Penulis : Nissa Rhosida Dini Mustika Sari
Editor : Nailah Fiza Imania

PURWOKERTO, SudutNalar — Di tengah persaingan usaha yang semakin ketat dan tuntutan untuk terus berkembang, perjalanan Sartini (60) menjadi gambaran tentang ketekunan dalam mempertahankan usaha. Sejak tahun 2004, Sartini mengelola usaha warung makan “Bu Tini” di Jalan Gunung Muria, Karang Bawang, Kelurahan Grendeng, Purwokerto Utara. Ia membuktikan bahwa ketekunan dan prinsip yang kuat sanggup menjaga keberlangsungan hidup selama lebih dari dua dekade.
Langkah awal dimulai dari lahan sendiri. Didorong oleh niat sederhana untuk menopang perekonomian keluarga, Sartini memanfaatkan lokasi tempat tinggalnya yang strategis di kawasan Grendeng dan memberanikan diri membuka usaha secara mandiri.
“Berawal dari memanfaatkan lokasi yang ada. Karena rumah saya berada di lingkungan yang ramai, saya mencoba membuka usaha untuk membantu perekonomian keluarga,” ucap Sartini mengenang keputusan awal yang mengubah jalan hidupnya.
Bertahan selama 22 tahun tentu diwarnai berbagai gejolak, terutama perubahan kondisi ekonomi. Ketika biaya operasional dan kebutuhan bahan baku terus meningkat, Sartini tidak memilih cara instan. Ia terjun langsung mengelola usahanya dari hulu ke hilir. Setiap pagi, ia mendatangi pasar tradisional untuk memilih bahan baku terbaik dengan harga yang paling bersahabat.
“Siasatnya dengan memilih bahan baku dapur secara langsung ke pasar yang harganya sesuai. Yang penting tetap bisa memberikan yang terbaik,” tuturnya.
Hal yang paling membanggakan dari perjalanannya adalah keteguhan prinsipnya dalam mengelola keuangan. Ketika banyak pelaku usaha mengandalkan fasilitas pinjaman perbankan untuk perluasan modal, Sartini memilih jalan mandiri. Ia memutar modalnya secara perlahan, rupiah demi rupiah, tanpa dibayangi beban angsuran. Perjuangan yang dijalani dengan ketekunan akhirnya membuahkan hasil hingga kedua anaknya dapat menyelesaikan pendidikan sarjana dan kini bekerja secara mandiri. Pencapaian tersebut menjadi kebanggaan tersendiri baginya, sekaligus menggambarkan bagaimana usaha sederhana yang dijalankan dengan konsisten dapat menjadi tumpuan bagi masa depan keluarga.
Bagi Sartini, keberhasilan bukan semata-mata tentang besarnya usaha atau banyaknya modal, melainkan tentang ketekunan dalam menjalani proses. Sepiring nasi yang disajikan setiap hari menjadi saksi perjuangannya dalam membangun kehidupan keluarga dan mendukung cita-cita kedua anaknya.
Keberhasilan tidak selalu lahir dari modal yang besar atau langkah instan, melainkan dari konsistensi menjalani proses kecil setiap hari yang mampu membawa perubahan besar dalam hidup. Dari perjuangan sederhana, lahir kebanggaan luar biasa. Siapa sangka, sepiring nasi mampu mengantarkan dua anak meraih gelar sarjana?
