Penulis: Tsany Putri Hardiyanti
Editor: Azzah Egynara

Sumber: Ibu Yusmini S.Pd
Banjar, 18 September 2026 β Menjadi guru Bimbingan dan Konseling (BK) bukan sekadar membantu siswa ketika menghadapi masalah. Bagi Ibu Yusmini, S.Pd., menjadi guru BK merupakan proses untuk terus belajar memahami berbagai karakter dan latar belakang siswa.
Ibu Yusmini telah menjadi guru BK di SMK Negeri 2 Banjar sejak 2010. Ketertarikannya terhadap profesi tersebut muncul dari pengalaman dalam membantu siswa menyelesaikan berbagai permasalahan. Menurutnya, setiap siswa memiliki karakter dan latar belakang yang berbeda sehingga seorang guru BK harus terus belajar untuk memahami mereka.
βSemakin banyak tahu latar belakang orang, semakin belajar berbagai karakter,β ujar Ibu Yusmini.
Sebagai guru BK, tugas utama Ibu Yusmini adalah menjadi konselor bagi siswa. Ia berusaha membantu siswa agar mampu menyelesaikan masalahnya secara mandiri, terutama dalam menghadapi persoalan mental dan menentukan arah hidup. Dalam memberikan bimbingan, ia berusaha tidak melakukan intervensi maupun menghakimi siswa.
Selain membantu menyelesaikan masalah, Ibu Yusmini juga mendampingi siswa dalam merencanakan masa depan dan karier. Hal tersebut menjadi penting karena siswa SMK berada pada masa transisi remaja yang terkadang masih mengalami kebingungan dalam mengambil keputusan. Tidak sedikit siswa yang masih mempertanyakan pilihan setelah lulus sekolah, seperti apakah akan bekerja atau melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.
Permasalahan yang dihadapi siswa juga beragam, mulai dari persoalan pertemanan, percintaan, hingga kondisi keluarga. Karena itu, menurut Ibu Yusmini, memahami latar belakang keluarga dan kondisi siswa menjadi bagian penting dalam memberikan pendampingan.
Namun, menjalankan peran sebagai guru BK juga memiliki tantangan. Salah satunya adalah membentuk karakter siswa secara berkelanjutan ketika kurang mendapat dukungan dari lingkungan dan orang tua. Menurutnya, pembentukan karakter tidak dapat dilakukan hanya oleh sekolah. Peran orang tua dalam membimbing dan memperhatikan kebiasaan anak juga sangat diperlukan.
Salah satu pengalaman yang paling berkesan bagi Ibu Yusmini adalah ketika ia dapat menyelesaikan permasalahan siswa sesuai dengan alur BK melalui kerja sama dengan wali kelas, wakil kepala sekolah, pihak sekolah, serta dukungan orang tua. Baginya, keberhasilan dalam menyelesaikan masalah melalui kerja sama tersebut memberikan kepuasan karena ia merasa dapat menjalankan tugas sebagai guru BK dengan baik.
Sebaliknya, kurangnya dukungan dari lingkungan dapat menjadi kendala dalam proses pendampingan siswa. Oleh karena itu, komunikasi dan kerja sama antara sekolah, orang tua, dan siswa menjadi hal yang penting.
Di akhir wawancara, Ibu Yusmini menyampaikan pesan kepada para siswa agar mulai memikirkan masa depan dan belajar mencintai diri sendiri.
βAnak harus tahu masa depan. Sebelum mencintai orang, cintai diri sendiri. Cinta paling tulus adalah cinta keluarga. Masa depan tidak instan, tetapi membutuhkan kegigihan,β pesannya.
Bagi Ibu Yusmini, menjadi guru BK bukan hanya tentang menyelesaikan masalah siswa, tetapi juga mendampingi mereka agar mampu mengenali diri, mengambil keputusan, dan mempersiapkan masa depan dengan lebih baik.
