Penulis: Nur Alya Nabila
Editor: Nissa Rhosida Dini Mustika Sari

PURWOKERTO, SudutNalar β Memulai usaha memang tidak selalu mudah dalam menemukan target pasar. HalΒ ini lah yang dirasakan Rio Adriyanto Yudistiro ketika merintis usaha roti pada 2022. Produk yang dibuatnya sempat sepi peminat, sementara produk lain yang pernah ramai justru mengalami penurunan penjualan. Dari kondisi tersebut, Rio belajar untuk tidak berhenti pada satu cara dan terus mencari jalan yang sesuai dengan kebutuhan konsumen.Β
Ketertarikan Rio pada dunia bakery bermula dari kegemarannya membuat roti dan ketertarikannya terhadap bakery Jepang. Saat pandemi COVID-19, ia banyak mempelajari pembuatan roti melalui YouTube. Ia kemudian memperdalam keterampilannya dengan mengikuti kelas bakery.
Pada tahun pertama, perjalanan usahanya tidaklah mudah. Rio awalnya membuat roti dengan rasa yang menurutnya enak, tetapi belum cukup popular dan kondisi toko juga belum stabil. Ada masanya ketika usahanya ramai, tetapi kembali sepi. Situasi ini membuat Rio harus terus mencari cara agar produknya dapat diterima pasar.
Rio kemudian mencoba berbagai ide. Salah satunya adalah donat Jepang yang sempat ramai di Instagram, TikTok, dan car free day (CFD). Penjualannya pernah mencapai sekitar 500β600 buah per hari. Namun, popularitas tersebut tidak bertahan lama. Setelah sekitar tiga bulan, penjualan turun menjadi sekitar 100β150 buah per hari. Alih-alih berhenti, Rio mulai melihat lebih dekat karakter calon konsumennya. Saat berjualan di CFD, ia mengamati bahwa banyak pengunjung yang datang untuk berolahraga, cenderung memilih menu makanan yang rendah kalori. Dari pengamatan tersebut, ia mencoba mengembangkan roti berbahan tepung gandum.
Rio memulai percobaan dengan membeli dua kilogram tepung gandum secara daring dan membuat beberapa varian. Produk tersebut kemudian dijual di CFD dengan konsep tanpa susu, tanpa telur, dan tanpa gula. Bagi Rio, proses tersebut menjadi pengalaman penting karena ia tidak sekadar membuat produk, tetapi mencoba memahami kebutuhan orang yang akan membelinya.
Dari proses mencoba dan mengamati itu, Rio menemukan fakta bahwa usaha dapat berkembang ketika produk yang dibuat memiliki manfaat bagi konsumennya. Ia merasa bangga ketika mengetahui ada pelanggan yang membeli produknya untuk orang tua yang menderita diabetes. Ada pula konsumen yang merasa lebih nyaman mengonsumsi roti buatannya dibandingkan roti biasa.
βRoti ini diharapkan bisa memberi manfaat kepada orang banyak,β ujar Rio dalam wawancara, dikutip Sabtu (19/9/2026).
Pengalaman tersebut membuat Rio memandang usaha bukan hanya sebagai kegiatan untuk memperoleh keuntungan. Ia ingin usahanya membawa kebahagiaan bagi orang-orang yang terlibat di dalamnya. Hal itu tercermin dari nama usahanya, Shiawasena pan, yang menurut penjelasan Rio mengandung makna roti yang bahagia.
Seiring berkembangnya usaha, Rio juga mulai membangun tim. Dari kondisi awal yang masih dikerjakan dengan sedikit orang, kini ia menyebut ada sekitar lima orang yang membantu menjalankan usaha. Perkembangan itu menjadi bagian lain dari perjalanan Rio dimana usaha yang ia mulai dari proses belajar dan mencoba perlahan mulai melibatkan orang lain. Bagi Rio, mempertahankan usaha yang sudah dibangun tidak kalah penting daripada mencari pelanggan baru. Ia berusaha menjaga bahan dan kualitas produk meskipun harga bahan baku dapat berubah. Pelayanan kepada konsumen juga menjadi perhatian yang terus ia jaga.
βTips dalam mempertahankan usaha yaitu menjaga kualitas produk dan pelayanan,β ujar Rio.
Ke depan, Rio ingin mengembangkan usahanya secara bertahap. Ketertarikan dari beberapa pihak di luar daerah untuk bekerja sama sudah muncul, tetapi ia memilih tidak terburu-buru mengambil setiap tawaran. Menurutnya, kerja sama juga berarti memikul tanggung jawab terhadap pihak lain. Bagi Rio, pengalaman menghadapi usaha yang sepi, melihat produk yang sempat ramai kemudian menurun, hingga menemukan inovasi yang lebih sesuai dengan konsumen menjadi bagian dari proses belajar. Ia tidak melihat kegagalan sebagai alasan untuk berhenti, melainkan sebagai kesempatan untuk mencari cara lain.
Kepada anak muda yang memiliki ide untuk memulai usaha, Rio berpesan agar ide tersebut tidak hanya disimpan dalam pikiran. Menurutnya, seseorang perlu mulai dengan apa yang dimiliki dan berani menjalankan idenya.
Perjalanan Rio menunjukkan bahwa membangun usaha bukan tentang selalu berhasil sejak awal. Ada saatnya ketika usaha sepi, ada produk yang tidak bertahan lama, dan ada saatnya keputusan yang dibuat harus dievaluasi kembali. Namun, dari setiap keadaan tersebut, Rio terus mencoba belajar memahami kebutuhan konsumen dan mencari jalan baru. Di sinilah kisah usahanya menjadi lebih dari sekadar cerita tentang roti, tetapi tentang seseorang yang memilih untuk terus bergerak maju ketika keadaan belum sesuai harapan.
