Skip to content
sudutnalar.com
Menu
  • Beranda
  • Tentang
  • Bahasa
  • Wisata
  • Tips
  • Budaya
  • Teknologi
  • Sosial
  • Politik
  • Sastra
  • Kuliner
  • Hiburan
  • Profile
  • Pendidikan
  • Feature
  • Ekonomi
  • Hukum
Menu

Menjaga Warisan Rasa di Sudut Pasar: Kisah Mbah Sarjo Merawat Tradisi Dawet Ayu

Posted on September 16, 2026September 16, 2026 by Zidan Diyaaul Haq

Dimas Saladin Firmansyah

Sudutnalar.com, 16 September 2026

Mbah Sarjo sedang meracik buah nangka untuk bahan campuran es dawet ayu di lapaknya, Banjarnegara, Rabu (16/9/2026). (Foto: Dok. Pribadi)

PURWOKERTO,  Sudut Nalar – Di tengah gempuran aneka minuman modern dan tren kuliner kekinian keberadaan es dawet ayu tradisional tetap memiliki ruang tersendiri di hati masyarakat. Lebih dari sekadar pelepas dahaga, minuman ini menyimpan nilai sejarah dan identitas lokal yang patut dijaga. Di sudut pasar tradisional, Mbah Sarjo (68) menjadi salah satu sosok penjaga tradisi yang setia merawat resep warisan tersebut.

Usaha dawet ayu yang dikelola Mbah Sarjo bukanlah bisnis yang berdiri baru berdiri, melainkan warisan budaya keluarga yang diwariskan secara turun-temurun. Dirintis oleh sang ayah mertua sebagai generasi pertama sejak tahun 1982, Mbah Sarjo kini meneruskan estafet tersebut sebagai generasi kedua setelah sang mertua wafat.

Ketika ditanya alasan mengapa ia memilih bertahan dengan usaha dawet ayu ketimbang beralih ke jenis minuman atau usaha lain yang lebih modern, Mbah Sarjo mengungkapkan komitmen sederhananya. Bagi Mbah Sarjo, usaha ini bukan sekadar mencari nafkah, melainkan ikhtiar melanjutkan amanah keluarga sekaligus melestarikan dawet ayu sebagai warisan kebudayaan daerah yang bernilai tinggi. Ia menegaskan bahwa kecintaannya pada dawet ayu dan dorongan untuk menjaga tradisi lokal menjadi alasan utamanya menolak beralih ke minuman kekinian. Bagi Mbah Sarjo, melestarikan dawet ayu adalah tanggung jawab bersama; jika bukan generasi penerus yang menjaganya, maka warisan budaya tersebut bisa terancam hilang ditelan zaman.

“Ini melanjutkan dari bapak mertua, melanjutkan warisan keluarga,” ungkap Mbah Sarjo saat ditemui di lapak jualannya.

Menjalani bisnis kuliner tradisional selama lebih dari empat dekade tentu diwarnai dengan berbagai tantangan dan dinamika zaman. Dari segi harga, Mbah Sarjo menceritakan bagaimana perubahan nilai ekonomi terus terjadi. Saat ia mulai ikut mengelola usaha ini di era 2000-an, segelas dawet ayu masih dijual seharga Rp500 hingga Rp1.500. Kini, seiring berjalannya waktu dan penyesuaian harga bahan baku, segelas kesegaran khas tersebut dibanderol seharga Rp10.000.

Tantangan tak berhenti pada perubahan harga semata. Mbah Sarjo mengingat betul perjuangan beratnya di masa-masa awal merintis usaha, ketika ia harus membangun langganan dan memperkenalkan usahanya dari nol. Selain masa perintisan, ia juga menghadapi ketidakpastian pendapatan harian di pasar ada kalanya meja jualannya dibanjiri pembeli hingga ramai riuh, namun tak jarang pula suasana pasar begitu sepi. Ujian terberat dirasakan saat pandemi COVID-19 melanda selama dua tahun, di mana pasar sepi pengunjung dan aktivitas penjualan merosot tajam.

“Waktu Corona ya sepi orang, terasa sekali bedanya,” kenangnya mengingat masa-masa sulit tersebut.

Meski harus melewati perjuangan di masa merintis, menghadapi penjualan harian yang tak menentu, hingga terpaan krisis pandemi, keteguhan Mbah Sarjo dalam merawat tradisi tidak pernah luntur. Dibantu oleh pekerjanya, ia terus menyajikan dawet ayu dengan cita rasa otentik setiap harinya.

Saat ditanya mengenai harapannya terhadap kelestarian minuman tradisional ini di masa mendatang, Mbah Sarjo menyampaikan optimisme sederhananya.

“Ya harapannya bagus, ke depannya tetap bagus,” tutupnya singkat penuh rasa optimis.

Kisah Mbah Sarjo menjadi cerminan bahwa pelestarian kebudayaan tidak harus selalu lewat panggung besar. Dari sudut pasar tradisional, lewat gelas-gelas dawet ayu yang diracik sepenuh hati, sebuah tradisi lokal terus dirawat agar tak lenyap ditelan zaman.

Penulis: Dimas Saladin Firmansyah
Editor: Devan Aryogi

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

Berita Terbaru

  • Dulu Semalam Suntuk, Kini Sekadar Pembuka Acara: Cerita Lengger dari Rumah Lengger Banyumas
    By bagus aji
    Oktober 9, 2026
    Lukisan penari lengger dan seperangkat calung di sudut […]
  • Gemblong Ocar-Acir di Tengah Perubahan Selera Generasi Muda
    By Erdi Aqil Fauzan
    Oktober 8, 2026
    Penulis: Erdi Aqil Fauzan | Keterangan: Feature, […]
  • Ketika Krama Inggil Perlahan Kehilangan Suara di Patikraja
    By Erdi Aqil Fauzan
    Oktober 8, 2026
    Oleh: Farah Nasywa Nurrahma | Narasumber: Mareta & […]

Pendidikan

  • SMA Muhammadiyah Sokaraja Benahi Manajemen untuk Pulihkan Kepercayaan Masyarakat
    By shafrifa aulia
    Pendidikan
    September 29, 2026
  • Keterbatasan Perpustakaan Tak Padamkan Semangat Membaca, Pojok Literasi Jadi Solusi bagi Murid UPTD SDN 3 Kedungdawa
    By calista aneen
    Pendidikan
    September 29, 2026
  • Kopi dan Laptop: Cerita Mahasiswa Unsoed Menghadapi Tenggat Tugas Tengah Semester
    By athaya qila
    Pendidikan
    September 29, 2026

Bahasa

  • Mengenal Dunia Inklusif Melalui Kelas Bahasa Isyarat Himpunan Mahasiswa KIP-K Unsoed
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan, Terbaru
    September 21, 2026
  • Usung Tema “Citta Karya”, Seminar Kepenulisan 2026 Hadirkan Luluk HF, Penulis “Mariposa”
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Resmi Berlangsung 14–16 September
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Hiburan, Pendidikan, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Resmi Dibuka, Wabup Dorong Budaya Baca Masyarakat
    By akt 24
    Bahasa Bahasa, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Hadirkan Beragam Stan Literasi
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan
    September 21, 2026

Kuliner

  • Segelas Dawet Ayu, Rezeki yang Tak Tertukar
    By Hanunah Mumtaz
    Feature, Kuliner, Sosial
    Oktober 8, 2026
  • Makaroni Tasik Mang Dadang, Kuliner Pedas Hits di Purwokerto
    By Hanunah Mumtaz
    Kuliner
    September 21, 2026
  • Memadukan Kopi dan Literasi di Bawah Keteduhan Hutan Pinus Ajibarang
    By kelaas d
    Kuliner, Wisata
    September 21, 2026

Wisata

  • Riak Sang Penyu, Potret Kehidupan di Kawasan Konservasi
    By kelasB
    Pendidikan, Wisata
    September 21, 2026
  • Sabtu Malam, Kawasan Malioboro Dipenuhi Wisatawan
    By akt 24
    Wisata
    September 21, 2026
  • Memadukan Kopi dan Literasi di Bawah Keteduhan Hutan Pinus Ajibarang
    By kelaas d
    Kuliner, Wisata
    September 21, 2026

Sudut Nalar

Media pemberitaan mahasiswa
Hasil praktik Mata Kuliah Dasar-dasar Jurnalistik.

Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jenderal Soedirman

Tautan

Tentang Kami
Susunan Redaksi
Pedoman Media Siber
Kirim Tulisan
Arsip Berita.

Tentang

Diterbitkan oleh mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jenderal Soedirman, sebagai bagian dari praktik Mata Kuliah Dasar-dasar Jurnalistik.

Dosen Pengampu : Dr. Memet Sudaryanto, M.Pd.

©2026 sudutnalar.com | Design: Newspaperly WordPress Theme