sudutnalar.com, 22 September 2026

Krishna Shafira saat menjalankan aktivitas sebagai radiografer radioterapi di RSU Dadi Keluarga (Dok. Ladina Lintang Vania).
PURWOKERTO, SUDUTNALAR – Krishna Shafira melihat profesinya sebagai radiografer radioterapi bukan sekadar menjalankan terapi radiasi. Pekerjaan tersebut menjadi kesempatan baginya untuk memberikan rasa aman dan dukungan kepada pasien kanker selama menjalani pengobatan.
Krishna Shafira, S.Tr.Kes.(Rad.), merupakan radiografer radioterapi di Instalasi Radioterapi RSU Dadi Keluarga Purwokerto Selatan, Kabupaten Banyumas. Ia telah menjalani profesi tersebut selama tujuh tahun setelah menyelesaikan pendidikan D4 Teknik Radiologi Politeknik Kesehatan.
Ketertarikan Krishna terhadap bidang radioterapi berawal dari keinginannya memahami penggunaan teknologi radiasi dalam pengobatan kanker. Pengalaman tersebut membuatnya menyadari bahwa tenaga kesehatan tidak hanya membutuhkan kemampuan teknis, tetapi juga kepedulian terhadap kondisi pasien.
Selama mendampingi pasien, Krishna melihat banyak pasien datang dengan rasa takut dan cemas. Kondisi tersebut membuatnya memahami bahwa pasien tidak hanya membutuhkan tindakan medis, tetapi juga dukungan agar lebih tenang selama menjalani terapi.
“Terapi radiasi yang dilakukan secara rutin membuat kami mengenal lebih dekat dengan pasien. Dari situ saya menyadari bahwa memberikan rasa aman dan dukungan kepada pasien merupakan hal yang penting,” ujar Krishna.
Krishna menilai komunikasi menjadi bagian penting dalam membangun kenyamanan pasien. Ia juga bertanggung jawab memastikan proses radioterapi berjalan sesuai rencana karena ketelitian dalam posisi pasien dan pemberian radiasi sangat diperlukan.
“Pekerjaan ini bukan hanya tentang alat atau teknologi. Kami juga harus memahami kondisi pasien dan memberikan pelayanan yang terbaik,” kata Krishna.
Krishna berharap masyarakat dapat lebih mengenal peran radiografer radioterapi dalam pengobatan kanker. Ia mengingatkan masyarakat agar mencari informasi dari sumber yang tepat karena setiap pasien memiliki kondisi dan rencana pengobatan yang berbeda.
“Setiap pasien memiliki kondisi yang berbeda. Karena itu, penting untuk berkonsultasi dengan tenaga kesehatan yang menangani,” ungkap Krishna.
Krishna berpesan kepada calon tenaga kesehatan agar tidak hanya mempersiapkan kemampuan akademik, tetapi juga membangun empati dan rasa tanggung jawab. Baginya, teknologi medis harus selalu berjalan berdampingan dengan nilai kemanusiaan.
Penulis : Ladina Lintang Vania
Penyunting : Najwa Amalia
