sudutnalar.com, 22 September 2026

Sri Wahyuni, pemilik RM Jambak (Foto: sudutnalar.com/Zuha Alfi Zulaika)
PURWOKERTO, SUDUT NALAR – Kegagalan panen jamur yang tidak laku terjual menjadi awal lahirnya usaha kuliner yang kini menjadi ciri khas Desa Silado, Kecamatan Sumbang, Kabupaten Banyumas. Sri Wahyuni, alumni D3 Ekonomi Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), berhasil mengubah kegagalan itu menjadi Rumah Makan Jambak (RM Jambak) yang telah berjalan lebih dari satu dekade.
Sri memilih Unsoed karena dekat dengan rumah dan memilih Fakultas Ekonomi dengan tujuan untuk memajukan usaha dagang orang tuanya. Setelah lulus, ia sempat bekerja sebagai sekretaris di sebuah perusahaan ekspedisi di Purwokerto. Namun, upah yang didapat dari pekerjaan penuh waktu itu dirasa tidak sepadan sehingga ia memutuskan membuka usaha sendiri.
Titik baliknya bermula dari kegagalan panen 7.000 baglog jamur miliknya. Suatu hari, hasil panen 25 kg jamur tidak laku karena pedagang langganan sedang libur. Daripada terbuang, Sri mengolahnya menjadi pepes, kerupuk, keripik, hingga sate jamur, lalu membagikannya ke tetangga. Respons positif yang ia terima mendorongnya mempromosikan sate jamur secara gratis ke berbagai instansi di sekitar rumah untuk dicicipi. Dari situ, permintaan mulai berdatangan hingga akhirnya ia mendirikan usaha bernama RM Jambak, dengan “Jambak” sebagai singkatan dari “Jamur Bakar”.
Sejak berdiri pada Februari 2011, perjalanan usaha ini tidak mudah. Dua tahun pertama, omzet masih kecil karena lokasinya yang berada di dalam gang sehingga belum banyak dikenal. Tantangan lain muncul karena jamur tidak tahan lama sehingga Sri harus membeli freezer agar sate jamur dapat disimpan lebih lama. Karena tidak semua pelanggan menyukai jamur, ia pun memperluas menu dengan bahan utama ayam dan ikan.
Titik balik besar terjadi saat RM Jambak menjalin kerja sama penyediaan nasi kotak dengan Puskesmas I Sumbang untuk kegiatan di sebelas desa pada 2019, disusul Puskesmas II Sokaraja untuk delapan desa pada 2020. Berkat kerja sama ini, produk RM Jambak dikenal luas hingga menjangkau pelanggan di luar Purwokerto, seperti Kroya, Cilongok, dan Wangon. Kini, usaha tersebut mempekerjakan lima karyawan dan memiliki tempat usaha rumah makan dengan kapasitas tempat duduk hingga 100 orang.

RM Jambak (Foto: sudutnalar.com/Zuha Alfi Zulaika)
Sri mengaku ilmu yang ia pelajari semasa kuliah turut berperan penting dalam menjalankan usaha, mulai dari pembukuan, strategi pemasaran, hingga manajemen waktu dan pengelolaan karyawan.
Dalam menjalankan usaha, Sri memegang teguh sejumlah prinsip yang menjadi kunci bertahannya RM Jambak hingga kini.
“Kerja keras, tanggung jawab, pantang menyerah, disiplin, sabar, jujur, dan ramah kepada pelanggan itu prinsip yang selalu saya pegang,” ujarnya.
Prinsip itu pula yang ia terapkan dalam menjaga kepercayaan pelanggan, mulai dari menyiapkan pesanan tepat waktu, menjaga kualitas rasa, memasang harga bersaing, hingga terbuka menerima kritik dan saran.
Bagi Sri, pencapaian terbesarnya adalah mampu mencukupi kebutuhan keluarga, menggaji lima karyawan setara UMR, dan membangun tempat usaha yang kini lebih representatif.
Ia pun berpesan kepada mahasiswa Unsoed dan anak muda lainnya yang ingin berwirausaha agar tidak mudah menyerah.
“Tetap semangat karena keberhasilan itu diperoleh melalui usaha yang keras. Segala kritik dan saran justru menjadi cambuk untuk memperbaiki diri,” pesan Sri.
Penulis: Zuha Alfi Zulaika
Editor: Vina Pratista
