sudutnalar.com, 22 September 2026.

PURWOKERTO, SUDUTNALAR β Slamet Waluyo, S.Pd., warga Desa Kracak, Kecamatan Ajibarang, telah menekuni profesi sebagai MC pengantin selama 34 tahun. Menariknya, profesi tersebut tidak pernah direncanakan sejak awal. Perjalanan Slamet sebagai MC justru bermula dari sebuah ketidaksengajaan ketika dirinya masih berdinas di wilayah Pageraji.
Saat itu, Slamet diminta membantu seseorang untuk melamar perempuan di Sokaraja. Setelah pengalaman tersebut, ia mulai sering mendapat permintaan untuk membantu berbagai acara. Hingga pada 1992, ia diminta memberikan sambutan dalam acara pengantin di Cikidang. Cara Slamet menyampaikan pidato saat itu menarik perhatian seorang dukun pengantin yang kemudian memintanya untuk belajar menjadi MC pengantin.
Sejak saat itu, Slamet mulai menekuni dunia MC secara mandiri. Ia tidak memiliki guru khusus dan lebih banyak belajar melalui praktik langsung di lapangan. Ketertarikannya terhadap sastra Jawa dan tembang Jawa juga menjadi bekal dalam menjalani profesi tersebut. Untuk menambah pengetahuan, ia belajar melalui buku dan kaset yang dibelinya sendiri.
βBerawal dari unsur tidak sengaja, tapi karena dibutuhkan masyarakat sehingga saya tekuni. Tekun bakale tekan,β ujar Slamet.
Selama 34 tahun menekuni dunia MC, kemampuan Slamet berkembang ke berbagai bidang yang berkaitan dengan bahasa dan budaya Jawa. Selain menjadi MC atau pranata acara, ia juga menekuni begalan, kidungan atau macapat, pamedhar sabda, duta wicara, hingga wayang dakwah atau tausiah. Ia juga beberapa kali dipercaya memandu acara kirab pusaka, pentas seni, dan perlombaan yang berkaitan dengan budaya Jawa di tingkat kabupaten.
Menurut Slamet, menjadi MC tidak cukup hanya dengan menghafalkan susunan acara. Seorang MC harus memahami makna dari setiap prosesi agar dapat menyesuaikan penyampaian dengan kondisi di lapangan. Hal tersebut menjadi prinsipnya karena susunan acara terkadang dapat berubah dari rencana awal.
βMC itu harus mengerti arti daripada acara-acara itu,β katanya.
Dalam menjaga suasana acara, Slamet berusaha menunjukkan sikap yang ceria meskipun menghadapi berbagai persoalan. Ia terkadang menggunakan humor atau pantun untuk mencairkan suasana. Menurutnya, seorang MC juga perlu memiliki kemampuan tambahan, seperti bernyanyi, berpantun, atau sedikit melawak agar acara tidak terasa monoton.
Ia menyebut kemampuan vokal, pengetahuan bahasa, mental, sikap saat tampil, serta penguasaan materi sebagai hal penting bagi seorang MC. Selain itu, MC juga harus memahami kondisi masyarakat yang menjadi tempatnya tampil. Menurutnya, cara membawa acara di lingkungan akademis tentu berbeda dengan acara di pesantren maupun pedesaan.
Kini, di usianya yang telah lebih dari 60 tahun, Slamet mulai memberikan kesempatan kepada MC pengantin yang lebih muda. Ia tidak menganggap kehadiran generasi muda sebagai ancaman, tetapi sebagai kesempatan untuk meneruskan apa yang telah ia tekuni selama puluhan tahun.
Bagi Slamet, menjadi MC juga menjadi salah satu cara untuk menjaga bahasa dan budaya Jawa. Ia berharap generasi muda tetap mempelajari bahasa Jawa sebagai bahasa ibu, termasuk unggah-ungguh yang menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Jawa.
βBoleh kita belajar bahasa manapun, tapi bahasa sendiri jangan ditinggalkan,β ujar Slamet.
Penulis β Moza Abhista Daniswara
Editor β Abimanyu Excel Mulya
