Oleh – Clariska Nareswari
Editor – Aila Fikrotun Nida
SudutNalar, 19 September 2026

(Sumber: Badrun)
TEGAL, SudutNalar — Keberhasilan tidak pernah memandang latar belakang sosial maupun ekonomi seseorang. Hal ini dibuktikan secara nyata oleh Badrun (74 tahun), seorang putra petani yang berhasil menembus keterbatasan hingga tumbuh menjadi sosok pendidik yang dihormati, pendiri lembaga pendidikan, serta kepala sekolah yang dianugerahi penghargaan kehormatan oleh Presiden Republik Indonesia.
Lahir sebagai anak sulung dari 12 bersaudara, yaitu tiga perempuan dan sembilan laki-laki, Badrun tumbuh dalam kondisi ekonomi keluarga yang sangat bersahaja. Sebagai anak tertua, ia memikul tanggung jawab moral yang besar untuk membantu kedua orang tuanya sekaligus memastikan adik-adiknya bisa mengenyam pendidikan yang layak.
“Prinsip saya sederhana, bagaimana caranya adik-adik saya minimal harus bisa tamat SLTP dan SLTA. Keterbatasan ekonomi tidak boleh memadamkan cita-cita mereka,” ujar Badrun mengenang masa-masa awal perjuangannya.
Perjuangan Badrun menuntut ilmu tidaklah mudah. Selepas lulus SMK, ia melanjutkan studi ke jenjang Pendidikan Guru Sekolah Lanjutan Pertama (PGSLP) di Brebes yang berpusat di Surakarta. Demi membiayai kuliahnya secara mandiri, ia rela bekerja keras mengolah sawah sebagai petani sambil menempuh perjalanan jauh mengendarai bus antarkota setiap hari.
Kerja keras dan mandi keringat itu akhirnya membuahkan hasil manis ketika Badrun berhasil mengantongi ijazah PGSLP pada tahun 1979. Pengorbanannya tak hanya mengubah jalan hidupnya sendiri, tetapi juga membuka jalan bagi adik-adiknya yang kelak sukses meraih masa depan cerah sebagai anggota TNI, guru, hingga wiraswasta.
Setamat kuliah, Badrun mulai mengabdi sebagai guru honorer pengampu mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial di SMP Dharma Bakti Slawi, yang kala itu merupakan salah satu sekolah swasta terbesar di Kabupaten Tegal. Berkat dedikasi dan kinerjanya yang menonjol, pada tahun 1981 ia berhasil lolos seleksi Pegawai Negeri Sipil Provinsi Jawa Tengah dan resmi diangkat menjadi CPNS.
Rasa kepedulian Badrun terhadap dunia pendidikan masyarakat tidak berhenti di dalam ruang kelas formal saja. Pada tahun 1995, ia merintis pendirian Taman Pendidikan Al-Qur’an di lingkungan tempat tinggalnya. Empat tahun berselang, tepatnya pada 1999, TPQ tersebut resmi terdaftar di Kementerian Agama Kabupaten Tegal.
Tak berhenti di situ, pada tahun 2000 Badrun menggerakkan gotong royong bersama warga RW 03 Kelurahan Procot untuk membangun gedung TPQ permanen yang dilengkapi dua ruang belajar dan satu ruang kantor. Semangatnya membina usia dini berlanjut pada tahun 2010, ketika ia menginisiasi pendirian Pos PAUD Melati 3 melalui swadaya masyarakat di lokasi yang sama.
Puncak karier Badrun di sekolah formal diukir pada tahun 2009 saat ia dipercaya menjabat sebagai Kepala Sekolah SMP Dharma Bakti Slawi. Atas pengabdian dan kontribusi panjangnya terhadap dunia pendidikan nasional, ia dianugerahi Piagam Tanda Kehormatan langsung dari Presiden Republik Indonesia saat itu, Susilo Bambang Yudhoyono.
“Bekerja keraslah tanpa henti sampai kamu berhasil menggapai mimpimu. Apapun latar belakangmu, ketulusan dan usaha tidak akan pernah mengkhianati hasil,” tutur Badrun memberikan pesan motivasi bagi generasi muda.
Badrun resmi memasuki masa purna bakti sebagai PNS pada tahun 2012. Kendati demikian, dedikasi dan kepemimpinannya masih sangat dibutuhkan sehingga pihak yayasan memperpanjang masa tugasnya hingga tahun 2014 untuk terus memimpin dan membimbing sekolah tersebut. Perjalanan hidup Badrun menjadi inspirasi hangat bagi warga Tegal bahwa seorang anak petani pun mampu bertransformasi menjadi pilar utama pendidikan bagi masyarakat luas.
