sudutnalar.com, 22 September 2026

KEBUMEN, SUDUTNALAR – Di tengah perkembangan zaman dan banyaknya hiburan modern, keberadaan budaya lokal seperti wayang kulit menghadapi tantangan untuk tetap dikenal dan diminati oleh generasi muda. Namun, hal tersebut tidak memadamkan semangat Ahmad Aufa Rizza, seorang dalang muda asal Kebumen yang berusaha mengenalkan dan melestarikan seni wayang kulit melalui cara yang lebih dekat dengan kehidupan anak muda.
Ahmad Aufa Rizza lahir di Kebumen pada 10 Oktober 2010. Ketertarikannya terhadap dunia wayang kulit sudah muncul sejak ia kecil. Berbeda dengan kebanyakan dalang yang mungkin memiliki latar belakang keluarga pedalangan, Ahmad mengaku belajar mendalang secara autodidak. Tidak ada anggota keluarga maupun saudara yang memiliki keturunan dalang atau menyukai wayang kulit. Meskipun demikian, ia tetap mendapatkan dukungan dari keluarganya untuk mengembangkan minat tersebut.
“Saya mulai menyukai dunia wayang kulit sejak kecil. Saya belajar mendalang itu secara autodidak,” ujar Ahmad.
Menyesuaikan Wayang dengan Generasi Muda
Menurut Ahmad, salah satu cara untuk mempertahankan minat generasi muda terhadap wayang kulit adalah dengan membuat pertunjukan yang lebih menarik dan mudah dipahami. Ia menyadari bahwa penggunaan bahasa dalam pewayangan terkadang menjadi kendala bagi anak muda, terutama karena masih menggunakan bahasa Jawa yang halus dan tidak semua generasi muda memahaminya.
Oleh karena itu, Ahmad berpendapat bahwa penggunaan bahasa Indonesia serta bahasa yang lebih sederhana dapat membantu penonton muda memahami isi pertunjukan. Selain bahasa, unsur humor dan penyampaian cerita yang sesuai dengan kehidupan sehari-hari juga dapat membuat pertunjukan wayang jadi lebih menarik.
Ia menilai bahwa dalang perlu menyesuaikan gaya pementasan dengan karakter penontonnya. Ketika penonton didominasi oleh generasi yang lebih tua, penggunaan bahasa klasik dan halus masih dapat dipertahankan. Namun, jika penontonnya lebih banyak anak muda, dalang perlu menggunakan bahasa yang lebih komunikatif dan menghibur.
Menghadapi Tantangan Hiburan Modern
Dalam upaya melestarikan wayang kulit, Ahmad menghadapi tantangan berupa persaingan dengan berbagai hiburan modern. Konser musik, pertunjukan dangdut, dan hiburan dari luar negeri menjadi beberapa contoh yang menurutnya dapat memengaruhi minat masyarakat terhadap seni tradisional.
Selain persaingan hiburan, berkurangnya ketertarikan generasi muda untuk mempelajari budaya tradisional juga menjadi persoalan yang perlu diperhatikan. Menurut Ahmad, pelestarian wayang tidak hanya bergantung pada pertunjukannya, tetapi juga pada kemauan generasi muda untuk mengenal dan mempelajari budaya tersebut.
Ahmad percaya bahwa wayang kulit masih memiliki hubungan dengan kehidupan masyarakat saat ini. Menurutnya, wayang dapat digunakan untuk menyampaikan pesan moral dan persoalan kehidupan yang relevan dengan keadaan zaman. Cerita pewayangan juga dapat dikemas dengan cara yang lebih menarik tanpa menghilangkan nilai budaya yang terkandung di dalamnya.
Mengembangkan Inovasi dalam Pertunjukan Wayang
Sebagai dalang muda, Ahmad memiliki pandangan bahwa pertunjukan wayang perlu menghadirkan inovasi agar tidak mudah membuat penonton merasa bosan. Salah satu cara yang ia anggap menarik adalah penggunaan pencahayaan modern, seperti lampu LED dan lampu follow, untuk mendukung suasana pementasan.
Selain pencahayaan, ia juga ingin memasukkan permasalahan yang dekat dengan kehidupan masyarakat, seperti persahabatan, pendidikan, dan kehidupan sosial. Meskipun demikian, pesan moral serta nilai-nilai asli dalam wayang tetap harus dipertahankan.
Ahmad juga menyebutkan pentingnya penggunaan musik dalam pertunjukan. Menurutnya, pertunjukan wayang tidak harus selalu menggunakan lagu-lagu klasik, tetapi dapat dipadukan dengan lagu bernuansa semi dangdut agar lebih mudah diterima oleh masyarakat luas.
Dalam hal penyampaian cerita, Ahmad menganggap penggunaan bahasa yang mudah dipahami dan unsur humor dapat membantu menarik perhatian penonton. Ia mencontohkan gaya pementasan dalang seperti Ki Seno Nugroho dan Ki Entus Susmono yang menurutnya mampu menghadirkan pertunjukan yang menghibur.
Selain itu, keterampilan dalang dalam memainkan gerakan wayang atau sabet, termasuk saat menggambarkan adegan peperangan, juga menjadi unsur penting dalam menarik perhatian penonton.
Mengenalkan Wayang melalui Lingkungan Sekitar
Upaya Ahmad dalam melestarikan wayang kulit tidak hanya dilakukan melalui pertunjukan. Ia juga berencana mengenalkan budaya tersebut kepada teman-teman sebayanya dengan mengajak mereka menonton pertunjukan wayang dan mengikuti latihan memainkan wayang.
Media sosial menjadi salah satu sarana yang ingin dimanfaatkannya untuk memperkenalkan wayang kepada generasi muda. Ahmad berencana membagikan informasi mengenai wayang melalui unggahan di media sosial agar semakin banyak orang mengenal budaya tersebut.
Menurutnya, pengenalan wayang kepada generasi muda perlu dilakukan secara langsung maupun melalui media yang sering mereka gunakan. Dengan demikian, wayang kulit tidak hanya dikenal sebagai budaya yang kuno, tetapi juga dapat dipahami sebagai bagian dari kehidupan masyarakat saat ini.
Harapan terhadap Masa Depan Wayang Kulit
Ahmad berharap seni wayang kulit tetap lestari dan semakin dikenal oleh generasi muda. Ia juga ingin semakin banyak anak muda yang tertarik untuk mempelajari serta melestarikan budaya tersebut agar tidak hilang ditelan zaman.
Baginya, budaya merupakan bagian penting dari identitas masyarakat yang perlu dijaga bersama. Kehilangan budaya lokal bukan hanya menjadi kerugian bagi satu orang, tetapi juga bagi masyarakat secara luas.
“Saya berharap seni wayang kulit tetap lestari dan semakin dikenal oleh generasi muda. Saya juga berharap semakin banyak anak-anak muda yang mau belajar dan melestarikan budaya wayang supaya tidak hilang ditelan zaman,” ujar Ahmad.
Perjuangan Ahmad sebagai dalang muda menunjukkan bahwa pelestarian budaya lokal dapat dimulai dari ketertarikan pribadi, dukungan keluarga, dan kemauan untuk terus belajar. Melalui inovasi dalam pementasan, penggunaan media sosial, serta pendekatan yang lebih relevan dengan generasi muda, wayang kulit memiliki peluang untuk tetap dikenal dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Penyusun : Zahra Fatin Nafilah
Editor : Zahrotun Nabilah
