
PURBALINGGA, SUDUTNALAR – Menjadi seorang Duta Wisata bukan sekadar menyandang gelar atau popularitas semata. Para Duta Wisata memiliki tanggung jawab untuk mengenalkan, mempromosikan, serta mendorong pengembangan potensi wisata lokal yang ada di Purbalingga.
Hal tersebut disampaikan oleh Agis Dwi Rahmadani, Wakil IV Mbekayu Purbalingga 2026. Menurut Agis, menjadi duta wisata merupakan tanggung jawab yang besar untuk memberikan dampak posistif bagi Kabupaten Purbalingga.
“Menjadi Duta Wisata itu bukan cuma numpang nama, tapi kami diberi tanggung jawab dan amanah untuk menunjukkan potensi diri serta membawa pengaruh positif bagi wisata-wisata di Purbalingga” ungkap Agis dalam wawancara.
Perjalanan Agis menuju panggung final Kayulingga 2026 tidak semudah yang terlihat di media. Menurutnya, proses pemilihan berlangsung cukup panjang dan mencakup berbagai tahapan, termasuk pembekalan, tes pengetahuan mengenai pariwisata Purbalingga, serta persiapan penampilan pada malam final.
Ia menceritakan berbagai tantangan yang dihadapi, mulai dari mencari busana dress batik secara mandiri dalam waktu yang terbatas, mengalami salah paham dengan guru pembimbing saat persiapan, hingga harus mempelajari materi mengenai pariwisata Purbalingga secara mandiri dan autodidak. Meskipun perjalanannya menghadapi berbagai tantangan dan tekanan, Agis berhasil melewati semua proses yang ada hingga masuk dalam jajaran 10 pasang finalis terbaik dan menjadi Wakil IV Mbekayu Purbalingga 2026.
Dalam ajang Kayulingga 2026, terdapat 10 pasang finalis yang lolos ke tahap final. Lima pasangan menempati posisi utama, mulai dari Kakang dan Mbekayu hingga wakil IV. Sementara itu, lima pasangan lainnya memperoleh penghargaan berdasarkan kategori tertentu, seperti Duta Wisata Favorit, Intelegensi, atau Fotogenik.
Meskipun masa jabatan sebagai Duta Wisata hanya berlangsung selama satu tahun, para alumni tetap memiliki kesempatan untuk berkontribusi dalam kegiatan pariwisata. Beberapa alumni kemudian berkarier sebagai presenter, model, pembuat konten, maupun bekerja di destinasi wisata Purbalingga.
Sebagai bagian dari Kakang Mbekayu Purbalingga yang berada di bawah naungan Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata Purbalingga, Agis menjelaskan fokus utama program kerjanya pada pengembangan Desa Wisata.
Beberapa lokasi wisata dinilai memiliki potensi yang besar untuk dikembangkan menjadi destinasi wisata unggulan, tetapi belum dikelola secara optimal. Beberapa destinasi yang disebut antara lain kawasan Paragon, Gunung Wuled Sirau, Siregol, hingga Desa Wisata Tanalum dan Selakambang.
Agis secara khusus meyoroti kawasan Paragon yang berada di sekitar tempat tinggalnya, ia sangat prihatin melihat kondisi kolam pemandian yang terbengkalai. Meskipun pemandangan alam yang ditawarkan sangat bagus, kini Paragon berhenti beroperasi karena tidak ada yang mengelolanya.
Ia berharap pada potensi wisata-wisata lokal yang belum tersorot publik atau sempat terbengkalai tersebut dapat dihidupkan kembali.
Menurut Agis, pengembangan destinasi wisata tidak cukup hanya dilakukan dengan membangun fasilitas. Keberadaan pengelola, program berkelanjutan, serta keterlibatan masyarakat menjadi faktor penting agar sebuah objek wisata dapat bertahan.
“Harapannya, dari banyaknya wisata lokal yang kurang dikenal masyarakat dapat dikembangkan lagi, agar orang-orang tahu dan tidak terbengkalai,” tambahnya.
Melalui program kerja yang terstruktur, para Duta Wisata berkomitmen untuk tetap mendorong promosi dan keberlanjutan desa wisata di Purbalingga. Mereka berupaya untuk mengidentifikasi potensi desa wisata sekaligus mencari cara agar destinasi yang kurang berkembang dapat kembali dikenal masyarakat.
Dengan adanya kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, pengelola, sekolah, dan komunitas diharapkan dapat mendukung potensi wisata di Purbalingga dan dapat berkembang secara terarah. Selain meningkatkan kunjungan wisatawan, pengembangan tersebut juga membuka peluang ekonomi bagi masyarakat setempat.
Penulis : Zahrotun Nabilah
Penyunting : Zahra Fatin Nafilah
