
(Sumber foto: Ananda Silvi’a Yunina dan Internet)
BANYUMAS, SUDUT NALAR – Perkembangan teknologi menghadirkan layanan penerjemahan otomatis yang memudahkan komunikasi lintas bahasa. Penerjemah manusia tetap dibutuhkan dalam kegiatan industri untuk memahami konteks, istilah teknis, dan perkembangan teknologi serta menyampaikan instruksi kerja sesuai kebutuhan pekerja.
Pengajar sekaligus penerjemah bahasa Mandarin, Ananda Silvia’ Yunina, mengatakan kemampuan bahasa Mandarin membantu masyarakat Indonesia berkomunikasi langsung dengan pihak Tiongkok. Komunikasi tersebut dapat digunakan untuk menggali pengetahuan dan teknologi yang belum tersedia di Indonesia.
“Kalau kita menguasai bahasa Mandarin, kita dapat berkomunikasi dengan pihak Tiongkok, menggali ilmu dan teknologi dari mereka, lalu menerapkannya untuk mengembangkan sumber daya di Indonesia,” ujar Silvi (25/9/2026).
Kerja sama dengan pihak Tiongkok membuat penerjemah dibutuhkan dalam berbagai kegiatan industri. Penerjemah membantu pekerja memahami penjelasan tenaga ahli, buku panduan, instruksi kerja, dan prosedur pengoperasian mesin.
Peran tersebut juga diperlukan dalam pelatihan. Penerjemah menyampaikan materi dari tenaga ahli dengan bahasa yang mudah dipahami agar pekerja dapat mengikuti arahan dan menerapkan teknologi secara tepat.
Layanan penerjemahan otomatis dapat menerjemahkan teks atau ujaran secara cepat. Hasilnya belum selalu sesuai dengan maksud pembicara dan terkadang masih menggunakan bahasa yang kaku.
“Penerjemah manusia masih dibutuhkan karena dapat memahami maksud pembicaraan dan menyampaikannya dengan bahasa yang lebih mudah dipahami,” jelas Silvi.
Penerjemah membantu komunikasi antara pekerja, mandor, pimpinan perusahaan, dan tenaga ahli. Peran tersebut dapat mengurangi kesalahpahaman dalam kegiatan produksi, pembangunan, pelatihan, dan pengoperasian mesin.
Kemampuan bahasa Mandarin juga menjadi nilai tambah dalam dunia kerja. Perusahaan yang bekerja sama dengan pihak Tiongkok membutuhkan tenaga yang mampu berkomunikasi langsung dengan tenaga ahli.
Reporter: Nabila Hannabel Kalila
Editor: Julie Putri Winasis
