
BANYUMAS, Sudut nalar – Pensiun dari profesinya sebagai guru Seni Budaya tidak membuat Nanang berhenti berkarya. Setelah memasuki masa purnatugas, ia justru semakin aktif mengabdikan diri untuk melestarikan budaya Indonesia melalui alat musik angklung dengan mendirikan Saung Angklung Katineung.
Hal tersebut disampaikan Nanang dalam wawancara secara daring pada Senin (14/9). Dalam kesempatan tersebut, ia membagikan perjalanan serta alasan di balik pendirian Saung Angklung Katineung.
Nanang mengaku merasa terpanggil untuk ikut melestarikan kesenian angklung. Terlebih, alat musik tradisional yang berasal dari budaya Sunda tersebut telah diakui UNESCO sebagai warisan budaya.
“Saya merasa terpanggil untuk ikut serta melestarikan alat musik angklung yang awal mulanya sebagai alat musik etnik Sunda dan sekarang sudah diakui UNESCO sebagai warisan budaya,” ujar Nanang.
Saung Angklung Katineung didirikan pada 1 April 2023, bertepatan dengan masa pensiun Nanang sebagai guru Seni Budaya di SMA Negeri 58 Jakarta. Kecintaannya terhadap angklung telah tumbuh sejak remaja. Berbekal pengalaman tersebut, ia terus mengembangkan sekaligus mengenalkan angklung kepada berbagai kalangan, mulai dari anak-anak sekolah, mahasiswa, lansia, hingga para pensiunan.
Nama Saung Angklung Katineung dipilih dengan makna khusus. Kata katineung berasal dari bahasa Sunda yang berarti selalu dikenang dalam hati. Nanang berharap nama tersebut dapat meninggalkan kesan baik bagi masyarakat sehingga tumbuh rasa rindu dan cinta terhadap Saung Angklung Katineung.
“Saya berpikir dan berharap dengan kata Katineung masyarakat lebih terkesan untuk merindukan dan mencintai Saung Angklung Katineung,” tuturnya.
Bagi Nanang, angklung bukan sekadar alat musik tradisional. Di dalamnya terdapat nilai-nilai yang penting untuk diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat. Ia kerap menyampaikan kepada para pengunjung bahwa angklung memiliki filosofi tentang kebersamaan, disiplin, tanggung jawab, dan toleransi.
“Saya selalu memberikan pemahaman kepada para pengunjung bahwasanya alat musik angklung mempunyai filosofi yang luar biasa, yakni kebersamaan, disiplin, tanggung jawab, dan toleransi,” ucapnya.
Dedikasi Nanang terhadap pelestarian angklung juga tidak hanya dilakukan di Saung Angklung Katineung. Ia aktif melatih ekstrakurikuler angklung di sejumlah sekolah. Setiap Selasa, ia melatih ekstrakurikuler angklung di SMP Negeri 13 Jakarta. Sementara itu, setiap Rabu, ia melatih di SDN Pejaten Timur 11 dan SMP Negeri 73 Jakarta.
Upaya Nanang dalam melestarikan angklung juga membawanya tampil dalam berbagai kegiatan. Beberapa di antaranya adalah pertunjukan angklung di Lapangan Merdeka Kota Sukabumi dalam rangka Hari Ulang Tahun Kota Sukabumi, pertunjukan angklung interaktif bersama para duta besar dari 16 negara di Gedung Juang Kota Sukabumi, serta pertunjukan angklung interaktif bersama warga Singapura di Villa Suka Santai Sukabumi. Pengalaman tersebut menjadi bagian dari upaya Nanang memperkenalkan angklung kepada masyarakat, termasuk pengunjung mancanegara, melalui berbagai kegiatan.
Dalam menjangkau generasi muda, Nanang menggunakan pendekatan interaktif. Ia mengajak mereka berdiskusi secara langsung dan memberikan kesempatan untuk memainkan angklung bersama-sama. Ia juga berupaya mencari berbagai momentum agar para pemain angklung dapat tampil dalam beragam acara.
“Generasi muda harus diraih, diajak diskusi langsung dan diajak bermain angklung bersama-sama,” ungkapnya.
Perjalanan Nanang dalam melestarikan kesenian angklung menunjukkan bahwa usia bukanlah halangan untuk terus berkarya. Berbekal pengalaman sebagai guru Seni Budaya dan kecintaannya terhadap angklung sejak remaja, ia memilih mengabdikan diri untuk memperkenalkan sekaligus menjaga keberadaan alat musik tradisional Indonesia tersebut.
Nanang berharap generasi muda turut terdorong untuk aktif dalam melestarikan budaya Indonesia, khususnya kesenian angklung, agar tetap dikenal dan berkembang di tengah perubahan zaman.
“Harapan saya generasi muda yakni dapat melestarikan dan mengembangkan musik angklung untuk tetap eksis,” pungkasnya.
Penulis: Nailah Fiza Imania | Editor: Nur Alya Nabila
