
PESANGGRAHAN – Tradisi unik Bobok Bumbung kembali digelar masyarakat Desa Pesanggrahan sebagai bentuk pemenuhan kewajiban Pajak Bumi dan Bangunan (PBB). Tradisi yang pertama kali dicetuskan pada 2015 oleh Kepala Desa Sarjo ini berhasil mengubah cara pandang warga dalam membayar pajak dari beban menjadi sebuah perayaan kebudayaan yang dinanti setiap tahunnya.
Istilah bobok bumbung berasal dari kata bobok yang berarti memecah atau membongkar, dan bumbung yang merujuk pada celengan bambu. Metode ini mewajibkan warga menyisihkan uang secara bertahap sejak jauh hari.
Untuk memudahkan warga, celengan bambu (bumbung) dibagikan sejak satu bulan sebelum masa pembayaran. Metode mencicil ini terbukti efektif mencegah warga merasa keberatan saat batas waktu penyetoran tiba. Perayaan seremonial puncak umumnya dilangsungkan tiga hari sebelum batas penyetoran PBB ke pemerintah pusat.

Prosesi acara berlangsung sangat meriah yang diawali dengan gotong royong warga di tiap RT untuk mengumpulkan celengan dan membuat jolen rumah-rumahan kecil penampung bumbung. Seluruh jolen kemudian diarak dalam kirab budaya keliling desa menuju balai desa, dipimpin oleh tokoh desa di barisan terdepan. Puncak acara ditandai dengan prosesi pembobokan, tempat kepala desa memecahkan bumbung simbolis di pelataran balai desa sebagai tanda pelunasan PBB secara resmi.
Seremonial ini konsisten menghadirkan pejabat pemerintahan dari tingkat camat, bupati, hingga gubernur untuk menyaksikan langsung pemecahan bumbung secara simbolis. Peran aktif Karang Taruna Desa Pesanggrahan juga terus melahirkan ide-ide baru agar kemasan acara semakin menarik tanpa melenceng dari makna dasarnya.
“Kegiatan ini selain membuat warga Pesanggrahan rajin menabung, juga sangat efektif mempererat hubungan antarwarga dan tokoh publik. Selain itu, tradisi ini turut menyokong kegiatan UMKM desa, sekaligus membangun kreativitas kader Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK) serta komunitas Dasawisma dalam melestarikan budaya tanpa menghilangkan nilai tradisi yang sudah ada,” ujar Win Nugroho.
Melalui tradisi Bobok Bumbung, Desa Pesanggrahan membuktikan bahwa kesadaran warga dalam memenuhi kewajiban negara dapat dibangun secara harmonis lewat pendekatan kearifan lokal, gotong royong, dan edukasi finansial yang berkelanjutan.
Penulis: Septia Berliana
Editor: Yuliyastin Gebi Saputri
