
Desain 3D mesin pengayak gula kelapa otomatis SOLVIA yang terintegrasi panel surya dan sistem IoT.
Sumber foto: Farhat Huda
BANYUMAS, SUDUTNALAR – Modernisasi teknologi pascapanen produk gula kelapa di Kabupaten Banyumas kini memasuki babak baru berkat hadirnya mesin pengayak otomatis berbasis energi terbarukan dan Internet of Things (IoT) bernama SOLVIA. Teknologi tepat guna ini hadir sebagai solusi atas persoalan klasik proses pascapanen tradisional di Desa Pernasidi, Kecamatan Cilongok, salah satu kawasan sentra produksi gula kelapa nasional. Dikembangkan sejak tahun 2024 dan disempurnakan pada periode Agustus hingga Desember 2026, SOLVIA kini telah dioperasikan secara penuh untuk mendampingi 57 perajin gula kelapa aktif di Kelompok Tani Gendis Asri.
Keunggulan utama mesin SOLVIA ada pada kemandirian energinya dan sistem pencatatan otomatis. Mesin ini tidak menyedot listrik rumah warga karena sepenuhnya digerakkan oleh tenaga matahari menggunakan panel surya berkapasitas 585 Wp. Daya dari matahari ini dipakai untuk memutar mesin penggerak berdaya 300 Watt. Inovasi ini sangat membantu karena sebagian besar rumah produksi warga desa memiliki keterbatasan daya listrik yaitu 900 Watt, sehingga mesin tetap dapat beroperasi penuh tanpa membebani tagihan listrik warga.
Selain hemat listrik, mesin ini juga dilengkapi sistem pencatatan digital otomatis bernama CocoBase. Di dalam mesin dipasang sensor penimbang load cell dan chip pengolah data ESP32. Saat gula hasil ayakan keluar, beratnya langsung terhitung dan datanya otomatis terkirim ke sistem komputer secara real-time. Hasil produksi pun tercatat rapi tanpa perlu ditulis manual di buku.
“Kunci utamanya adalah menyelesaikan masalah dari awal sampai akhir. Kami menjawab lambatnya produksi dengan mesin, mengatasi masalah biaya listrik dengan panel surya, dan membereskan pencatatan manual dengan sensor IoT yang datanya langsung masuk ke sistem CocoBase,” ujar tim pengembang SOLVIA.

Tim pengembang SOLVIA bersama para petani saat melakukan pengujian langsung mesin pengayak gula kelapa otomatis di lapangan.
Sumber foto: Farhat Huda
Saat diuji di lapangan, mesin SOLVIA terbukti bekerja sangat cepat dan rapi. Biasanya, untuk menyaring 10 kilogram gula kelapa secara manual butuh waktu 1 sampai 2 jam. Dengan mesin ini, prosesnya selesai hanya dalam waktu 7 sampai 10 menit saja. Hasil butiran gulanya pun sangat seragam hingga 90 persen. Agar mesin tidak mudah macet atau tersumbat saat gula dimasukkan, tim juga memasang alat pengatur kecepatan variable speed controller agar putaran mesin selalu stabil.
Dari segi bahan, mesin ini dibuat sangat aman untuk bahan makanan. Bagian saringan dan wadah penampung gulanya memakai bahan stainless steel standar olahan pangan food grade yang anti karat dan higienis. Sedangkan bagian kerangkanya menggunakan baja galvanis yang kuat. Agar mesin tidak bergetar terlalu kencang saat menyaring gula, tim menambahkan pegas peredam di titik tumpu utama. Hasilnya, mesin bekerja sangat stabil, tahan lama, dan belum pernah mengalami kerusakan downtime 0% selama digunakan.
Mesin ini juga dirancang sangat ramah bagi pekerja perempuan. Tinggi mesin dibuat pas 110 cm agar ibu-ibu bisa bekerja sambil berdiri nyaman, tidak perlu lagi berjongkok berjam-jam yang sering menyebabkan sakit punggung. Saat mengoperasikan mesin, para pekerja juga dibekali perlengkapan keselamatan kerja dan Alat Pelindung Diri.
“SOLVIA dirancang agar dapat dioperasikan dan dirawat secara mandiri oleh masyarakat. Harapannya, inovasi ini tidak berhenti sebagai proyek, tetapi bisa terus berkembang dan direplikasi,” ujar tim pengembang SOLVIA.
Melalui integrasi antara teknologi mekanisasi, energi terbarukan, dan sistem digital, SOLVIA diharapkan menjadi langkah nyata menuju desa mandiri energi dan ekonomi berbasis potensi lokal.
Penulis: Ardita Nadine Aulya
Editor: Indra Syahdan Ngatik
