Penulis : Blandina Webiser
Editor : Tsany Putri Hardiyanti

Sumber: Blandina Webiser 1.1
PURWOKERTO, 21 September 2026 — Di balik padatnya aktivitas akademik dan tanggung jawabnya sebagai pimpinan, Prof. Dr. Tyas Retno Wulan, S.Sos., M.Si. tetap menjalankan pengabdiannya di bidang pendidikan dan ilmu sosial. Sebagai Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan, Alumni, dan Kerja Sama FISIP Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), ia bertanggung jawab atas pembinaan 29 Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) dan Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ), serta pusat karier Career Development Center (CDC).
Pada 5 Juni 2026, akademisi yang akrab disapa Ibu Tyas tersebut dilantik sebagai Ketua Umum Asosiasi Program Studi Sosiologi Indonesia (APSSI) periode 2026–2030. Ia mengemban amanah untuk memimpin sekitar 150 program studi sosiologi di Indonesia. Melalui organisasi tersebut, ia ingin memperkuat kerja sama antarprogram studi, menyatukan standar mutu pendidikan, serta mendorong keterlibatan ilmu sosial dalam perumusan kebijakan publik.
“Pembangunan tanpa melibatkan ilmu sosial hanya akan menyisakan persoalan baru, seperti konflik sosial dan kesenjangan. Di sinilah sosiolog harus hadir memberi pertimbangan,” tutur Ibu Tyas.
Menyelami Haru di Negeri Jihan dan Hongkong

Sumber: Prof. Dr. Tyas Retno Wulan 1.2
Kepakaran Ibu Tyas di bidang Sosiologi Gender dan Migrasi Internasional tidak hanya diperoleh melalui teori. Minat tersebut tumbuh sejak 2008 ketika ia memutuskan tinggal selama empat bulan bersama pekerja migran Indonesia (PMI) di Hong Kong. Ia mengamati kehidupan sehari-hari para pekerja migran dan mempelajari social remittance, yaitu transfer pengetahuan, nilai sosial, dan gagasan yang dibawa pekerja migran ke daerah asal.
Pengalaman tersebut semakin membentuk kepeduliannya terhadap persoalan migrasi. Salah satu pengalaman yang berkesan terjadi ketika ia mengikuti Program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Internasional di Sarawak, Malaysia. Di sana, ia menyaksikan kehidupan anak-anak pekerja migran asal Nusa Tenggara Timur, Bugis, hingga Sulawesi.

Sumber: Prof. Dr. Tyas Retno Wulan 1.3
Keterbatasan akses terhadap pendidikan formal akibat regulasi setempat membuat anak-anak tersebut harus belajar di sekolah swadaya dengan fasilitas seadanya. Namun, kondisi tersebut tidak memadamkan semangat mereka untuk belajar.
“Melihat semangat belajar anak-anak itu luar biasa menyentuh. Meski hidup dalam keterbatasan di negeri orang, mereka memiliki prestasi, kreativitas, dan cita-cita mulia untuk membawa orang tuanya pulang kembali ke Indonesia,” kenangnya.
Terkait maraknya kasus Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO), Ibu Tyas memberikan pandangannya. Menurutnya, bekerja di luar negeri merupakan hak dan peluang untuk meningkatkan kesejahteraan, khususnya bagi perempuan. Namun, kesempatan tersebut harus disertai edukasi dan perlindungan hukum. Menurutnya, pencegahan TPPO dapat dilakukan dengan memastikan keberangkatan melalui jalur resmi serta memahami hukum dan budaya negara tujuan.
Respon Cepat, Ketangguhan, dan Integritas Harga Mati
Menjalankan tanggung jawab sebagai pimpinan kampus, pengurus organisasi tingkat nasional, dan peneliti membutuhkan ritme kerja yang tinggi. Ibu Tyas kerap melakukan perjalanan ke luar kota, termasuk menggunakan kereta pada malam hari, kemudian kembali ke kampus untuk menjalankan tugasnya.
Di tengah kesibukannya, ia menjaga kebugaran dengan rutin berolahraga setiap pagi sebelum bekerja. Ia memilih berjalan kaki atau berenang untuk menjaga stamina dan ketangguhan diri.
“Dalam menjalani karier dan kehidupan, ada dua prinsip utama yang selalu saya pegang teguh. Pertama, integritas adalah harga mati. Jangan pernah mengambil apa yang bukan menjadi hak kita. Kedua, no pain no gain, tidak ada keberhasilan tanpa perjuangan dan pengorbanan,” tegasnya.
Pesan untuk Generasi Muda dan Harapan Kesetaraan
Kepada mahasiswa dan generasi muda, Ibu Tyas berpesan agar tidak menjadi pribadi yang “mageran” atau cepat puas. Menurutnya, belajar tidak hanya dilakukan di ruang kelas, tetapi juga melalui pergaulan, perjalanan, dan keterbukaan terhadap ilmu dari berbagai pihak.
Ia juga berharap semakin banyak perempuan Indonesia yang berdaya dan cerdas. Menurutnya, perempuan masih sering dipandang sebelah mata atau dinomorduakan.
“Saya bermimpi makin banyak perempuan Indonesia yang berdaya dan cerdas. Perempuan sering kali masih dipandang sebelah mata atau dinomor duakan. Cara terbaik untuk mengubah stigma itu adalah dengan membuktikan kapasitas diri kita sendiri, lalu menggunakan kecerdasan itu untuk membawa perubahan positif bagi masyarakat luas,” pungkasnya.
