahkan berhenti sejenak di stasiun. βYang penting kita masih di jalurnya. Mau jalannya pelan-pelan, mau berhenti dulu sambil napas, tidak apa-apa,β tuturnya.
Prinsip itu juga ia pegang ketika mendapat tugas yang terasa berat. Meski terkadang merasa tidak percaya diri, Tofik memilih meyakinkan diri bahwa orang yang memberikan amanah tentu melihat kemampuan dalam dirinya. Ia pun berusaha memberikan yang terbaik.
Setelah sekitar 15 tahun menjadi guru, Tofik dipercaya menjadi kepala sekolah pada 2023 saat berusia sekitar 35 tahun. Ia tidak pernah secara khusus menargetkan posisi tersebut.
Pengalaman berorganisasi dan kepercayaan dari atasan membuatnya bersedia menerima amanah. Dalam menjalankan tugas, ia percaya lingkungan kerja yang nyaman perlu dibangun bersama. βEnggak ada lingkungan kerja yang nyaman. Kitalah yang berusaha menyamankan diri kita dan lingkungan kita,β ujarnya.
Bagi Tofik, menjadi pendidik bukan sekadar menyampaikan pengetahuan, tetapi juga membangun motivasi peserta didik untuk belajar dan melakukan hal-hal yang baik.
Perjalanannya dari anak petani yang awalnya tidak ingin menjadi guru hingga dipercaya memimpin sekolah menunjukkan bahwa perjalanan tidak selalu harus cepat. Selama tetap berada di jalur dan terus berusaha, langkah masih dapat dilanjutkan.
Penulis: Restina Diniati Cantika
Editor: Yulia Avriani
