Penulis : Happy Zahra Khairunnisa
Editor : Fadel Daren Nafisa
SudutNalar, 21 September 2026

Nafi saat mengajar anak-anak di PAUD Al-Amanah Pajerukan
(Foto: Dok. Pribadi/Happy Zahra Khairunnisa)
PAJERUKAN, SudutNalar, 21 September 2026 — Melihat senyum lepas para guru dan keriangan anak-anak desa menjadi muara perjalanan panjang dedikasi Nafi Fajarria Winarti. Wanita yang akrab disapa Bunda Nafi ini merupakan pendiri sekaligus penggerak utama PAUD Al-Amanah Pajerukan, Kalibagor. Melalui konsistensinya memajukan desa tanpa mencari keuntungan pribadi, ia menunjukkan jiwa seorang pendidik sejati.
Setelah merintis dan mengelola lembaga tersebut secara mandiri sejak 2011, perjuangan Nafi akhirnya menemui titik terang pada 2021. Ia resmi menyerahkan pengelolaan PAUD Al-Amanah kepada Pemerintah Desa Pajerukan demi menjamin masa depan sekolah dan meningkatkan kesejahteraan para guru. Pascapenyerahan yayasan tersebut, Nafi kini mengemban amanah baru sebagai Kepala Sekolah PAUD Al-Amanah untuk tetap mendampingi tumbuh kembang anak-anak desa.
“Perasaan saya sangat lega. Dari awal mendirikan PAUD ini tujuannya memang untuk desa, bukan komersil. Ketika desa akhirnya mau mengelola, amanah ini terasa sudah sampai di rumah yang tepat,” ungkap Nafi penuh haru.
Perjalanan PAUD Al-Amanah dimulai pada 2011. Lahir dari keluarga pendidik, hati Nafi tergerak saat melihat Desa Pajerukan belum memiliki sarana pendidikan anak usia dini. Pihak desa yang kala itu belum tergerak untuk mendirikan PAUD mendorong Nafi untuk berani melangkah mendirikan yayasan pribadi demi melayani anak-anak di desanya.
Namun, mengelola lembaga secara mandiri bukan tanpa hambatan. Tantangan terberat muncul saat harus mengupayakan honor para pengajar yang dulu hanya Rp200.000 per bulan. Keterbatasan dana yayasan sempat membuat pengelolaan berada di titik jenuh.
Momen titik balik terjadi pada 2021 ketika pihak desa mulai menyadari krusialnya keberadaan PAUD. Niat awal Nafi yang sejak dulu merindukan keterlibatan desa akhirnya terwujud. Penyerahan PAUD ini berdampak nyata pada kesejahteraan para pengajar, terbukti dari honor guru yang kini meningkat hingga Rp600.000 per bulan.
Di tengah minimnya perhatian terhadap pendidikan anak usia dini dibanding jenjang formal, terutama soal kesetaraan kesejahteraan pengajar, Nafi justru menemukan alasan untuk bertahan. Kecintaannya pada masa emas anak (golden age) menjadi motor penggerak utamanya.
“Kalau sudah lulus S1, kebanyakan pengajar memilih ke sekolah formal karena kesejahteraannya lebih terjamin dari pemerintah. Pendidikan anak usia dini masih belum banyak dilihat. Justru alasan itulah yang membuat saya semakin semangat dan bertahan di sini,” tegas Nafi.
Tak hanya itu, PAUD Al-Amanah di bawah kepemimpinannya juga terbuka bagi anak-anak berkebutuhan khusus (ABK). Momen saat melihat anak berkebutuhan khusus mengalami perkembangan pesat hingga siap melangkah ke jenjang TK dan SD menjadi salah satu kenangan paling berkesan dalam perjalanan pengabdiannya.
Guna menjaga semangat para pengajar di tengah keterbatasan, Nafi rutin menggelar pertemuan bulanan dan pelatihan. Wadah ini digunakan untuk saling menguatkan komitmen dan menanamkan prinsip bahwa fondasi utama PAUD adalah pembentukan karakter, keislaman, adab, akhlak, tanggung jawab, serta kepercayaan diri anak.
Meski kini telah berganti peran dari Ketua Yayasan menjadi Kepala Sekolah, harapan Nafi untuk pendidikan anak usia dini di Pajerukan tidak pernah surut. Ia menitipkan pesan mendalam bagi para orang tua dan masyarakat luas.
“Masa emas anak dari usia dua sampai lima setengah tahun itu sangat terbatas dan tidak bisa terulang. Di situlah fondasi karakter anak dibentuk melalui bermain, agar mereka siap menghadapi jenjang pendidikan yang lebih tinggi,” tuturnya.
Melalui alih kelola PAUD Al-Amanah ke tangan desa, Nafi tidak hanya berhasil menuntaskan niat mulianya sejak 2011, tetapi juga terus melanjutkan pengabdiannya sebagai Kepala Sekolah dengan penuh ketulusan demi masa depan anak-anak Pajerukan.
