Skip to content
sudutnalar.com
Menu
  • Beranda
  • Tentang
  • Bahasa
  • Wisata
  • Tips
  • Budaya
  • Teknologi
  • Sosial
  • Politik
  • Sastra
  • Kuliner
  • Hiburan
  • Profile
  • Pendidikan
  • Feature
  • Ekonomi
  • Hukum
Menu

Pensiun Bukan Akhir, Nanang Jaga Angklung Tetap Bergema Lewat Saung Angklung Katineung

Posted on September 16, 2026 by zulfa izaz
Pak Nanang, pendiri Saung Angklung Katineung (dok. pribadi)

BANYUMAS, Sudut nalar – Pensiun dari profesinya sebagai guru Seni Budaya tidak membuat Nanang berhenti berkarya. Setelah memasuki masa purnatugas, ia justru semakin aktif mengabdikan diri untuk melestarikan budaya Indonesia melalui alat musik angklung dengan mendirikan Saung Angklung Katineung.

Hal tersebut disampaikan Nanang dalam wawancara secara daring pada Senin (14/9). Dalam kesempatan tersebut, ia membagikan perjalanan serta alasan di balik pendirian Saung Angklung Katineung.

Nanang mengaku merasa terpanggil untuk ikut melestarikan kesenian angklung. Terlebih, alat musik tradisional yang berasal dari budaya Sunda tersebut telah diakui UNESCO sebagai warisan budaya.

“Saya merasa terpanggil untuk ikut serta melestarikan alat musik angklung yang awal mulanya sebagai alat musik etnik Sunda dan sekarang sudah diakui UNESCO sebagai warisan budaya,” ujar Nanang.

Saung Angklung Katineung didirikan pada 1 April 2023, bertepatan dengan masa pensiun Nanang sebagai guru Seni Budaya di SMA Negeri 58 Jakarta. Kecintaannya terhadap angklung telah tumbuh sejak remaja. Berbekal pengalaman tersebut, ia terus mengembangkan sekaligus mengenalkan angklung kepada berbagai kalangan, mulai dari anak-anak sekolah, mahasiswa, lansia, hingga para pensiunan.

Nama Saung Angklung Katineung dipilih dengan makna khusus. Kata katineung berasal dari bahasa Sunda yang berarti selalu dikenang dalam hati. Nanang berharap nama tersebut dapat meninggalkan kesan baik bagi masyarakat sehingga tumbuh rasa rindu dan cinta terhadap Saung Angklung Katineung.

“Saya berpikir dan berharap dengan kata Katineung masyarakat lebih terkesan untuk  merindukan dan mencintai Saung Angklung Katineung,” tuturnya.

Bagi Nanang, angklung bukan sekadar alat musik tradisional. Di dalamnya terdapat nilai-nilai yang penting untuk diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat. Ia kerap menyampaikan kepada para pengunjung bahwa angklung memiliki filosofi tentang kebersamaan, disiplin, tanggung jawab, dan toleransi.

“Saya selalu memberikan pemahaman kepada para pengunjung bahwasanya alat musik angklung mempunyai filosofi yang luar biasa, yakni kebersamaan, disiplin, tanggung jawab, dan toleransi,” ucapnya.

Dedikasi Nanang terhadap pelestarian angklung juga tidak hanya dilakukan di Saung Angklung Katineung. Ia aktif melatih ekstrakurikuler angklung di sejumlah sekolah. Setiap Selasa, ia melatih ekstrakurikuler angklung di SMP Negeri 13 Jakarta. Sementara itu, setiap Rabu, ia melatih di SDN Pejaten Timur 11 dan SMP Negeri 73 Jakarta.

Upaya Nanang dalam melestarikan angklung juga membawanya tampil dalam berbagai kegiatan. Beberapa di antaranya adalah pertunjukan angklung di Lapangan Merdeka Kota Sukabumi dalam rangka Hari Ulang Tahun Kota Sukabumi, pertunjukan angklung interaktif bersama para duta besar dari 16 negara di Gedung Juang Kota Sukabumi, serta pertunjukan angklung interaktif bersama warga Singapura di Villa Suka Santai Sukabumi. Pengalaman tersebut menjadi bagian dari upaya Nanang memperkenalkan angklung kepada masyarakat, termasuk pengunjung mancanegara, melalui berbagai kegiatan.

Dalam menjangkau generasi muda, Nanang menggunakan pendekatan interaktif. Ia mengajak mereka berdiskusi secara langsung dan memberikan kesempatan untuk memainkan angklung bersama-sama. Ia juga berupaya mencari berbagai momentum agar para pemain angklung dapat tampil dalam beragam acara.

“Generasi muda harus diraih, diajak diskusi langsung dan diajak bermain angklung bersama-sama,” ungkapnya.

Perjalanan Nanang dalam melestarikan kesenian angklung menunjukkan bahwa usia bukanlah halangan untuk terus berkarya. Berbekal pengalaman sebagai guru Seni Budaya dan kecintaannya terhadap angklung sejak remaja, ia memilih mengabdikan diri untuk memperkenalkan sekaligus menjaga keberadaan alat musik tradisional Indonesia tersebut.

Nanang berharap generasi muda turut terdorong untuk aktif dalam melestarikan budaya Indonesia, khususnya kesenian angklung, agar tetap dikenal dan berkembang di tengah perubahan zaman.

“Harapan saya generasi muda yakni dapat melestarikan dan mengembangkan musik angklung untuk tetap eksis,” pungkasnya.

Penulis: Nailah Fiza Imania | Editor: Nur Alya Nabila

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

Berita Terbaru

  • Dulu Semalam Suntuk, Kini Sekadar Pembuka Acara: Cerita Lengger dari Rumah Lengger Banyumas
    By bagus aji
    Oktober 9, 2026
    Lukisan penari lengger dan seperangkat calung di sudut […]
  • Gemblong Ocar-Acir di Tengah Perubahan Selera Generasi Muda
    By Erdi Aqil Fauzan
    Oktober 8, 2026
    Penulis: Erdi Aqil Fauzan | Keterangan: Feature, […]
  • Ketika Krama Inggil Perlahan Kehilangan Suara di Patikraja
    By Erdi Aqil Fauzan
    Oktober 8, 2026
    Oleh: Farah Nasywa Nurrahma | Narasumber: Mareta & […]

Pendidikan

  • SMA Muhammadiyah Sokaraja Benahi Manajemen untuk Pulihkan Kepercayaan Masyarakat
    By shafrifa aulia
    Pendidikan
    September 29, 2026
  • Keterbatasan Perpustakaan Tak Padamkan Semangat Membaca, Pojok Literasi Jadi Solusi bagi Murid UPTD SDN 3 Kedungdawa
    By calista aneen
    Pendidikan
    September 29, 2026
  • Kopi dan Laptop: Cerita Mahasiswa Unsoed Menghadapi Tenggat Tugas Tengah Semester
    By athaya qila
    Pendidikan
    September 29, 2026

Bahasa

  • Mengenal Dunia Inklusif Melalui Kelas Bahasa Isyarat Himpunan Mahasiswa KIP-K Unsoed
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan, Terbaru
    September 21, 2026
  • Usung Tema “Citta Karya”, Seminar Kepenulisan 2026 Hadirkan Luluk HF, Penulis “Mariposa”
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Resmi Berlangsung 14–16 September
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Hiburan, Pendidikan, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Resmi Dibuka, Wabup Dorong Budaya Baca Masyarakat
    By akt 24
    Bahasa Bahasa, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Hadirkan Beragam Stan Literasi
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan
    September 21, 2026

Kuliner

  • Segelas Dawet Ayu, Rezeki yang Tak Tertukar
    By Hanunah Mumtaz
    Feature, Kuliner, Sosial
    Oktober 8, 2026
  • Makaroni Tasik Mang Dadang, Kuliner Pedas Hits di Purwokerto
    By Hanunah Mumtaz
    Kuliner
    September 21, 2026
  • Memadukan Kopi dan Literasi di Bawah Keteduhan Hutan Pinus Ajibarang
    By kelaas d
    Kuliner, Wisata
    September 21, 2026

Wisata

  • Riak Sang Penyu, Potret Kehidupan di Kawasan Konservasi
    By kelasB
    Pendidikan, Wisata
    September 21, 2026
  • Sabtu Malam, Kawasan Malioboro Dipenuhi Wisatawan
    By akt 24
    Wisata
    September 21, 2026
  • Memadukan Kopi dan Literasi di Bawah Keteduhan Hutan Pinus Ajibarang
    By kelaas d
    Kuliner, Wisata
    September 21, 2026

Sudut Nalar

Media pemberitaan mahasiswa
Hasil praktik Mata Kuliah Dasar-dasar Jurnalistik.

Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jenderal Soedirman

Tautan

Tentang Kami
Susunan Redaksi
Pedoman Media Siber
Kirim Tulisan
Arsip Berita.

Tentang

Diterbitkan oleh mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jenderal Soedirman, sebagai bagian dari praktik Mata Kuliah Dasar-dasar Jurnalistik.

Dosen Pengampu : Dr. Memet Sudaryanto, M.Pd.

©2026 sudutnalar.com | Design: Newspaperly WordPress Theme