
Sumber foto: Syamsul Ma’arif
Kendal, 17 September 2026
Reporter: Nabila Hannabel Kalila
Editor: Julie Putri Winansih
KENDAL – Syamsul Ma’arif membagikan pengetahuan kepada masyarakat Kendal melalui pendidikan, penelitian sejarah, konten digital, siniar, dan kegiatan jelajah sejarah. Aktivitas tersebut dilakukan untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat serta melestarikan sejarah dan budaya daerah.
Syamsul berlatar belakang pendidikan Bimbingan dan Konseling Islam. Ia kemudian menyelesaikan studi magister di bidang Sejarah Peradaban Islam. Pengetahuan yang diperolehnya digunakan untuk memberikan manfaat kepada masyarakat.
“Kalau saya diminta memperkenalkan diri bukan berdasarkan pekerjaan atau gelar, saya mungkin akan mengatakan bahwa saya seorang pembelajar yang berusaha menjadi orang yang bermanfaat,” ujar Syamsul (17/9/2026).
Syamsul meyakini bahwa ilmu perlu dibagikan agar dapat dipahami dan dimanfaatkan masyarakat.
“Ilmu sebaiknya tidak berhenti pada diri sendiri, tetapi harus memberikan manfaat kepada orang lain,” tegasnya.
Ia mengenalkan sejarah dan budaya Kendal melalui video, Instagram, TikTok, siniar, dan kegiatan luring. Media tersebut dipilih karena dekat dengan masyarakat, terutama generasi muda.
Menurut Syamsul, sumber sejarah tidak hanya berasal dari buku pelajaran. Arsip keluarga, bangunan lama, makam, tradisi, dan nama tempat juga dapat menjadi sumber informasi sejarah.
“Sulit mengharapkan seseorang menjaga sesuatu yang tidak ia kenal,” jelas Syamsul.
Syamsul memeriksa dan membandingkan sumber sebelum menyampaikan informasi kepada masyarakat. Ia tidak ingin membuat konten berdasarkan informasi yang menarik, tetapi tidak memiliki dasar yang dapat dipertanggungjawabkan.
Syamsul terlibat dalam Podcast Inspiratif Kendal. Program tersebut memberikan ruang kepada masyarakat yang memiliki pengalaman, karya, perjuangan, atau kontribusi di bidang masing-masing.
“Podcast Inspiratif Kendal bagi saya bukan hanya tentang mencari orang yang sukses, tetapi juga memberikan ruang kepada orang-orang yang memiliki pengalaman, perjuangan, karya, atau kontribusi yang layak didengar,” ungkapnya.
Kegiatan tersebut menghadapi tantangan berupa keterbatasan biaya, waktu, sumber sejarah, dan energi. Sebagian arsip sulit ditemukan sehingga membutuhkan penelusuran yang panjang.
Syamsul tidak membuat konten jika sumber informasinya belum memadai. Ia menerima kritik berbasis fakta dan sumber sejarah.
Kendal Tempo Dulu menjadi salah satu kegiatan yang menggambarkan kiprah Syamsul. Ia menelusuri arsip, membaca sumber lama, membuat konten, dan mengajak masyarakat mengenal sejarah Kendal melalui kegiatan tersebut.
Konten sejarah yang dibuatnya mendapat respons dari masyarakat. Beberapa orang mengirimkan foto, dokumen, dan arsip keluarga setelah melihat konten tersebut. Respons itu menunjukkan bahwa masyarakat dapat ikut menemukan dan mendokumentasikan sejarah daerah.
Syamsul ingin dikenal sebagai pembelajar yang menjadikan pengetahuannya bermanfaat bagi masyarakat.
“Kalau ada orang yang mengatakan, ‘Saya pernah belajar sesuatu dari Pak Syamsul,’ menurut saya itu sudah cukup berarti,” katanya.
Syamsul berpesan kepada generasi muda agar tidak menunggu sampai merasa sempurna untuk mulai berkarya. Mereka dapat memulai dari kemampuan dan lingkungan terdekat.
“Jangan hanya bertanya, ‘Apa yang bisa saya dapatkan?’ Sesekali tanyakan juga, ‘Apa yang bisa saya berikan?’” pesan Syamsul.
Upaya Syamsul menunjukkan bahwa pelestarian sejarah dapat dilakukan melalui keterlibatan masyarakat dan pemanfaatan teknologi.
