
Sumber: Doc pribadi
BANYUMAS, sudutnalar.com—Tradisi ruwatan masih dilaksanakan oleh masyarakat sebagai bagian dari pelestarian budaya Jawa. Tradisi yang digelar melalui pertunjukan wayang ini tidak hanya menjadi tontonan, tetapi juga mengandung doa keselamatan bagi orang yang diruwat maupun masyarakat. Di tengah perkembangan zaman, pelaksanaan ruwatan turut mengalami perubahan dalam bentuk penyajiannya.
Hal tersebut disampaikan oleh Ki Dalang Suwarso Suryowiguno, seorang dalang kelahiran 1962 asal Desa Banjarsari Kulon, Kecamatan Sumbang, Kabupaten Banyumas, yang telah menekuni dunia pedalangan sejak lulus sekolah menengah pertama. Ia mulai membawakan pertunjukan ruwatan ketika berusia sekitar 40 tahun.
Menurut Ki Suwarso, ruwatan merupakan tradisi yang memiliki pakem atau aturan tertentu. Dalam kepercayaan masyarakat Jawa, ruwatan bertujuan memanjatkan doa agar seseorang memperoleh keselamatan, kesehatan, ketenteraman, dan kehidupan yang lebih baik. Ruwatan juga dijadikan sebagai upaya menghilangkan sambelaka atau kesialan.
Terdapat dua jenis ruwatan yang umum dilaksanakan masyarakat. Pertama, ruwat orang, yang ditujukan untuk mendoakan keselamatan individu, biasanya anak, agar terhindar dari marabahaya. Kedua, ruwat bumi, yang dilakukan untuk memohon keselamatan desa dan masyarakat, serta memohon agar hasil pertanian di desa tersebut dapat tumbuh dengan baik. Menurut Ki Suwarso, ruwat bumi di Banyumas umumnya dilaksanakan pada bulan Sura atau Muharam. Baik ruwat orang maupun ruwat bumi masih banyak dilaksanakan oleh masyarakat di berbagai wilayah, termasuk sejumlah desa di Banyumas.
Pertunjukan ruwatan menggunakan lakon wayang yang disesuaikan dengan jenisnya. Ruwat orang menggunakan lakon Murwakala, sedangkan ruwat bumi menggunakan lakon Negara Medang Kamulyan dengan tokoh sentral Prabu Makukuhan.
Meski sama-sama pertunjukan wayang, ruwatan memiliki tujuan yang berbeda dengan wayang hiburan. “Kalau ruwat itu intinya spiritual,” ujar Ki Suwarso, yang menegaskan bahwa dalang yang memimpin ruwatan perlu melakukan persiapan khusus sebelum acara, seperti berdoa dan berpuasa.
Prosesi ruwatan juga memiliki tata cara khas. Dalam ruwat orang, terdapat ritual penyemburan air ramuan dringo, bengle, kunyit, dan bawang yang dilakukan oleh dalang ke bagian ubun-ubun anak yang diruwat, dilanjutkan dengan pemotongan rambut sebagai simbol penyucian diri.
Seiring perkembangan zaman, penyajian ruwatan turut mengalami penyesuaian. Jika dahulu selalu diiringi gamelan, kini banyak pula yang digelar dengan iringan musik elektronik. Selain itu, ada pula “jemblungan”, yaitu dalang bertutur tanpa iringan musik.
Ki Suwarso menilai bahwa ruwatan merupakan warisan leluhur sekaligus bagian dari identitas budaya yang perlu dijaga kelestariannya, termasuk oleh generasi muda agar terus berlanjut pada masa mendatang.
Penulis: Restina Diniati Cantika
Editor: Yulia Avriani
