sudutnalar.com, 15 September 2026

(Foto: Dok. Khalisa Anti Meilani)
SOKARAJA, BANYUMAS – Di tengah berkembangnya gempuran busana modern, para pelaku usaha dan perajinpengrajin batik di Sokaraja Tengah, Kabupaten Banyumas, terus berupaya menjaga eksistensi batik khas Banyumasan sebagai bagian dari identitas dan warisan budaya daerah agar tidak tergerus zaman. Usaha batik yang kini menjadi salah satu ikon daerah tersebut dirintis sekitar sejak tahun 2008-2009 –2009 oleh Imam Purwanto dan bersama istrinya, Asi Purwandari, seiring meningkatnya permintaan batik setelah pemerintah mewajibkan penggunaan batik di berbagai instansi dan sekolah. Dari Uusaha rumahan yang semula bergerak di bidang lain, kini bisnis tersebut telah berkembang menjadi toko besar yang menggandeng klaster perajinpengrajin dari masyarakat sekitar.
Nurul, karyawan yang sudahtelah 17 tahun bekerja di toko batik tersebut, menceritakan bahwa sebelum menekuniterjun ke dunia batik, Imam Purwanto sebenarnya memiliki menggeluti usaha lain, yakni pembuatan latar foto studio. Peluang bisnis batik baru terbuka setelah ketika kebijakan pemerintah mewajibkan penggunaan batik sehingga membuat permintaan kain batik melonjak. “Dari situ beliau itu merasa bahwa ada nih peluang bisnis di batik., Jadi, beliau buka usaha batik bersamaserta istri. Dulunya itu masih yang kayak rumah gitu, rumah biasa tetapi dibuat usaha,” tutur Nurul.
Menurut Nurul, Imam Purwanto dan istrinya tidak membatik secara langsung, melainkan lebih berperan sebagai pemasar sekaligus pembina klaster perajin pengrajin binaan yang direkrut dari warga sekitar. Kawasan tersebut memang dikenal sebagai kampung batik, sehingga sebagian besar warganya memiliki keterampilan membatik secara turun-temurun.
Batik produksi toko ini pada awalnya mengusung motif khas Banyumasan dengan corak dasar “sogan-wudel”, yakni perpaduan warna cokelat (sogan) dan hitam (wudel). Namun, seiring berkembangnya pasar hingga ke luar kota dan luar pulau, toko tersebut mulai memproduksi pula motif Nusantara mengikuti permintaan pelanggan.
Nurul menjelaskan bahwa , setiap motif batik pakem Banyumasan memiliki filosofi tersendiri. Motif lumbon misalnya, terinspirasi dari daun talas yang tidak pernah basah meski terkena air. “Filosofinya itu disitu ada ceritanya., Jjadi, kalau orang Banyumas itu bisa ditempatkan dan mudah beradaptasi dimanapun,” ujarnya. Selain lumbon, motif khas lain yang dikenal, sepertiantara lain bawor, pring sedapur, dan babon angkrum.
Lama proses pembuatan batik di toko ini bervariasi, tergantung teknik dan tingkat kerumitan motif. Batik tulis manual yang melalui proses pembatikan dan pewarnaan berulang kali bisa memakan waktu satu minggu hingga berbulan-bulan. Sementara itu, batik cap maupun kombinasi setengah mesin dapat diselesaikan lebih cepat karena sebagian prosesnya dibantu peralatan.
Tantangan terbesar yang dihadapi, menurut Nurul, adalah tingginya harga batik tulis manual sehingga kurang terjangkau bagi sebagian kalangan. Untuk mengatasinya, toko ini menghadirkan pilihan batik cap dan kombinasi dengan harga lebih terjangkau, sekaligus terus berinovasi pada warna dan desain agar diminati generasi muda. “Kalau misal tidak ada aturan itu, mungkin batik udah masuk ke museum,” ujar Nurul, mengungkapkan merujuk pada kekhawatirannya jika kewajiban penggunaan batik oleh pemerintah suatu saat dicabut.
Untuk mengenalkan batik kepada generasi muda, toko ini juga membuka program pelatihan membatik yang terbuka untuk umum , tidak terbatas pada pelajar saja, dengan sejumlah syarat dan ketentuan.

(Foto: Dok. Khalisa Anti meilani)
Selain pelaku usaha, geliat batik Sokaraja juga didukungditopang oleh para perajinpengrajin, salah satunya Yuli, 47, (47), warga asli Sokaraja Timur. Yuli telah membatik sejak tahun 1994, saat usianya baru 15 tahun. Ketertarikannya pada batik bermula dari kebiasaannya mengamati tetangga yang sedang membatik, ditambah bakat seni yang menurun dari sang ayah.
“Dulu saking sukanya menggambar, saya sering menggambar batik di celana hingga dimarahi ibu,” kenang Yuli. Kegemarannya itu lama-kelamaan berkembang menjadi keterampilan membatik yang mumpuni secara otodidak. Batik pertama yang ia jual dulu dihargai Rp60.000, mengingat saat itu batik belum banyak diminati pasar.
Yuli menjelaskan, proses membatik tulis manual terdiri atas beberapa tahap: menggambar motif, memberi lilin malam pada kain menggunakan canting, pewarnaan, hingga pelorodan atau proses menghilangkan lilin malam dengan cara direbus. Setelah lilin terlepas, kain dapat dibatik dan diwarnai kembali untuk motif berikutnya sesuai tingkat kerumitan yang diinginkan. Peralatan yang digunakan antara lain canting, gawangan (penggawangan), malam, dan wajan untuk melelehkan malam.
Untuk motif sederhana, Yuli mampu menyelesaikan gambar corak dalam satu hari, sementara motif rumit bisa memakan waktu dua hingga tiga hari. Biasanya, satu motif ia terapkan pada empat lembar kain sekaligus. “Menggambar batik tidak ada yang sulit, semakin sulit semakin menantang,” ujarnya, menambahkan bahwa membuat batik yang bagus membutuhkan jiwa seni dan imajinasi agar hasilnya proporsional dan “hidup”.
Salah satu momen paling membanggakan bagi Yuli adalah ketika karyanya, batik motif bawor, dipesan khusus oleh Bupati Banyumas, Husein, dan diselesaikan dalam waktu satu minggu.
Baik Nurul maupun Yuli berharap batik Banyumasan, khususnya batik Sokaraja, terus dilestarikan lintas generasi. Yuli menyebutkan, Sokaraja memiliki sejumlah motif khas yang tidak ditemukan di daerah lain, yaitu wahyu temurun, karangrusak, sidamukti, batik getuk, dan batik soto.
“Batik sekarang sudah diakui oleh UNESCO sebagai warisan budaya takbenda., Jadi, semoga semua kalangan bisa bersama-sama terus melestarikan batik-batik di Indonesia,” kata Yuli. Senada dengan itu, Nurul menegaskan pentingnya mengenalkan batik kepada anak-anak sekolah sejak dini agar generasi muda tetap bangga mengenakan dan melestarikan batik khas daerahnya.
Penulis: Khalisa Anti Meilani
Editor: Nesa Aprillia
