Reporter : Fadel Daren Nafisa
Editor : Happy Zahra Khairunnisa
SudutNalar, 20 September 2026

Glenys Lalita Aksani, Paskibraka Nasional 2024 (Dokumentasi: Glenys Lalita Aksani)
CILACAP, SudutNalar, 20 September 2026 — Di balik langkah tegap, sorot mata tajam, dan kesempurnaan formasi pasukan pengibar bendera yang disaksikan jutaan pasang mata di televisi, tersimpan sebuah cerita perjuangan panjang yang menguji batas fisik dan mental. Kisah inspiratif tersebut datang dari seorang remaja asal Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah. Glenys Lalita Aksani, siswi SMA Negeri 1 Sampang, berhasil mencatatkan sejarah membanggakan dengan terpilih sebagai anggota Paskibraka Nasional 2024 yang mewakili Provinsi Jawa Tengah, sekaligus mengemban amanah sebagai Purnapaskibraka Duta Pancasila (PDP).
Bagi Glenys, impian menjadi bagian dari pasukan pengibar bendera pusaka bukanlah hal yang muncul dalam semalam. Cita-cita itu telah bersemi sejak ia masih kanak-kanak.
“Waktu kecil, saya selalu nonton mereka di TV setiap upacara 17 Agustus. Saya berpikir, ‘Kok bisa ya anak SMA ketemu presiden, berjabat tangan, dan mengibarkan Sang Saka Merah Putih di Istana Negara?'” ungkap Glenys saat mengenang awal mula ketertarikannya pada dunia Paskibraka.
Seiring beranjak remaja, kekaguman masa kecil itu bertransformasi menjadi panggilan jiwa. Ketika memasuki bangku sekolah menengah, daya tarik utama dunia Paskibraka baginya bukan sekadar baris-berbaris, melainkan perpaduan antara kedisiplinan tinggi, ketegasan gerak, dan aura wibawa yang memancarkan wujud nyata cinta tanah air.
Langkah Glenys menuju panggung nasional tentu tidak ditempuh dengan jalan yang mudah. Sebelum dikirim untuk menjalani pemusatan pelatihan, ia telah melalui seleksi ketat mulai dari tingkat kabupaten hingga provinsi, di mana ia berhasil meraih nilai tertinggi. Tantangan terbesar yang harus ia taklukkan di sepanjang proses tersebut bukanlah para pesaingnya, melainkan keraguan di dalam diri sendiri.
“Menargetkan tingkat pusat sejak hari pertama mungkin terdengar ambisius, tapi bagi saya menanamkan keyakinan itu adalah sebuah keharusan mental. Saya tidak membiarkan keraguan atau overthinking mengambil alih pikiran,” ujar Glenys.
Proses seleksi yang ketat menuntutnya untuk disiplin menjaga kondisi fisik dan mental. Namun, ujian sesungguhnya ia rasakan saat masa karantina terpusat. Di bawah terik matahari, di tengah tekanan fisik yang berat, Glenys bersama rekan-rekan sesama anggota Paskibraka sempat diuji ketika menghadapi masalah kesehatan, seperti terserang demam dan gangguan pencernaan akibat penyesuaian lingkungan baru.
Di titik jenuh dan kelelahan fisik tersebut, sebuah momen berharga mengubah cara pandangnya secara drastis. Ketika formasi mereka sempat dinilai kurang kompak, seluruh anggota dikumpulkan bukan untuk saling menyalahkan, melainkan untuk saling menguatkan.
“Dari situ saya sadar, ego individu harus benar-benar dilebur. Keberhasilan misi ini tidak ditentukan oleh seberapa hebatnya saya secara pribadi, melainkan seberapa kuat kami saling menopang sebagai satu kesatuan pasukan,” tuturnya penuh penghayatan.
Di balik prestasinya yang gemilang, siswi asal Cilacap ini juga harus bergelut dengan manajemen waktu. Sebagai seorang pelajar, ia mengakui bahwa membagi waktu antara kewajiban akademik, latihan fisik yang intensif, serta waktu bersama keluarga dan teman bukanlah hal yang instan.
Glenys menerapkan prinsip mindfulness hadir sepenuhnya dan fokus 100 persen pada apa yang sedang dikerjakan. Dukungan penuh dari kedua orang tuanya yang selalu mendampingi, serta komunikasi yang terbuka dengan pihak sekolah, menjadi bahan bakar emosional terbesarnya untuk terus melangkah tanpa mengabaikan tanggung jawab sebagai pelajar.
Puncak dari segala pengorbanan dan air mata itu terbayar lunas ketika namanya diumumkan lolos sebagai delegasi tingkat pusat. Rasa tidak percaya, terharu, dan sadar akan tanggung jawab yang besar bergemuruh di dadanya. Terlebih lagi, ia bersama rekan sekotanya, Akmal Faiz Ali Khadafi, menjadi bagian dari 76 anggota Paskibraka Nasional yang dikukuhkan untuk mengukir sejarah bertugas langsung di Ibu Kota Nusantara (IKN) pada peringatan HUT ke-79 Kemerdekaan Republik Indonesia.

Prosesi pengibaran Sang Saka Merah Putih oleh Paskibraka Nasional 2024
(Dokumentasi: Glenys Lalita Aksani)
“Saat kaki ini melangkah di lapangan upacara di Istana IKN di bawah langit Nusantara, seluruh rasa lelah berbulan-bulan hilang seketika. Rasanya sangat khidmat, merinding sekujur badan, dan sadar bahwa kami sedang menjadi pelaku sejarah transisi bangsa,” kenang Glenys dengan penuh haru.
Pengalaman panjang di kancah nasional memberikan dampak transformatif yang besar bagi kepribadian Glenys. Perubahan itu mencakup tiga hal utama: cara berpikir, kedisiplinan, dan cara menghadapi masalah. Kedisiplinan baginya kini bukan sekadar aturan formal, melainkan wujud tanggung jawab moral bahwa kelalaian kecil seseorang dapat berdampak bagi tim.
Selain itu, posisinya sebagai Purnapaskibraka Duta Pancasila (PDP) dimaknainya bukan sekadar gelar seremonial. Ia bertekad menjadi jembatan hidup bagi nilai-nilai luhur bangsa di kalangan generasi muda mulai dari menumbuhkan toleransi antar-keyakinan, aktif menjaga persatuan di ruang digital agar terhindar dari disinformasi, hingga mengedepankan musyawarah dalam setiap pemecahan masalah.
Perjalanan Glenys Lalita Aksani membuktikan bahwa impian besar yang diiringi dengan persiapan matang, doa orang tua, mental baja, serta kerja keras tidak akan pernah mengkhianati hasil. Dari bilik kelas di SMA Negeri 1 Sampang, Kabupaten Cilacap, hingga panggung kenegaraan di IKN, Glenys telah menjelma menjadi inspirasi nyata bagi generasi muda Indonesia untuk berani bermimpi dan tulus berbakti bagi negeri.
