SUDUTNALAR,COM, 22 September 2026

Sumber: Syifa Dyah Puspita
Reporter: Zakia Indah Pratiwi J1D025121
Editor: Firdaus Novri Alamsyah J1D025005
BANYUMAS, SUDUTNALAR – Syifa Dyah Puspita, mahasiswi Program Studi Teknologi Pangan Universitas Jenderal Soedirman (UNSOED), terus menorehkan prestasi di bidang kepemudaan, pariwisata, dan lingkungan. Perempuan asal Banyumas tersebut kini mengemban peran sebagai Mbekayu Banyumas 2025 sekaligus finalis Putri Otonomi Indonesia Duta Olahraga 2026. Ia juga berhasil meraih penghargaan Best Project dalam ajang tersebut melalui project plan yang disusunnya.
Dalam ajang tersebut, Syifa membawa isu lingkungan melalui program SAWARSA (Satu Warga Satu Aksi) sebagai upaya mendukung terwujudnya Banyumas Nirlimbah 2028. Program ini menjadi wujud komitmennya terhadap keberlanjutan lingkungan dan pembangunan daerah.
Sejak duduk di bangku sekolah, Syifa telah aktif mengikuti berbagai organisasi, mulai dari Pramuka dan Dewan Kerja Ranting hingga kegiatan kepemudaan dan keterampilan berbicara di depan umum di tingkat perguruan tinggi. Saat berkuliah, ia dipercaya menjadi Wakil Ketua Forum Genre Banyumas. Ia juga berhasil meraih gelar Harapan II Duta Genre UNSOED 2024.
Puncak perjalanan prestasinya terjadi pada 2025 ketika Syifa terpilih sebagai Mbekayu Banyumas. Gelar tersebut menjadikannya Duta Pariwisata Kabupaten Banyumas. Tidak berhenti di situ, ia kemudian mewakili Banyumas dalam ajang Putri Otonomi Indonesia 2026 dengan membawa program lingkungan sebagai bentuk kepeduliannya terhadap keberlanjutan daerah.
Di balik berbagai prestasi yang diraihnya, Syifa mengaku pernah menghadapi tantangan, terutama yang berasal dari dalam dirinya sendiri, seperti rasa takut gagal dan terlalu banyak berpikir. Ia mengatasi hal tersebut dengan terus mencoba meskipun belum merasa sepenuhnya siap. “Kita tidak harus menunggu menjadi sempurna untuk mengambil kesempatan,” katanya.
Motivasi utama Syifa mengikuti pemilihan Duta Pariwisata Banyumas adalah keinginannya untuk mengenal dan memperkenalkan potensi daerah dengan lebih luas. Menurutnya, Banyumas memiliki kekayaan yang lengkap, mulai dari alam, budaya, kuliner, hingga masyarakat yang ramah.
Sebagai Duta Pariwisata, Syifa menekankan pentingnya pemanfaatan media digital untuk mempromosikan potensi Banyumas. Menurutnya, promosi tidak cukup dilakukan dengan mengunggah foto destinasi, tetapi juga perlu membangun narasi melalui video pendek, Reels, dan TikTok. Konten tersebut dapat menyajikan pengalaman wisata, kuliner khas, serta cerita budaya Banyumas secara lebih menarik dan dekat dengan generasi muda.
Syifa juga ingin melibatkan generasi muda dan komunitas lokal bukan hanya sebagai sasaran promosi, tetapi sebagai pelaku pariwisata. “Kalau anak muda diberikan ruang untuk berkreasi dan masyarakat lokal dilibatkan, pariwisata akan terasa lebih hidup dan berkelanjutan,” jelasnya. Menurut Syifa, tugas utama Duta Pariwisata Banyumas adalah menjadi komunikator dan penghubung antara potensi daerah dengan masyarakat. Tanggung jawab tersebut mencakup mempromosikan pariwisata dan budaya, membangun jejaring, serta mengajak masyarakat untuk mengenal dan menjaga potensi lokal.
“Seorang duta harus bisa menjadi jembatan antara potensi Banyumas dan orang-orang yang belum mengenalnya,” pungkas Syifa.
Kepada generasi muda yang ingin berprestasi tetapi masih merasa ragu, Syifa berpesan agar tidak menunggu munculnya rasa percaya diri untuk mulai melangkah. Menurutnya, rasa percaya diri justru akan tumbuh setelah seseorang berani mencoba.
“Rasa percaya diri justru muncul setelah kita berani mencoba. Jangan terlalu sibuk membandingkan perjalanan kita dengan orang lain,” katanya.
Syifa berharap dapat terus mengembangkan kemampuan di bidang komunikasi, konten digital, dan dampak sosial. Ia juga ingin menciptakan gerakan yang mampu membuat generasi muda semakin bangga terhadap daerahnya sendiri.
