Penulis: Nur Alya Nabila
Editor: Nissa Rhosida Dini Mustika Sari

PURWOKERTO, sudutnalar.com—Sanggar Budaya Pinggir Lèpèn terus berupaya melestarikan budaya Jawa melalui kegiatan karawitan dan pedalangan. Sanggar yang didirikan pada 1 Juni 2016 ini terbuka bagi masyarakat dari berbagai kelompok usia, terutama generasi muda.
Pendiri Sanggar Budaya Pinggir Lèpèn menjelaskan bahwa sanggar didirikan untuk nguri-uri atau melestarikan budaya leluhur, khususnya budaya Jawa. Selain menjadi tempat belajar karawitan dan pedalangan, sanggar juga diharapkan dapat berkontribusi dalam pengembangan kesenian tradisional di Banyumas.
“Tujuan didirikannya Sanggar Pinggir Lèpèn adalah untuk nguri-uri budaya dan melestarikan budaya leluhur,” ujar Sriyono dalam wawancara pada Minggu (13/9/2026).
Kegiatan sanggar berlangsung hampir setiap hari dengan jadwal yang berbeda-beda. Kegiatannya meliputi latihan karawitan, pedalangan, dan dalang anak. Sanggar juga menjadi tempat kegiatan yang berkaitan dengan Persatuan Pedalangan Indonesia (Pepadi) Kabupaten Banyumas

Sanggar tidak membatasi usia peserta dan tidak memungut biaya latihan. Peserta hanya diharapkan memiliki niat, kesungguhan, serta kedisiplinan. Sanggar juga menyediakan tempat dan peralatan, serta membantu menyediakan pelatih bagi kelompok yang membutuhkan.
“Latihan di sini tidak dipungut bayaran. Syaratnya, datang dengan senang hati, ikhlas, dan mau berlatih dengan semangat,” ujar Sriyono.
Di tengah perkembangan teknologi, pelestarian budaya tradisional menghadapi berbagai tantangan. Menurut Sriyono, sebagian generasi muda kini lebih tertarik menggunakan telepon genggam daripada mempelajari kesenian tradisional. Pengaruh budaya lain serta kurangnya pembiasaan budaya daerah sejak dini turut menjadi persoalan.
Ia menilai keluarga, masyarakat, dan pendidikan memiliki peran penting dalam menjaga keberlangsungan budaya Jawa. Salah satu bentuk pelestarian budaya tersebut adalah pembiasaan bahasa Jawa sejak dini untuk mengenalkan nilai kesopanan dan unggah-ungguh.
Ketertarikan Sriyono terhadap budaya Jawa telah tumbuh sejak kelas 4 sekolah dasar. Ketertarikan tersebut berkembang melalui pendidikan seni hingga akhirnya ia mengabdikan diri dalam pengembangan budaya Jawa setelah pensiun sebagai pengajar seni budaya.
Selain karawitan, Sanggar Budaya Pinggir Lèpèn turut mendorong pengembangan Wayang Gagrak Banyumasan. Gagasan ini muncul dari keinginan untuk mengangkat karakter khas Banyumas dalam seni pedalangan, termasuk penggunaan unsur budaya dan dialek Banyumasan.
Menurut Sriyono, Wayang Gagrak Banyumasan telah memperoleh pengakuan sebagai warisan budaya takbenda pada Desember 2025. Wayang tersebut juga telah mengikuti berbagai kompetisi hingga tingkat nasional dan meraih sejumlah penghargaan, termasuk penghargaan sebagai dalang mumpuni pada 2025.
Keberadaan Sanggar Budaya Pinggir Lèpèn mendapat dukungan dari lingkungan sekitar. Kegiatan latihan yang berlangsung hampir setiap hari tidak dianggap sebagai gangguan. Warga bahkan terkadang memberikan hasil kebun maupun makanan sebagai bentuk dukungan.
Ke depan, pengelola berharap sanggar semakin berkembang, termasuk dengan membuka kegiatan seni tari. Sriyono juga berharap semakin banyak generasi muda yang terlibat langsung dalam kegiatan seni budaya.
“Harapan saya, anak-anak dan generasi muda yang datang ke sini mau berlatih dan menjadi pelaku budaya Jawa, khususnya karawitan dan pedalangan,” pungkas Sriyono.
Bagi pengelola sanggar, keterlibatan generasi muda menjadi kunci agar kesenian tradisional tetap hidup di tengah perubahan zaman. Karena itu, Sanggar Budaya Pinggir Lèpèn terus membuka kesempatan bagi masyarakat untuk belajar dan mengenal budaya Jawa secara langsung.
