sudutnalar.com, 22 September 2026

Wanto Tirta, sang Presiden Geguritan. (Sumber: Ratu Gustav Verlian)
BANYUMAS, SUDUTNALAR — Perubahan zaman perlahan menggeser penggunaan bahasa daerah. Namun, Wanto Tirta tetap memilih berkarya dalam bahasa Banyumasan yaitu bahasa Penginyongan. Sastrawan asal Desa Kracak, Kecamatan Ajibarang, Kabupaten Banyumas, telah melahirkan ratusan karya guritan dan parikan, berbagai penghargaan, hingga julukan “Presiden Geguritan”.
Kedekatan Wanto dengan sastra tumbuh dari lingkungan desa. Sejak kecil ia dekat dengan kehidupan petani dan pertunjukan seni. Ia juga gemar membaca koran dan mendengarkan radio yang memperkenalkannya pada cerita, tembang, dan parikan.
Sebelum memusatkan perhatian pada sastra, Wanto lebih dahulu berkecimpung dalam dunia kesenian. Ia pernah bermain wayang orang dan ketoprak, lalu mendirikan Teater Gethek pada 1985. Ia kemudian menjadi penyiar Radio Satria Ajibarang dan terpilih sebagai penyiar favorit pilihan pendengar pada 2002. Wanto juga mendirikan Komunitas Sastra Pinggiran Banyumas yang masih aktif hingga saat ini.
“Desa itu menjadi perpustakaan pertama bagi saya, keluarga jadi sekolah pertama saya, masyarakat jadi guru pertama saya, dan panggung desa adalah ruang kesenian bagi saya,” ujar Wanto.
Konsistensinya dalam menulis guritan dan parikan melahirkan ratusan karya dan sejumlah buku, antara lain Nonton Ronggeng: Brengkesan Geguritan Penginyongan, Inyong Indonesia: Brengkesan Parikan Banyumasan, Catatan 1000 Hujan, dan Kanvas Cinta Restu Langit. Pada 2018, ia diundang membaca puisi dalam Hari Puisi Indonesia di Taman Ismail Marzuki dan mengikuti Gerakan Akbar 1.000 Guru ASEAN Menulis Puisi di Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta.
Dedikasinya dalam pelestarian bahasa daerah juga mendapat berbagai penghargaan. Wanto Tirta mendapatkan Anugerah Gatra Budaya Bidang Sastra dari Pemerintah Kabupaten Banyumas pada 2015. Dua tahun kemudian, ia masuk menjadi nomine Prasidatama sebagai Penggiat Bahasa dan Sastra Daerah dari Balai Bahasa Jawa Tengah. Buku Catatan 1000 Hujan juga memperoleh Anugerah Sastratama dari Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia pada 2023.
Julukan “Presiden Geguritan” mulai melekat setelah Wanto membacakan guritan “Pengantin Anyar” dalam pernikahan putri bungsu Ahmad Tohari. Sebutan tersebut pertama kali muncul dalam pemberitaan Suara Merdeka pada 21 Juni 2009. Julukan istimewa itu bukan tanda bahwa dirinya lebih tinggi daripada sastrawan lain, melainkan tanggung jawab untuk terus berkarya dan membuka ruang bagi penggurit muda.
Baginya, guritan dan parikan merupakan ruang untuk mengekspresikan perasaan sekaligus berdialog dengan kehidupan. Oleh karena itu, pencapaian yang paling berkesan bukanlah ketika menerima penghargaan, melainkan saat karya-karyanya diterima masyarakat, semakin banyak anak muda yang mau menulis guritan, dan mereka tidak lagi malu menggunakan bahasa Penginyongan.
“Saya menulis karena memang mencintai dunia itu. Ketika mendapatkan penghargaan saya syukuri, kritik pun saya dengarkan, tetapi perjalanan berkarya juga harus tetap berjalan,” katanya.
Pada akhirnya, Wanto tidak ingin perjalanan panjangnya berhenti pada buku, penghargaan, atau julukan saja. Ia berharap bahasa Penginyongan tidak hanya menjadi warisan, tetapi terus hidup melalui karya yang diciptakan oleh generasi muda.
“Kalau suatu saat nama Wanto Tirta sudah tidak disebut lagi, tetapi anak-anak Banyumas masih menulis guritan, menggunakan bahasa Penginyongan, dan bangga terhadap budayanya, berarti perjuangan itu tidak sia-sia,” pungkasnya.
Penulis : Ratu Gustav Verlian
Editor : Titis Dwi Pamilih
