Penulis: Malika Ilmanafi Hanun Huwaidaa
Editor: Resti Larasati Arum Rahayu

Sumber: Pinterest
Kalicupak Kidul — Warga Kalicupak Kidul menggelar makan bersama pada malam Jumat Kliwon sebagai salah satu rangkaian tradisi Suroan. Kegiatan tersebut dilakukan setelah salat Isya hingga sekitar pukul 22.00 WIB. Warga berkumpul sambil menikmati makanan yang dibawa oleh masing-masing rumah.
Makan bersama menjadi salah satu kegiatan yang paling dinantikan warga dalam tradisi Suroan. Makanan yang disajikan berasal dari warga di setiap RT. Para ibu biasanya membawa berbagai makanan, seperti sayur kluban, tempe, ayam, mie, lalapan, serta makanan lainnya. Beberapa makanan yang umum di sajikan dalam kegiatan tersebut adalah ayam ingkung, nasi tumpeng, kluban, dan lalapan.
Menurut Ibu Titi, warga tidak diwajibkan membawa makanan dalam jumlah banyak atau makanan yang mewah. Setiap orang membawa makanan sesuai dengan kemampuan masing-masing.
“Warga bawa makanan sendiri-sendiri. Yang penting bisa ikut makan bareng. Saya juga bawa satu semangka sama lalapan. Nggak harus bawa makanan yang banyak atau mewah,” ujar Ibu Titi.
Sebelum makan bersama dimulai, warga terlebih dahulu mengikuti doa yang dipimpin oleh seorang ustaz yang dikenal di lingkungan desa. Doa tersebut ditujukan untuk memohon keselamatan dan kesehatan warga serta keberhasilan dalam pertanian.
“Sebelum makan bareng, doa dulu. Minta supaya warga selamat, sehat, tanamannya subur, rakyatnya makmur, panennya banyak, sama padinya nggak kena hama seperti wereng,” kata Ibu Titi.
Setelah doa selesai, warga mulai menikmati makanan yang telah dikumpulkan. Kegiatan tersebut diikuti oleh berbagai kalangan, mulai dari bapak-bapak, ibu-ibu, hingga anak-anak. Selain makan bersama, warga juga menggunakan kesempatan tersebut untuk berbincang dan bersilaturahmi.
“Yang bikin senang ya bisa kumpul bareng sama warga. Nggak cuma makan, tapi juga bisa silaturahmi dan guyub,” tuturnya.
Tradisi Suroan di Kalicupak Kidul dilaksanakan pada 10, 11, dan 12 Muharram. Makan bersama pada malam Jumat Kliwon menjadi salah satu rangkaian yang tetap dilakukan oleh masyarakat hingga saat ini. Ibu Titi mengatakan bahwa tradisi tersebut sudah ada sejak ia masih kecil.
Menurutnya, pelaksanaan Suroan tidak hanya menjadi kegiatan rutin masyarakat, tetapi juga menjadi salah satu cara untuk menjaga kebiasaan yang sudah dilakukan oleh masyarakat terdahulu. Dalam pelaksanaannya, tradisi Suroan juga dapat disertai pertunjukan seperti wayang kulit atau kuda lumping.
Keberlangsungan tradisi tersebut juga tidak terlepas dari keterlibatan generasi muda. Ibu Titi berharap anak-anak muda di Kalicupak Kidul tidak hanya datang untuk mengikuti makan bersama, tetapi juga memahami nilai dari tradisi yang dilakukan masyarakat.
“Mudah-mudahan anak muda mau ikut melestarikan tradisi ini. Jangan cuma datang pas makan, tapi juga tahu kalau ini tradisi dari orang-orang dulu yang harus diteruskan,” harapnya.
Bagi masyarakat Kalicupak Kidul, makan bersama dalam tradisi Suroan bukan sekadar kegiatan menikmati makanan. Kegiatan tersebut menjadi ruang bagi warga untuk berkumpul, berbagi makanan, bersilaturahmi, serta memanjatkan doa bersama. Kebersamaan inilah yang membuat tradisi Suroan tetap dipertahankan oleh masyarakat hingga sekarang.
