Oleh : Alfia Firqotun Najiyah
Editor : Adelia Rahma Wati
Minggu, 20 September 2026 │ 20.30 WIB

Sofi (ketiga dari kiri) bersama anggota SJP saat menggelar aksi simbolis menyuarakan kepedulian terhadap Palestina di area publik, Minggu (20/9/2026) pukul 20.30 WIB (Foto: Dokumentasi SJP)
Sudutnalar.com, PURWOKERTO — Keprihatinan terhadap ketidakadilan yang menimpa rakyat Palestina memanggil nurani Sofi untuk mengambil peran nyata. Ia memilih untuk bergabung dengan Students for Justice in Palestine (SJP) sejak semester dua masa perkuliahannya demi mencari wadah untuk menyuarakan ketidakadilan itu. Bagi Sofi, aksi individual di media sosial memiliki keterbatasan. Keberadaan wadah bersama menjadi kunci untuk memperkuat daya juang, menyuarakan keadilan, serta menyampaikan aspirasi kemanusiaan. Kini, memasuki semester lima perkuliahan, Sofi dipercaya mengemban amanah sebagai Ketua SJP sejak Maret lalu.
Menjabat sebagai ketua, Sofi mengaku belum merasakan pengalaman menonjol selama memimpin SJP karena perhatian publik sedang tersedot isu dalam negeri.
“Masyarakat Indonesia lagi disibukkan oleh masalah pribadi, bencana alam, hingga isu korupsi. Fokusnya terserap ke sana, sehingga isu Palestina jadi agak sulit masuk dan terasa kurang mendapat ruang,” ungkap Sofi.
Meski begitu, kenangan paling berkesan justru banyak ia ukir saat masih menjadi anggota biasa. Sofi tercatat telah empat kali mengikuti aksi massa ke Jakarta mewakili SJP. Pengalaman itu mengasah empati sekaligus memperluas sudut pandangnya terhadap politik global.
Aksi Kemanusiaan dan Model Gerakan Fleksibel
Mengenai operasional organisasi, Sofi menjelaskan bahwa SJP beroperasi secara fleksibel tanpa terikat aturan yang kaku. Seluruh pergerakan dirancang dinamis merespons isu yang berkembang melalui berbagai saluran, mulai dari kampanye digital hingga aksi fisik di tingkat lokal.
Di Purwokerto, SJP rutin menggelar aksi simbolis di ruang publik, seperti membentangkan spanduk dan poster tanpa orasi. Langkah sederhana ini diambil untuk merawat kesadaran masyarakat sekaligus menyuarakan bahwa kepedulian terhadap Palestina masih terus menyala.
Meskipun kepengurusan SJP diisi oleh mahasiswa, ruang partisipasi dalam agenda seperti seminar kepalestinaan tetap terbuka untuk pelajar, kaum profesional, hingga masyarakat umum. Bagi Sofi, mahasiswa adalah ruh utama penggerak aksi ini. Ia menyadari ada perbedaan mendasar antara aksi mahasiswa dengan lembaga kemanusiaan atau penggalangan dana pada umumnya.
“Kemewahan yang dimiliki mahasiswa adalah idealisme. Karena keterbatasan finansial, fokus utama gerakan kami berada pada jalur advokasi dan penyadaran publik,” tegas Sofi.
Menatap ke depan, Sofi memiliki harapan besar bagi keberlanjutan gerakan yang dipimpinnya. SJP yang semula hanya berskala komisariat kini telah melebarkan jangkauannya menjadi SJP Purwokerto agar dapat merangkul mahasiswa dari berbagai kampus, seperti UIN Saizu, Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP), dan Telkom University.
Menanggapi stigma soal prioritas isu lokal versus Palestina, Sofi menekankan pentingnya keseimbangan. Meski menghadapi kultur masyarakat lokal yang cenderung santai, ia tetap optimistis konsistensi SJP mampu terus merawat empati kemanusiaan di ruang publik.
