Penulis: Nisa Nurul Aida | Editor: Anisa Rahmawati
Selasa, 22 September 2026

DUTA FIB UNSOED: Rendi Firnanda (paling kanan) bersama jajaran Duta FIB Unsoed saat menghadiri kegiatan di lingkungan kampus. (Foto: Dok. Narasumber)
Purwokerto – Sudutnalar.com, Menjadi bagian dari Duta Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) menuntut seorang Rendi Firnanda, sebagai salah satu mahasiswa Program Studi Bahasa Mandarin angkatan 2025, untuk selalu tampil prima di depan publik. Tak sekadar menghadiri acara resmi, peran ini juga menuntutnya untuk aktif mempromosikan kegiatan kampus melalui pembuatan konten digital secara mandiri di media sosial.
Mengenai perannya tersebut, Rendi mengungkapkan bahwa citra diri atau personal branding yang terbangun selama menjadi duta sebenarnya merupakan karakter aslinya yang aktif berorganisasi sejak lama, sehingga ia hanya perlu mempertahankan hal positif yang sudah ada.
Meski demikian, padatnya dinamika kegiatan kemahasiswaan tetap menjadi tantangan tersendiri. Terutama saat memasuki puncak kesibukan organisasi dan akademik di bulan September hingga Oktober. Selain harus menyelaraskan jadwal di tengah kesibukan masing-masing anggota tim, Rendi dan rekan-rekan sesama duta juga harus menggarap seluruh proses produksi konten secara kolaboratif, mulai dari penyusunan ide, pengambilan video, pengeditan, hingga tahap promosi di media sosial.
“Tugas kuliah tetap nomor satu. Namun di sisi lain, kami juga harus membuat konten, mengedit sendiri, sampai publikasi. Di situ tantangannya, bagaimana caranya menyelaraskan waktu di tengah kesibukan masing-masing,” ujar Rendi saat memberikan keterangan, Senin (21/9).
Untuk menjaga fokus serta mengatasi rasa lelah dan sifat pelupa di tengah padatnya agenda, Rendi mengandalkan kombinasi rutinitas yang disiplin serta pemanfaatan teknologi. Selain menggelar rapat evaluasi mingguan secara berkala, ia rutin memanfaatkan aplikasi penataan jadwal seperti Google Calendar dan to-do list di ponsel pintar agar tidak ada tugas yang terlewat.
Di samping itu, Rendi juga selalu meluangkan waktu untuk beristirahat dan memberikan self-reward sebagai penyeimbang fisik dan mental.
“Lelah itu pasti ada, dan kalau capek harus istirahat. Namun kalau untuk menyerah, coba ingat lagi bagaimana perjuangan kami beberapa waktu lalu untuk bisa berdiri di sini. Dulu kami sangat ingin ada di posisi ini, masa sekarang saat sudah dijalani malah mau menyerah?” tegasnya.
Melalui perannya sebagai Duta FIB, Rendi membuktikan bahwa kesibukan akademik dan organisasi dapat berjalan beriringan. Pengalaman ini menjadi pengingat bagi sesama mahasiswa untuk berani keluar dari zona nyaman dan mengambil setiap kesempatan selagi muda.
