
Cilacap — Konservasi Penyu Nagaraja yang berada di Pantai Sodong, Desa Karangbenda, Kecamatan Adipala, Kabupaten Cilacap, menjadi salah satu tempat perlindungan penyu di pesisir selatan Cilacap. Kegiatan konservasi dilakukan mulai dari menemukan telur di kawasan pantai, menetaskannya, merawat tukik, hingga melepasliarkannya kembali ke habitat.
Menurut seorang mahasiswa Biologi Universitas Diponegoro (Undip) yang sedang melakukan penelitian di Konservasi Penyu Nagaraja, kegiatan pencarian telur dilakukan melalui patroli di sepanjang kawasan pantai. Patroli dilakukan setiap malam mulai pukul 22.00 WIB hingga menjelang pagi. Wilayah patroli membentang sekitar 25 kilometer, mulai dari Pantai Sodong hingga ujung Pantai Jetis, Cilacap.
Penyu biasanya mendarat di kawasan pantai pada malam hari untuk bertelur. Aktivitas peneluran dapat lebih banyak terlihat pada waktu tertentu, salah satunya saat bulan purnama. Telur yang ditemukan kemudian dipindahkan ke area penetasan dengan tetap memperhatikan kondisi pasir di sekitar telur agar kelembapan dan suhunya tetap terjaga.
Setelah dipindahkan, telur membutuhkan waktu sekitar 40–60 hari hingga menetas. Tukik yang baru menetas tidak langsung dimasukkan ke kolam. Tukik terlebih dahulu menjalani proses aklimatisasi selama dua hingga tiga hari sampai bagian ari-arinya mengering. Setelah itu, tukik dipindahkan ke kolam dan diberi makanan.
Konservasi Penyu Nagaraja tidak melakukan pemeliharaan penyu hingga dewasa. Setelah mencapai usia tertentu, penyu akan dilepasliarkan kembali ke laut. Pelepasliaran biasanya dilakukan ketika penyu berusia sekitar satu hingga dua bulan. Sementara itu, pada usia satu hingga dua minggu, tukik masih berada dalam tahap belajar berenang.
Masyarakat juga dapat terlibat dalam kegiatan konservasi melalui program adopsi tukik. Informasi mengenai program tersebut biasanya disampaikan melalui media sosial konservasi, terutama pada Juni hingga Agustus yang menjadi periode efektif penetasan.
Konservasi ini menangani beberapa jenis penyu, di antaranya penyu lekang, penyu hijau, dan penyu sisik. Melalui proses penyelamatan telur hingga pelepasliaran, kegiatan konservasi dilakukan untuk membantu menjaga keberadaan penyu sekaligus mengembalikan tukik ke habitat alaminya.
