
Sumber Foto: Pujo Laksono
Reporter: Julie Putri Winasis
Editor: Nabila Hannabel Kalila
PEMALANG, 18 September 2026 –Impian menjadi pemain sepak bola pernah dimiliki Pujo Laksono, tetapi impian tersebut belum terwujud. Namun, Pujo memilih untuk tetap berada di dunia olahraga melalui perwasitan futsal dan sepak bola.
“Dulu saya memiliki motivasi untuk menjadi pemain sepak bola, tetapi cita-cita tersebut belum terwujud. Akhirnya, saya menekuni dunia perwasitan, terutama futsal dan sepak bola,” ungkap Pujo.
Perwasitan menjadi bagian dari perjalanan Pujo sebagai guru Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (PJOK). Ia menekuni bidang tersebut untuk meningkatkan kompetensi yang masih berkaitan dengan ilmu olahraga yang dipelajarinya.
Di dunia perwasitan, Pujo tidak hanya mempelajari aturan permainan. Ia juga memperoleh pengetahuan mengenai berbagai aspek futsal, termasuk pentingnya pembinaan untuk menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas. Lingkungan perwasitan memberinya kesempatan untuk memperluas relasi dan mengenal beragam karakter pemain.
Pengalaman di lapangan membentuk prinsip yang dipegang Pujo hingga kini. Ia berusaha menjalankan tugas secara humanis dan tegas serta tetap memberikan ruang kepada pemain untuk menyampaikan pendapat. Rasa hormat dan fair play menjadi nilai yang selalu diutamakannya.
“Seorang wasit harus memahami bahwa setiap keputusan memiliki konsekuensi. Saya harus lebih teliti dalam mengambil keputusan dan memahami sebab-akibat dari keputusan yang diambil,” ujar Pujo.
Pengalaman tersebut membuat Pujo memahami bahwa tugas seorang wasit tidak berhenti pada penerapan aturan. Wasit juga perlu membaca situasi dan mempertimbangkan berbagai hal sebelum menentukan tindakan.
Tekanan tetap menjadi bagian yang harus dihadapi Pujo ketika memimpin pertandingan. Situasi dapat memanas ketika tempo permainan meningkat dan keputusan wasit mendapat protes dari tim yang bertanding.
Pujo memilih mengamati keadaan sebelum bertindak. Ia menerapkan prinsip wait and see dan berpedoman pada Laws of the Game. Ketika suasana mulai memanas, ia menurunkan tempo permainan dan memanggil kedua kapten agar keadaan kembali kondusif.
“Kalau pertandingan penuh protes dan tensinya tinggi, ketenangan dalam pengambilan keputusan adalah hal yang paling penting,” katanya.
Dunia perwasitan menjadi ruang bagi Pujo untuk terus berkembang. Ia memperoleh wawasan baru dan memperluas relasi dengan berbagai pihak di lingkungan futsal.
“Semangat berproses dan harus lebih berani dalam hal lain. Jangan hanya belajar dalam satu bidang. Menjadi wasit adalah jembatan untuk menambah wawasan dan meningkatkan relasi,” kata Pujo (18/9/2026).
Bagi Pujo, dunia perwasitan bukan sekadar tempat menjalankan tugas, melainkan jalan untuk terus belajar dan berkembang. Cita-cita menjadi pemain sepak bola yang belum terwujud justru membawanya menemukan peran lain yang tetap membuatnya dekat dengan dunia olahraga.
