Sudutnalar.com, Minggu, 20 September 2026, 14.15 WIB

Dokumentasi kegiatan Upgrading Nasional Legislator Partai Golkar yang berlangsung di Jakarta, 10–13 Desember 2024 (Foto: Dok. Koleksi Ritsiko Arda Nari)
Demak – Sudutnalar.com, Jauh sebelum dikenal sebagai anggota DPRD, Ritsiko Arda Nari sudah mengenal dunia usaha dari kandang kambing milik ayahnya yang sudah tidak digunakan. Dari tempat sederhana itu, ia mencoba memelihara bebek pedaging. Usaha tersebut sempat gagal, tetapi Riko tidak menyerah. Ia kemudian beralih memelihara bebek petelur hingga berhasil, dari yang awalnya hanya sekitar 300 ekor kini dapat mencapai ribuan ekor.
Perjalanan ini menjadi bagian penting dalam hidup Riko. Ketika kesibukannya di dunia politik semakin padat, perhatian terhadap usaha mulai berkurang. Usaha yang diserahkan kepada orang lain akhirnya mengalami kemunduran. Dari pengalaman tersebut, Riko menyadari bahwa usaha yang telah dibangun tetap membutuhkan perhatian dan tidak bisa ditinggalkan begitu saja.
“Kalau politik ya politik, usaha ya usaha. Tidak mungkin makan dari hasil uang politik.” katanya.
Kini, Riko kembali menata usahanya, termasuk merintis usaha di bidang perikanan. Bagi Riko, usaha dapat menjadi sumber penghasilan yang tetap berjalan setelah tidak lagi berkecimpungan di dunia politik. Keinginan tersebut bukan hanya soal pekerjaan, tetapi juga berkaitan dengan pesan yang sejak dulu disampaikan orang tuanya.
Pesan orang tua selalu menjadi prinsip yang dipegang Riko dalam menjalani hidup. Ia mengingat nasihat bahwa hidup hanya sekali dan setiap orang akan meninggalkan sesuatu dari apa yang dilakukannya. Orang tuanya juga mengajarkan bahwa apa yang ditanam itulah yang akan dituai. Kebaikan yang ditanam, akan menghasilkan kebaikan pula.
Prinsip itu yang memengaruhi cara Riko melihat perjalanan hidupnya. Riko ingin memiliki ilmu yang bermanfaat dan harta lebih dari cukup agar bisa membantu orang lain yang membutuhkan. Karena itu, jabatan bukan satu-satunya hal yang ingin ia tinggalkan.
“Saya tidak ingin dikenal hanya sebagai DPRD, yang penting saya punya ilmu bermanfaat dan punya harta lebih banyak untuk membantu orang yang membutuhkan.” ujarnya.
Dua periode menjadi anggota DPRD merupakan salah satu fase dalam perjalanan hidup Riko. Selama menjalankan tugas, ia menangani persoalan dengan turun langsung kepada masyarakat, berbincang dengan warga dan mendengar keluh kesah mereka dari dekat. Baginya, persoalan masyarakat tidak cukup dipahami melalui laporan dan rapat.
“Kalau kita tidak turun langsung, kita tidak mungkin tahu permasalahannya. Harus terjun langsung, jangan mengatasnamakan, ‘Ini loh, saya DPR!’ sebab yang dibutuhkan Masyarakat adalah tindakan nyata” ujar Riko.
Cara tersebut membuat Riko menemukan persoalan yang tidak selalu terlihat dari laporan. Salah satunya ketika ia menemui warga di kawasan pesisir Sayung yang rumahnya terdampak banjir. Dari pertemuan itu, Riko mendengar langsung keluhan warga mengenai persoalan yang terus mereka hadapi.
Pengalaman di lapangan memengaruhi cara Riko melihat kebijakan. Dalam persoalan ketahanan pangan, ia menilai pemerintah tidak cukup jika hanya memberikan pelatihan. Kebutuhan dasar seperti irigasi juga perlu diperhatikan agar program dapat berjalan secara maksimal.
“Ibaratnya rumah, harus di pondasi supaya kuat.’’ katanya.
Bagi Riko, turun ke masyarakat merupakan hal dasar untuk memahami kebutuhan daerah yang diwakilinya. Ketika kebutuhan masyarakat tidak selalu sejalan dengan kebijakan, ia tetap berupaya agar kebutuhan tersebut diperjuangkan dalam pembahasan anggaran.
Riko kini memilih menata kembali usahanya selagi masih memiliki tenaga, pikiran, dan kesempatan. Baginya, membangun sesuatu yang bermanfaat tidak perlu menunggu jabatan berakhir.
“Mumpung otak masih bisa berpikir, masih ada tenaga, ayo semangat. Tahun depan belum tentu masih bisa.” ujar Riko.
Penulis – Ilma Lutfi Anasari
Editor – Elisyia Putri Himawan
