Penulis Berita : Assifa Sahra Isna Niansyah
Editor Berita : Aniqotul Lutfiyah
11 September 2026, 19:40

PURWOKERTO — Dialek Banyumasan masih digunakan oleh generasi muda di Banyumas. Namun, penggunaannya mulai mengalami perubahan, terutama di lingkungan pendidikan dan pergaulan. Interaksi dengan anak muda dari berbagai daerah membuat bahasa Indonesia lebih sering digunakan sebagai bahasa komunikasi.
Salah seorang mahasiswa asal Banyumas, Nur Fauzan, mengatakan bahwa dirinya masih menggunakan dialek Banyumasan, terutama ketika berbicara dengan teman dari Banyumas Raya atau Barlingmascakeb. Dialek tersebut biasanya digunakan dalam situasi informal, seperti saat berada di kantin, setelah mengikuti kelas, atau ketika berpapasan dengan teman. “Terkadang dengan teman yang masih bisa menggunakan dialek Banyumasan, biasanya dengan teman-teman yang masih dari Banyumas Raya atau Barlingmascakeb,” ujarnya.
Namun, ketika berbicara dengan teman yang bukan berasal dari Banyumas, Fauzan memilih menggunakan bahasa Indonesia. Menurutnya, pilihan tersebut dilakukan karena ia merasa tidak nyaman apabila lawan bicara tidak memahami dialek Banyumasan.
“Beralih menggunakan bahasa Indonesia, terkadang enggak enak dengan lawan bicara yang tidak paham dengan dialek Banyumasan, karena beberapa orang bilang dialek Banyumasan cukup susah dipahami mereka,” ungkapnya.
Kondisi serupa juga terlihat di lingkungan sekolah. Sri Galuh, guru Bahasa Jawa di SMA Negeri 1 Baturraden, mengatakan bahwa siswa masih memahami dan menggunakan kosakata dialek Banyumasan dengan baik. Namun, dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, penggunaan bahasa Indonesia di kalangan siswa kini semakin meningkat.

Menurut Sri Galuh, salah satu penyebab berkurangnya penggunaan dialek Banyumasan adalah anggapan bahwa dialek tersebut terkesan “desa” atau “kuno”. Selain itu, ketertarikan terhadap budaya luar dan perkembangan internet turut memengaruhi penggunaan bahasa daerah di kalangan siswa. Meski demikian, sekolah memiliki peran penting dalam menjaga keberadaan dialek Banyumasan melalui pembelajaran Bahasa Jawa. Siswa dapat menggunakan dialek tersebut dalam penyampaian materi dan pengerjaan tugas. Pembiasaan “satu hari satu bahasa ibu” juga dapat menjadi salah satu upaya untuk mempertahankan penggunaannya.
Bagi Sri Galuh, dialek Banyumasan masih relevan bagi generasi muda karena merupakan bagian dari budaya yang perlu dilestarikan.
“Untuk nguri-uri budaya (melestarikan budaya), jangan sampai hilang atau diklaim oleh negara lain,” ujarnya.
Dialek Banyumasan masih menjadi bagian dari kehidupan generasi muda di Banyumas. Meskipun penggunaannya menyesuaikan lingkungan dan lawan bicara, penggunaan dialek tersebut penting untuk menjaga identitas budaya masyarakat Banyumas.
