
Bus Trans Banyumas perdana mengaspal pada Jumat, 18 September 2026 (Foto: Dokumentasi Pribadi)
BANYUMAS– Layanan transportasi bus Trans Banyumas secara perdana kembali mengaspal melayani warga Kabupaten Banyumas pada Jumat, 18 September 2026. Pengoperasian kembali armada ini dilakukan secara resmi sehari setelah peresmiannya, sekaligus mengakhiri masa penghentian sementara yang sempat berlangsung selama kurang lebih dua minggu. Terhentinya operasional tersebut disebabkan adanya pengalihan beban pembiayaan armada yang sebelumnya bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Nasional (APBN), kini sepenuhnya ditanggung oleh Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Banyumas mulai bulan September ini.
Pengemudi bus Trans Banyumas, Fathoni Akbar, membenarkan bahwa perubahan skema pendanaan menjadi alasan utama di balik jeda opersional bus di daerah tersebut. “Kemarin ini per bulan Agustus itu yang pegang dari Pemda Banyumas. Jadi, sekarang ini pakai APBD Pemda Banyumas, sudah tidak pakai APBN,” ujar Fatoni saat ditemui pada Jumat, 18 September 2026.
Kembalinya layanan bus Trans Banyumas disambut antusias oleh masyarakat pengguna setia yang sempat merasa kehilangan selama dua minggu terakhir. Kehadiran bus ini terbukti menjadi solusi transportasi ekonomis yang membantu menekan pengeluaran harian masyarakat. Fathoni menuturkan bahwa efisiensi biaya yang dirasakan warga cukup signifikan dibandingkan transportasi lain. “Alhamdulillah mereka senang Mbak karena Trans Banyumas mulai ada lagi. Semenjak adanya Trans Banyumas bisa membantu lah. Ya misal katakanlah 50 ribu satu hari, kalau pakai Trans Banyumas bisa memangkas ongkosnya sampai 50% lebih lah,” ungkapnya.
Manfaat efisiensi biaya dan ketepatan waktu tersebut dirasakan langsung oleh penumpang, seperti yang diungkapkan oleh Wati. Ia mengaku lega dengan beroperasinya kembali Trans Banyumas yang dinilai lebih nyaman dan cepat. “Kemarin naik angkot biasanya lama, ngetem-nya yang lama. Kalau naik angkot sampai pegal. Kalau ada ini kan cepat, harganya juga lebih murah,” tuturnya.
Saat ini, rute dan tarif layanan yang dibiayai APBD ini masih sama seperti sebelum penghentian sementara. Meskipun jumlah penumpang pada hari pertama ini masih bertahap karena sebagian warga belum mengetahui informasi pengoperasian kembali melalui media sosial, tingkat keterisian bus diyakini akan segera kembali normal. Terlebih pada Koridor 2 dengan rute Terminal Notog–Terminal Baturaden yang selama ini menjadi rute terfavorit dengan keterisian penumpang mencapai 120%. Ke depannya, Pemda Banyumas akan terus melakukan evaluasi berkala sekaligus mengkaji rencana penambahan rute dan koridor baru hingga ke wilayah lain seperti Wangon dan Lumbir.
Penulis: Fadhilah Salma Labibah Editor: Velen Candra Nadia
