Penulis: Kirania Eka Putri | Narasumber: Muhammad Fardhan Abdillah | Keterangan: Profil Tokoh | Senin, 22 September 2026 | 11.05 WIB

Muhammad Fardhan Abdillah saat mengedukasi sebagai Duta GenRe. (Dok. Muhammad Fardhan Abdillah)
Banyumas – Sudutnalar.com, Berawal dari rasa penasaran melihat prestasi anak dari guru mengajinya, Muhammad Fardhan Abdillah memberanikan diri mengikuti ajang Duta Generasi Berencana (GenRe). Ia meraih juara 1 Duta GenRe Kabupaten Purwakarta hingga 10 besar Duta GenRe Jawa Barat pada 2025.
Bagi Fardhan, peran tersebut bukan sekadar memakai selempang atau menghadiri acara seremonial saja. Ia memanfaatkan peran ini untuk terjun langsung mengabdi dan mengedukasi masyarakat.
“Saya suka berkomunikasi dan memberikan pengaruh positif ke teman-teman remaja. Karena itu, saya menikmati setiap prosesnya,” ujar Fardhan.
Selama menjadi Duta GenRe, Fardhan terlibat dalam berbagai kegiatan sosial. Beberapa di antaranya adalah mengajar anak-anak desa, mendampingi Posyandu Remaja, serta memberikan edukasi pencegahan stunting dan pernikahan dini di tingkat sekolah dasar.
Selain aktif sebagai Duta GenRe, mahasiswa Ilmu Komunikasi ini juga membagi waktunya di kampus. Ia tercatat aktif sebagai staf BEM Unsoed, reporter FISIP TV, dan anggota tim Protokol FISIP Unsoed.
Menjalani berbagai peran tentu memberi tantangan tersendiri, terutama dalam hal manajemen waktu dan agenda protokoler yang sering muncul mendadak. Meski begitu, Fardhan mengaku tidak pernah berpikir untuk menyerah.
“Dari awal saya tidak merasa terpaksa menjalani ini. Setiap semester saya selalu berusaha memaksimalkan peluang apa saja yang bisa dicoba,” tuturnya.
Di balik penampilannya, Fardhan memegang prinsip profesionalisme yang kuat. Pengalaman magang di Humas Kemenag Purwakarta mengajarkannya untuk tidak membawa masalah pribadi ke ruang publik saat bertugas.
Bagi Fardhan, perjalanan ini bukan tentang mengejar kesempurnaan. Ke depan, ia ingin dikenal sebagai sosok pembelajar seumur hidup yang senantiasa memperbaiki diri dan menebar manfaat bagi sekitarnya.
“Menjadi sempurna itu adalah saat kita menyadari bahwa kita tidak sempurna. Manusia tempatnya salah, tetapi kita selalu punya pilihan untuk memperbaiki kesalahan itu,” katanya.
Penulis : Kirania Eka Putri
Editor : Nabila Kamilia Putri
