sudutnalar, 22 September 2026

PURWOKERTO, SUDUTNALAR – Menuntut ilmu tidak selalu berhenti di bangku pendidikan formal. Bagi Ustadz Mahmud Salim, ilmu menjadi bagian dari perjalanan hidup yang terus dijalani sekaligus menjadi bekal untuk berdakwah kepada masyarakat. Lahir di Sleman, Yogyakarta, pada 10 Januari 1991, Ustadz Mahmud Salim kini menempuh perjalanan akademik dan keagamaan yang membawanya hingga ke sejumlah negara.
Ustadz Mahmud Salim menempuh pendidikan S1 di Al-Ahgaff University, Yaman, dengan mengambil program studi Syariah. Ketertarikannya terhadap ilmu agama telah tumbuh sejak berada di lingkungan pesantren. Beliau pernah menempuh pendidikan nonformal di Pondok Pesantren Al-Fatah, Temboro, Jawa Timur. Selain itu, selama berada di Yaman juga pernah belajar di sejumlah pesantren di negara tersebut.
Setelah menyelesaikan pendidikan sarjana, beliau kembali melanjutkan studi magister di Universitas Muhammadiyah Purwokerto jurusan PAI dan Universitas Ibn Khaldun Bogor jurusan Ekonomi Syariah. Saat ini, Ustadz Mahmud Salim tengah menempuh pendidikan doktoral di PTIQ Jakarta program studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir. Keputusan untuk terus melanjutkan pendidikan tidak lepas dari nilai yang ia dapat di pesantren. Menurut beliau, pesantren mengajarkan dua hal penting, yaitu mencintai ilmu dan mengabdikan ilmu tersebut kepada orang lain.
Perjalanan tersebut juga diwarnai berbagai tantangan. Selama lima tahun menempuh pendidikan di Yaman, Ustadz Mahmud harus hidup jauh dari keluarga. Ketika menjalani aktivitas di luar negeri, beliau juga harus beradaptasi dengan perbedaan budaya. Namun, pengalaman tersebut justru menjadi bagian dari proses belajarnya.
“Dengan kita tahu banyak hal, kita semakin terbiasa, tidak kaget ketika menghadapi hal-hal yang mungkin berbeda,” ujarnya.
Di tengah perjalanan akademiknya, beliau aktif dalam berbagai kegiatan keagamaan. Ustadz Mahmud Salim juga menjadi pimpinan Pondok Pesantren Tahfidz Al Fakhri yang terletak di Desa Karangtengah, Kecamatan Sampang, Kabupaten Cilacap. Beliau juga sering mengisi kajian di sejumlah masjid dan kegiatan keagamaan, baik di Indonesia maupun luar negeri.
Melalui program PBNU, Ustadz Mahmud mendapat kesempatan mengisi kajian di Korea Selatan. Di sana, beliau berdakwah di tengah komunitas diaspora yang mayoritas berasal dari Indonesia, sekaligus mempelajari budaya masyarakat setempat. Selain itu, pada September 2026 ini beliau juga mendapat kesempatan untuk mengisi kajian keagamaan di California, Amerika Serikat, selama 6 bulan.
Pengalamannya juga melampaui dunia pendidikan dan dakwah. Ia pernah bekerja di Oman dan pernah menjadi petugas haji di Arab Saudi selama tiga bulan. Berbagai perjalanan tersebut mempertemukannya dengan lingkungan dan pengalaman baru.
Di balik perjalanan tersebut, orang tua, keluarga, dan guru menjadi sosok yang paling berpengaruh baginya. Salah satunya Prof. Abdullah Baharun, rektor sekaligus pengasuh pondok pesantren ketika beliau menempuh pendidikan di Yaman. Dari para gurunya, beliau belajar untuk terus berikhtiar, bertakwa, dan mengembalikan hasil usaha kepada Allah.
Bagi Ustadz Mahmud, pendidikan juga menjadi bagian penting dalam kegiatan dakwah. Menurutnya seseorang perlu memiliki ilmu sebelum menyampaikannya kepada orang lain. Karena itu, beliau terus mendorong dirinya untuk belajar dan menambah pengetahuan setiap hari.
“Ditekuni apa yang menjadi pilihannya, dipelajari dengan cinta. Karena kalau kita belajar dengan cinta itu tidak ada capeknya,” ujarnya.
Hingga kini, beliau terus menjalani pendidikan dan kegiatan keagamaan sebagai bagian dari pengabdian. Baginya, setiap hari harus menghadirkan tambahan ilmu, pengalaman, atau manfaat. Prinsip tersebut menjadi pegangan untuk terus belajar sekaligus memberikan manfaat kepada masyarakat.
Penulis: Fatma Cita Khoirunnisaa
Editor: Zahira Admira Mafaz
