Penulis: Desta Hikmah Setyani | Editor: Gesit Adhe Priyana | Keterangan: Profil Tokoh | Selasa, 22 September 2026 | 16.36 WIB

Sunarto, Operator Dapodik Dinas Pendidikan Kabupaten Banyumas, memeriksa berkas verifikasi dan validasi data sekolah di ruang kerjanya, Purwokerto. (Foto: Dok. Desta Hikmah Setyani)
PURWOKERTO – Sudutnalar.com, Di balik kelancaran penyaluran dana Bantuan Operasional Satuan Pendidikan (BOSP) hingga pencairan Tunjangan Profesi Guru (TPG) di Kabupaten Banyumas, terdapat peran penting tenaga teknis di balik layar. Salah satunya adalah Sunarto, Operator Data Pokok Pendidikan (Dapodik) Dinas Pendidikan Kabupaten Banyumas yang mengelola data jenjang PAUD, SD, hingga SMP.
Mengabdi sejak 2021, Sunarto bertugas memverifikasi dan memvalidasi data lembaga, guru, serta peserta didik se-Kabupaten Banyumas. Bagi Sunarto, barisan data di layer komputernya bukan sekadar angka, melainkan menyangkut hak dan nasib banyak orang.
“Satu digit kesalahan entri data yang lolos verifikasi dapat berdampak serius, seperti keterlambatan pencairan TPG selama satu hingga dua bulan atau ketidaksesuaian nominal tunjangan yang diterima guru,” ujar Sunarto.
Masa pasca-Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menjadi waktu paling padat dalam rutinitas kerja Sunarto. Setiap hari, ia dapat menerima hingga ratusan kunjungan operator sekolah maupun guru yang membutuhkan bantuan teknis menjelang batas waktu sinkronisasi data nasional. Data tersebut menjadi tolok ukur utama penyaluran BOSP untuk tahun anggaran berikutnya.

Gedung Dinas Pendidikan Kabupaten Banyumas, pusat pengelolaan dan sinkronisasi data Dapodik se-Kabupaten Banyumas. (Foto: Dok. Desta Hikmah Setyani)
Tantangan yang dihadapi Sunarto di lapangan pun beragam, mulai dari mengedukasi operator sekolah baru hingga menangani kasus kebocoran data pribadi akibat ketidakpahaman pengguna. Selain itu, ia juga menyelesaikan permasalahan seperti duplikasi Nomor Induk Kependudukan (NIK) ganda, sehingga memerlukan koordinasi dengan Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil).
Di sisi lain, Sunarto menaruh empati yang mendalam terhadap kondisi para guru di tingkat Sekolah Dasar (SD). Akibat minimnya tenaga administrasi khusus di jenjang SD, para guru harus merangkap tugas sebagai operator sekolah di tengah kesibukan belajar-mengajar. Hal ini kerap membuat pemutakhiran data berkala terhambat.
Meskipun dibayangi oleh tekanan kerja dan tanggung jawab moral yang tinggi, Sunarto tetap berkomitmen untuuk menjalankan tugasnya secara fokus dan penuh integritas sesuai arahan pimpinan. Ia berharap pemerintah dapat memberikan perhatian lebih terhadap kesejahteraan para guru serta apresiasi khusus bagi para operator dan tenaga teknis sekolah.
“Setiap tugas yang dipercayakan harus kita jalankan dengan sebaik-baiknya. Mari kita jaga validitas data ini bersama-sama, karena setiap detail yang kita masukkan adalah fondasi nyata bagi kemajuan pendidikan anak-anak kita,” pungkas Sunarto.
