sudutnalar.com, 22 September 2026

PURBALINGGA, SUDUTNALAR – Berawal dari keinginan untuk menjadi remaja yang bermanfaat bagi lingkungan sekitar, Labib Mubarok, seorang remaja asal Purbalingga kini dipercaya menjadi Duta Genre Jawa Tengah. Di tengah kesibukannya sebagai mahasiswa baru UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) Purwokerto, Labib tetap aktif menjalankan berbagai kegiatan yang berfokus pada pemberdayaan dan edukasi remaja.
Ketertarikan Labib terhadap dunia Duta Genre berawal dari prinsip yang ia pegang, yaitu “sebaik-baik manusia adalah manusia yang bermanfaat bagi masyarakat sekitar.” Menurutnya, Duta Genre bukan sekadar gelar atau selempang, tetapi menjadi wadah bagi remaja untuk memberikan dampak nyata bagi lingkungan.
Perjalanan Labib dimulai ketika ia mengikuti pemilihan Duta Genre di Kabupaten Purbalingga dan berhasil meraih juara 3. Kesempatan kemudian datang ketika juara 1 dan 2 berhalangan menghadiri kegiatan apresiasi Duta Genre Jawa Tengah. Labib pun dipercaya untuk mewakili Kabupaten Purbalingga. Dari kesempatan tersebut, ia berhasil masuk 10 besar hingga akhirnya meraih juara 1 Duta Genre Jawa Tengah.
Selama menjadi Duta Genre Purbalingga, Labib aktif melakukan sosialisasi kepada masyarakat, khususnya remaja di sekolah-sekolah. Kegiatan tersebut berfokus pada edukasi mengenai tiga risiko yang mengancam kesehatan reproduksi remaja (KRR), serta isu keluarga berencana dan pencegahan stunting. Dalam menjalankan programnya, ia juga berkolaborasi dengan Dinas Kesehatan, dosen, akademisi, dan berbagai komunitas di Purbalingga.

Setelah berada di tingkat Jawa Tengah, ruang lingkup pengabdiannya semakin luas. Labib terlibat dalam kegiatan di Demak dan Klaten, merancang konten edukatif bersama rekan-rekannya, menjadi narasumber di berbagai kegiatan sosial, serta mendampingi Duta Genre Jawa Tengah dalam kegiatan di Jakarta. Ia juga terlibat dalam penyusunan rekomendasi kebijakan berdasarkan aspirasi remaja Purbalingga yang telah disampaikan kepada Bupati Purbalingga.
Menurut Labib, menjadi Duta Genre berarti memiliki tanggung jawab untuk mendampingi dan membersamai remaja agar mampu mengembangkan potensi serta memberikan dampak nyata. Ia memandang seorang duta bukan hanya sebagai pemegang gelar, tetapi juga sebagai representasi remaja di daerahnya.
“Bilamana melihat remaja di Jawa Tengah, maka melihat saya. Di pundak saya ini tertulis besar remaja di Jawa Tengah sehingga saya harus bisa memberikan yang terbaik untuk remaja Jawa Tengah,” ujar Labib.
Di tengah kesibukannya sebagai mahasiswa, Labib mengatur waktu dengan membuat jadwal kegiatan melalui catatan dan kalender digital. Ketika kegiatan Duta Genre berbenturan dengan jadwal kuliah, ia memilih untuk memprioritaskan perkuliahan dan mendelegasikan kegiatan kepada rekan Duta Genre lainnya. Namun, untuk kegiatan pengabdian, advokasi, dan pemberdayaan yang membutuhkan keterlibatan langsung, ia akan berupaya turun ke lapangan dengan menyesuaikan jadwal akademiknya.
Kepada para remaja, Labib berpesan agar generasi muda berani menjadi pelopor perubahan melalui kegiatan positif, inovasi, dan kontribusi nyata. Ia juga mengingatkan remaja untuk menjauhi tiga risiko yang dikenal dalam program Genre, yaitu pernikahan usia dini, seks pranikah, dan penyalahgunaan narkoba.
“Sebagai seorang remaja harus menjadi remaja yang berdampak nyata,” tutup Labib.
Penulis : Fatma Amalia Adyan
Editor : Evi Alviyah
