sudutnalar.com— 22 September 2026
Penulis: Dwi Santika Sukmaningrum | Editor: Sabrynna Zahra Saraswati

(sudutnalar.com/Dwi Santika Sukmaningrum)
PURWOKERTO, SUDUTNALAR – Berawal dari sebuah ruangan bekas gudang di samping garasi mobil, Rumah Baca Aqlea kini berkembang menjadi salah satu pusat kegiatan literasi masyarakat Banyumas. Didirikan oleh Haris, ruang baca ini bukan hanya sebagai tempat mengumpulkan buku, melainkan menjadi wadah belajar dan literasi bagi anak-anak. Nama “aqlea” sendiri terinspirasi dari nama guru Haris, “Aqila” serta nama TPQ “Aql.”
Awal Mula Berdiri
Sebelum menetap di Banyumas, cikal bakal gerakan ini bermula di Jawa Barat dengan nama TPQ Aqila Rumahku. Setelah berpindah ke Jawa Tengah dan menetap di Purwokerto, Banyumas, pada tahun 2018, Haris mulai merintis Rumah Baca Aqlea di Kecamatan Kembaran sambil belajar.
Pada awalnya, pengoperasian Rumah Baca Aqlea sempat mengalami beberapa kali pemindahan lokasi. Awal tahun 2019, Rumah Baca Aqlea sempat berpindah ke Purwokerto Selatan, menempati ruko dua lantai selama dua bulan sebelum pindah ke bekas tempat pencucian kendaraan milik jemaah masjid. Kemudian pada April 2019 hingga 2021, ruang baca ini pindah ke sebuah rumah sederhana berukuran 36 meter persegi di Desa Karangrau, Kecamatan Sokaraja. Barulah pada 17 Agustus 2021, Rumah Baca Aqlea resmi menetap di Desa Kalikidang, Kecamatan Sokaraja dengan tanggal berdirinya 28 November 2018.
Kegiatan di Rumah Baca Aqlea
Dari bangunan rumah sederhana yang berlokasi di Desa Kalikidang, Kecamatan Sokaraja, Haris dan Nisa perlahan memperkenalkan Rumah Baca Aqlea pada masyarakat setempat dengan membuka rumah mereka untuk siapapun yang ingin berkunjung. Kondisi anak-anak setempat yang kurang minat dalam literasi membuat masyarakat cukup mendukung adanya Rumah Baca Aqlea. Kegiatan Rumah Baca Aqlea tidak hanya fokus pada peningkatan literasi anak, tetapi juga ikut memberdayakan masyarakat sekitar.
“Rumah Baca Aqlea ini didirikan bukan sekadar untuk tempat menampung dan mengumpulkan buku, melainkan dirancang sebagai pusat budaya serta wadah pemberdayaan masyarakat,” ujar Haris.
Dalam menjalankan fungsinya sebagai pusat pengembangan literasi dan pemberdayaan masyarakat, Rumah Baca Aqlea mengoperasikan berbagai program edukasi dan kegiatan sosial terpadu. Aktivitas yang diselenggarakan tidak hanya berfokus pada literasi baca-tulis anak, tetapi juga menyasar edukasi masyarakat mengenai seputar pengelolaan lingkungan hingga pemberdayaan ekonomi warga Desa Kalikidang.
Di bidang pendidikan, Rumah Baca Aqlea rutin menyediakan fasilitas taman belajar literasi untuk anak usia dini yang mencakup kegiatan mengaji, mewarnai, dan bermain. Pengelolaan serta pelaksanaan kegiatan ini didukung oleh Haris, Nisa, dan beberapa pemuda. Guna memperluas wawasan dan menambah variasi kegiatan, Rumah Baca Aqlea membuka ruang kolaborasi bagi pihak luar pada akhir pekan (weekend), khususnya kelompok mahasiswa yang ingin melakukan pengabdian masyarakat. Melalui keterlibatan para relawan mahasiswa ini, pengelola berharap anak-anak dan warga Desa Kalikidang dapat memperoleh pengalaman belajar yang lebih beragam serta pengetahuan baru yang lebih luas.
Di bidang lingkungan dan keterampilan praktis, Rumah Baca Aqlea menghadirkan sarana pelatihan pengolahan limbah sederhana. Melalui kegiatan pengolahan limbah sederhana, warga dan pengelola mempraktikkan pembuatan pupuk komposer organik seperti cairan eco-enzyme, maggot hingga pengoperasian alat pembakar sampah (incinerator) sederhana untuk menangani persoalan limbah dan sampah plastik di lingkungan masyarakat. Haris sendiri mengupayakan masyarakat melalui kegiatan sederhana. Diharapkan melalui kegiatan sederhana tersebut dapat menjadi contoh untuk masyarakat sekitarnya. Fokus Rumah Baca Aqlea tidak hanya pada peningkatan literasi anak usia dini tetapi berusaha merangkul masyarakat sekitar.
”Selain persoalan membaca, pemukiman di sini berhadapan dengan limbah menyengat dari UMKM tahu, penumpukan sampah, dan bau peternakan. Oleh karena itu, kami membangun bengkel kerja untuk mempraktikkan pembuatan eco-enzyme, pupuk komposter organik, hingga instalasi incinerator sederhana,” kata Haris.
Beberapa kendala juga dirasakan oleh Haris dan Nisa. Keterbatasan waktu serta pendanaan operasional mandiri kerap menjadi kendala utama dalam menggerakkan program secara konsisten. Walau begitu, dengan komitmen pengabdian yang kuat, mereka terus mengupayakan secara maksimal agar pintu Rumah Baca Aqlea tetap terbuka dan ragam kegiatannya terus berjalan bagi masyarakat Desa Kalikidang.
Langkah Ke depan
Keberlanjutan gerakan ini turut diperkuat melalui pembentukan organisasi Societat Aqlea serta Program Aqlea Setara yang berfokus pada pemberdayaan kaum perempuan penggerak UMKM. Ke depannya, Haris menargetkan penuntasan masalah lingkungan pemukiman dapat rampung secara menyeluruh. Visi besar yang terus ia perjuangkan adalah mengantarkan Desa Kalikidang menjadi kawasan Desa Wisata Kuliner berbasis potensi lokal seperti tahu, tempe, lanting, jenang, dan telur asin dengan melihat masyarakatnya sebagai penggerak UMKM, diharapkan mampu diangkat menjadi komoditas unggulan yang dikenal luas oleh masyarakat di luar Kabupaten Banyumas.
