Oleh – Aila Fikrotun Nida
Editor – Clariska Nareswari
Senin, 21 September 2026

Sumber: Hesti Kurniasih
SUDUTNALAR.COM, PURWOKERTO – Keterbatasan ekonomi tak lantas menyurutkan langkah Hesti Kurniasih (23) untuk meraih mimpi. Berasal dari keluarga sederhana, gadis ini berhasil membuktikan bahwa latar belakang ekonomi bukan penghalang untuk berprestasi dan meraih cita-cita. Hesti tumbuh di tengah keluarga kelas menengah yang sangat peduli pada pendidikan. Ayahnya bekerja sebagai montir dengan bengkel yang berada di rumah, sementara sang ibu merupakan ibu rumah tangga. Meski hidup sederhana, Hesti mengaku tak pernah merasa kekurangan berkat kasih sayang dan perjuangan besar kedua orang tuanya.
Sebelum melangkah ke jenjang perguruan tinggi, jalan yang ditempuh Hesti tidaklah mulus. Keputusannya untuk melanjutkan pendidikan sempat mendapat keraguan dari keluarga besar. “Dulu sebelum masuk universitas, dari keluarga besar kurang memberikan dukungan, bahkan memandang sebelah mata. Ada yang meragukan, bisa kuliah pakai uang dari mana,” ungkap Hesti. Namun, keraguan tersebut justru dipatahkan oleh semangat kedua orang tuanya. Orang tua Hesti yang dulunya terpaksa terputus sekolah karena kendala biaya memiliki tekad kuat agar anak mereka tidak mengalami nasib yang sama.
Menyadari tantangan finansial yang dihadapi keluarganya, Hesti tak tinggal diam. Sejak semester 4 kuliah, ia mulai mengajar privat dan tidak lagi bergantung pada orang tua. Tak hanya itu, ia juga aktif mengikuti berbagai perlombaan. “Aku ikut lomba bukan sekadar mengejar kemenangan, tapi mengincar hadiah uangnya untuk tambahan uang jajan,” kenangnya. Perjuangannya berbuah manis. Hesti berhasil meraih predikat cumlaude saat kelulusan dan berkesempatan menginjakkan kaki di luar negeri melalui program magang internasional di Thailand.
Meskipun mengambil jurusan Sastra Inggris yang mencakup bidang luas seperti jurnalistik, penerjemahan, hingga presenter. Hesti akhirnya menyadari bahwa passion utamanya adalah mengajar. Pengalamannya mengajar di magang internasional Thailand, menjadi tutor bimbel, hingga menjadi pengajar kegiatan ekstrakurikuler di SD Al-Irsyad makin memantapkan pilihannya. Pada semester 7, Hesti mendaftar di Kursus Bahasa Inggris Britania Purwokerto dan terus mengajar di sana hingga saat ini. Saat ini, selain bekerja sebagai pengajar yang mandiri secara finansial, Hesti yang menempuh kehidupan di pesantren juga tetap rutin mengaji. Ia merasa sangat bersyukur dapat menjalani kehidupan yang seimbang antara dunia dan akhirat.
Menutup kisahnya, Hesti memberikan motivasi kepada para generasi muda yang sedang berjuang mengejar cita-cita. “Untuk teman-teman yang lagi mengejar cita-cita, semangat! Jangan pernah berhenti mengejar apa yang kamu inginkan. Karena kalau Allah sudah berkehendak, Kun Faya Kun, pasti jadi. Minta terus kepada Allah, Dialah Yang Maha Segalanya,” pungkas Hesti.
