
Purwokerto — Selama lebih dari 15 tahun, Jatmiko Wicaksono menekuni penelusuran sejarah lokal di Banyumas Raya. Ketertarikannya terhadap sejarah membawa dirinya menyusuri berbagai jejak perkeretaapian, bangunan, serta warisan sejarah yang tersebar di wilayah Banyumas. Dari penelusuran tersebut, Jatmiko tidak hanya mengumpulkan cerita masa lalu, tetapi juga berupaya menemukan sumber-sumber sejarah yang dapat memperkuat pengetahuan masyarakat mengenai daerahnya.
Jatmiko dikenal sebagai peneliti dan pegiat sejarah lokal yang aktif membagikan hasil penelitiannya kepada publik. Melalui Banyumas History Heritage Community, ia mengemas pengetahuan sejarah dalam berbagai kegiatan, seperti pameran, tur sejarah, dan kegiatan edukasi. Baginya, sejarah tidak cukup hanya disimpan dalam arsip, tetapi perlu diperkenalkan kembali agar masyarakat dapat mengenali dan menghargai warisan sejarah yang ada di lingkungan mereka.
Ketekunan Jatmiko dalam menelusuri sejarah lokal kemudian membawanya hingga ke Leiden, Belanda. Pada 2025, ia memperoleh Lingling Wiyadharma Fellowship dari Leiden University yang memberinya kesempatan untuk melakukan riset secara langsung di Leiden. Kesempatan tersebut dimanfaatkannya untuk menelusuri berbagai arsip dan sumber sejarah berbahasa Belanda yang berkaitan dengan sejarah perkeretaapian di Banyumas Raya.
Dalam riset tersebut, Jatmiko secara khusus menelusuri sejarah perkeretaapian di Lembah Serayu, termasuk sejarah Serajoedal Stoomtram Maatschappij (SDS). Penelusuran dilakukan dengan memanfaatkan berbagai arsip yang tersimpan di Belanda. Dari proses tersebut, ia menemukan sejumlah dokumen yang memberikan gambaran mengenai perkembangan perkeretaapian Banyumas pada masa lalu.
Menurut Jatmiko, arsip mengenai perkeretaapian Banyumas ternyata cukup banyak tersimpan di Belanda. Arsip tersebut mencakup surat-surat penting, dokumentasi foto perkeretaapian pada masa pemerintahan Hindia Belanda, hingga dokumen yang berkaitan dengan jalur-jalur kereta api yang pernah melintasi wilayah Banyumas Raya. Keberadaan sumber-sumber tersebut memberikan kesempatan untuk melihat sejarah perkeretaapian Banyumas melalui dokumen yang berasal dari masa itu.
“Di Belanda ternyata banyak sekali dokumen asli tentang perkeretaapian Banyumas. Ada surat-surat penting, foto-foto perkeretaapian zaman Belanda, termasuk jalur-jalur kereta api yang dahulu ada di Banyumas,” ujar Jatmiko.
Temuan tersebut tidak hanya menjadi bagian dari perjalanan penelitian Jatmiko di Leiden. Ia juga berupaya membawa hasil penelusuran arsip tersebut kembali ke Banyumas agar masyarakat dapat melihat secara langsung sumber-sumber sejarah yang selama ini tersimpan jauh dari daerah asalnya. Beberapa hasil penelusuran kemudian dibawa dan ditampilkan dalam kegiatan pameran sebagai bagian dari upaya memperkenalkan kembali sejarah perkeretaapian Banyumas kepada publik.
Bagi Jatmiko, arsip memiliki peran penting dalam membantu masyarakat memahami sejarah secara lebih utuh. Foto, surat, dan dokumen mengenai jalur kereta api dapat menjadi bukti yang membantu menjelaskan bagaimana perkeretaapian pernah berkembang dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Banyumas. Melalui sumber tersebut, peninggalan seperti jalur maupun bangunan lama tidak lagi hanya dipandang sebagai benda atau tempat yang tersisa dari masa lalu, tetapi juga memiliki cerita yang dapat ditelusuri.
Perjalanan riset ke Leiden menjadi bagian dari proses panjang Jatmiko dalam memperkenalkan sejarah Banyumas kepada masyarakat. Selama lebih dari satu dekade, ia terus menelusuri sumber sejarah dari berbagai tempat dan mengolahnya menjadi pengetahuan yang dapat diakses publik. Konsistensinya menunjukkan bahwa upaya mengenalkan sejarah lokal dapat dilakukan melalui penelitian, penelusuran arsip, serta kegiatan yang mendekatkan sumber sejarah kepada masyarakat.
Dari Banyumas hingga Leiden, Jatmiko terus mengikuti jejak yang ditinggalkan masa lalu. Arsip-arsip yang ditemukannya menjadi penghubung antara sejarah yang tersimpan di luar negeri dengan masyarakat di daerah asalnya. Melalui kerja tersebut, Jatmiko tidak hanya meneliti sejarah Banyumas, tetapi juga berusaha memastikan cerita tentang perjalanan daerahnya tetap dapat dikenali oleh generasi berikutnya.
