Skip to content
sudutnalar.com
Menu
  • Beranda
  • Tentang
  • Bahasa
  • Wisata
  • Tips
  • Budaya
  • Teknologi
  • Sosial
  • Politik
  • Sastra
  • Kuliner
  • Hiburan
  • Profile
  • Pendidikan
  • Feature
  • Ekonomi
  • Hukum
Menu

Sanggar Pinggir Lèpèn Lestarikan Budaya Jawa, Rangkul Generasi Muda

Posted on September 16, 2026 by zulfa izaz

Penulis: Nur Alya Nabila

Editor: Nissa Rhosida Dini Mustika Sari

Sriyono pendiri Sanggar Budaya Pinggir Lèpèn, di kelurahan Kober, Purwokerto Barat, Minggu (13/9/2026). (sudutnalar.com/Nur Alya Nabila)

PURWOKERTO, sudutnalar.com—Sanggar Budaya Pinggir Lèpèn terus berupaya melestarikan budaya Jawa melalui kegiatan karawitan dan pedalangan. Sanggar yang didirikan pada 1 Juni 2016 ini terbuka bagi masyarakat dari berbagai kelompok usia, terutama generasi muda.

Pendiri Sanggar Budaya Pinggir Lèpèn menjelaskan bahwa sanggar didirikan untuk nguri-uri atau melestarikan budaya leluhur, khususnya budaya Jawa. Selain menjadi tempat belajar karawitan dan pedalangan, sanggar juga diharapkan dapat berkontribusi dalam pengembangan kesenian tradisional di Banyumas.

“Tujuan didirikannya Sanggar Pinggir Lèpèn adalah untuk nguri-uri budaya dan melestarikan budaya leluhur,” ujar Sriyono dalam wawancara pada Minggu (13/9/2026).

Kegiatan sanggar berlangsung hampir setiap hari dengan jadwal yang berbeda-beda. Kegiatannya meliputi latihan karawitan, pedalangan, dan dalang anak. Sanggar juga menjadi tempat kegiatan yang berkaitan dengan Persatuan Pedalangan Indonesia (Pepadi) Kabupaten Banyumas

Seperangkat gamelan yang digunakan dalam kegiatan karawitan di Sanggar Budaya Pinggir Lèpèn, Kelurahan Kober, Purwokerto Barat, Minggu (13/9/2026). (sudutnalar.com/Nur Alya Nabila)

Sanggar tidak membatasi usia peserta dan tidak memungut biaya latihan. Peserta hanya diharapkan memiliki niat, kesungguhan, serta kedisiplinan. Sanggar juga menyediakan tempat dan peralatan, serta membantu menyediakan pelatih bagi kelompok yang membutuhkan.

“Latihan di sini tidak dipungut bayaran. Syaratnya, datang dengan senang hati, ikhlas, dan mau berlatih dengan semangat,” ujar Sriyono.

Di tengah perkembangan teknologi, pelestarian budaya tradisional menghadapi berbagai tantangan. Menurut Sriyono, sebagian generasi muda kini lebih tertarik menggunakan telepon genggam daripada mempelajari kesenian tradisional. Pengaruh budaya lain serta kurangnya pembiasaan budaya daerah sejak dini turut menjadi persoalan.

Ia menilai keluarga, masyarakat, dan pendidikan memiliki peran penting dalam menjaga keberlangsungan budaya Jawa. Salah satu bentuk pelestarian budaya tersebut adalah pembiasaan bahasa Jawa sejak dini untuk mengenalkan nilai kesopanan dan unggah-ungguh.

Ketertarikan Sriyono terhadap budaya Jawa telah tumbuh sejak kelas 4 sekolah dasar. Ketertarikan tersebut berkembang melalui pendidikan seni hingga akhirnya ia mengabdikan diri dalam pengembangan budaya Jawa setelah pensiun sebagai pengajar seni budaya.

Selain karawitan, Sanggar Budaya Pinggir Lèpèn turut mendorong pengembangan Wayang Gagrak Banyumasan. Gagasan ini muncul dari keinginan untuk mengangkat karakter khas Banyumas dalam seni pedalangan, termasuk penggunaan unsur budaya dan dialek Banyumasan.

Menurut Sriyono, Wayang Gagrak Banyumasan telah memperoleh pengakuan sebagai warisan budaya takbenda pada Desember 2025. Wayang tersebut juga telah mengikuti berbagai kompetisi hingga tingkat nasional dan meraih sejumlah penghargaan, termasuk penghargaan sebagai dalang mumpuni pada 2025.

Keberadaan Sanggar Budaya Pinggir Lèpèn mendapat dukungan dari lingkungan sekitar. Kegiatan latihan yang berlangsung hampir setiap hari tidak dianggap sebagai gangguan. Warga bahkan terkadang memberikan hasil kebun maupun makanan sebagai bentuk dukungan.

Ke depan, pengelola berharap sanggar semakin berkembang, termasuk dengan membuka kegiatan seni tari. Sriyono juga berharap semakin banyak generasi muda yang terlibat langsung dalam kegiatan seni budaya.

“Harapan saya, anak-anak dan generasi muda yang datang ke sini mau berlatih dan menjadi pelaku budaya Jawa, khususnya karawitan dan pedalangan,” pungkas Sriyono.

Bagi pengelola sanggar, keterlibatan generasi muda menjadi kunci agar kesenian tradisional tetap hidup di tengah perubahan zaman. Karena itu, Sanggar Budaya Pinggir Lèpèn terus membuka kesempatan bagi masyarakat untuk belajar dan mengenal budaya Jawa secara langsung.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

Berita Terbaru

  • Dulu Semalam Suntuk, Kini Sekadar Pembuka Acara: Cerita Lengger dari Rumah Lengger Banyumas
    By bagus aji
    Oktober 9, 2026
    Lukisan penari lengger dan seperangkat calung di sudut […]
  • Gemblong Ocar-Acir di Tengah Perubahan Selera Generasi Muda
    By Erdi Aqil Fauzan
    Oktober 8, 2026
    Penulis: Erdi Aqil Fauzan | Keterangan: Feature, […]
  • Ketika Krama Inggil Perlahan Kehilangan Suara di Patikraja
    By Erdi Aqil Fauzan
    Oktober 8, 2026
    Oleh: Farah Nasywa Nurrahma | Narasumber: Mareta & […]

Pendidikan

  • SMA Muhammadiyah Sokaraja Benahi Manajemen untuk Pulihkan Kepercayaan Masyarakat
    By shafrifa aulia
    Pendidikan
    September 29, 2026
  • Keterbatasan Perpustakaan Tak Padamkan Semangat Membaca, Pojok Literasi Jadi Solusi bagi Murid UPTD SDN 3 Kedungdawa
    By calista aneen
    Pendidikan
    September 29, 2026
  • Kopi dan Laptop: Cerita Mahasiswa Unsoed Menghadapi Tenggat Tugas Tengah Semester
    By athaya qila
    Pendidikan
    September 29, 2026

Bahasa

  • Mengenal Dunia Inklusif Melalui Kelas Bahasa Isyarat Himpunan Mahasiswa KIP-K Unsoed
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan, Terbaru
    September 21, 2026
  • Usung Tema “Citta Karya”, Seminar Kepenulisan 2026 Hadirkan Luluk HF, Penulis “Mariposa”
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Resmi Berlangsung 14–16 September
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Hiburan, Pendidikan, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Resmi Dibuka, Wabup Dorong Budaya Baca Masyarakat
    By akt 24
    Bahasa Bahasa, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Hadirkan Beragam Stan Literasi
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan
    September 21, 2026

Kuliner

  • Segelas Dawet Ayu, Rezeki yang Tak Tertukar
    By Hanunah Mumtaz
    Feature, Kuliner, Sosial
    Oktober 8, 2026
  • Makaroni Tasik Mang Dadang, Kuliner Pedas Hits di Purwokerto
    By Hanunah Mumtaz
    Kuliner
    September 21, 2026
  • Memadukan Kopi dan Literasi di Bawah Keteduhan Hutan Pinus Ajibarang
    By kelaas d
    Kuliner, Wisata
    September 21, 2026

Wisata

  • Riak Sang Penyu, Potret Kehidupan di Kawasan Konservasi
    By kelasB
    Pendidikan, Wisata
    September 21, 2026
  • Sabtu Malam, Kawasan Malioboro Dipenuhi Wisatawan
    By akt 24
    Wisata
    September 21, 2026
  • Memadukan Kopi dan Literasi di Bawah Keteduhan Hutan Pinus Ajibarang
    By kelaas d
    Kuliner, Wisata
    September 21, 2026

Sudut Nalar

Media pemberitaan mahasiswa
Hasil praktik Mata Kuliah Dasar-dasar Jurnalistik.

Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jenderal Soedirman

Tautan

Tentang Kami
Susunan Redaksi
Pedoman Media Siber
Kirim Tulisan
Arsip Berita.

Tentang

Diterbitkan oleh mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jenderal Soedirman, sebagai bagian dari praktik Mata Kuliah Dasar-dasar Jurnalistik.

Dosen Pengampu : Dr. Memet Sudaryanto, M.Pd.

©2026 sudutnalar.com | Design: Newspaperly WordPress Theme