Skip to content
sudutnalar.com
Menu
  • Beranda
  • Tentang
  • Bahasa
  • Wisata
  • Tips
  • Budaya
  • Teknologi
  • Sosial
  • Politik
  • Sastra
  • Kuliner
  • Hiburan
  • Profile
  • Pendidikan
  • Feature
  • Ekonomi
  • Hukum
Menu

Merawat Warisan Budaya Lewat Berkebaya: Kisah Qorry Octaviani

Posted on Oktober 8, 2026Oktober 8, 2026 by calista aneen

sudutnalar.com, 8 Oktober 2026

Oleh : Titis Dwi Pamilih

Sumber: Instagram @qorryoctaviani

PURWOKERTO, SUDUTNALAR – Derasnya arus tren berpakaian Barat yang mendominasi anak muda, penampilan Qorry Octaviani justru menjadi perhatian bagi masyarakat sekitar. Perempuan yang kerap disapa Qorry atau Octa ini tidak menggunakan pakaian dengan gaya Barat, melainkan menggunakan kebaya yang dipadukan dengan kain jarik.

Bagi Qorry, pilihan untuk berbusana dengan kebaya dan jarik ini bukan sekadar untuk bergaya atau mencari perhatian di media sosial, melainkan sebuah keputusan nyata untuk merawat warisan budaya sekaligus bentuk penerimaan diri secara utuh.

Perjalanan perempuan berumur 28 tahun ini dalam merawat warisan budaya dimulai dari pengalaman pribadinya dalam menghadapi standar kecantikan modern. Sebelum konsisten berkebaya, ia sempat berada di titik tidak percaya diri akibat tuntutan sosial terkait penampilan fisik. Titik balik pandangannya terjadi saat mengamati kebiasaan sang nenek yang tetap konsisten mengenakan kebaya dalam keseharian. Momen tersebut berlanjut ketika sang nenek menyerahkan kebaya kenangan masa mudanya kepada Qorry untuk dikenakan.

Pengalaman pertama dalam mengenakan kebaya warisan tersebut meninggalkan kesan mendalam bagi Qorry. “Saat pertama kali pakai kebaya itu, rasanya luar biasa banget. Perasaanku kayak dibawa kembali ke diri sendiri, merasa utuh, dan tahu siapa diriku yang sebenarnya,” ujar Qorry saat mengenang momen tersebut. Pakaian itu ia maknai sebagai pengingat untuk menerima kondisi diri apa adanya tanpa harus menyesuaikan diri dengan kriteria fisik dan standar kecantikan yang ada.

Sejak saat itu, perempuan Bandung tersebut menjadikan busana kebaya dan kain jarik sebagai bagian dari gaya hidupnya. Lewat media sosial, ia membagikan berbagai dokumentasi visual yang memperlihatkan bagaimana kebaya dapat diintegrasikan ke dalam aktivitas harian.

Pendekatan ini dilakukan untuk menunjukkan bahwa pakaian tradisional tidak bersifat kaku dan tetap relevan dipakai oleh generasi muda di era modern.

Tidak hanya melestarikan budaya lewat berkebaya, Qorry juga aktif dalam memperkenalkan mengenai cara agar perempuan lebih percaya diri dengan kondisi yang dimiliki. Menurutnya, kunci utama percaya diri adalah keberanian untuk berhenti membandingkan diri dengan standar orang lain dan mulai merasa cukup atas apa yang dimiliki. β€œBuatku, definisi cantik itu sederhana. Saat kita merasa cukup, nyaman, dan berani jadi diri sendiri. Sebagai wanita Indonesia, cantik itu bukan soal ngikutin beauty standard tertentu, tapi soal kita bangga terhadap identitas kita,” ujar Qorry.

Konsistensi Qorry dalam berkebaya memicu perubahan signifikan pada kondisi psikologis dan tingkat kepercayaan dirinya. Ia mengaku kini merasakan kedamaian batin dan semakin bangga dengan identitas sebagai perempuan Indonesia, termasuk warna kulit sawo matang dan tekstur rambut alaminya. Bagi Qorry, konsep kecantikan itu sejatinya sederhana dan berakar pada pemahaman diri.

Meski demikian, aktivitas tersebut tidak lepas dari tantangan stigma publik. Kebaya masih kerap dipandang oleh sebagian masyarakat sebagai pakaian yang tidak praktis, panas, dan terbatas untuk acara formal. Qorry menyikapi hal tersebut dengan menerapkan teknik padu padan yang sesuai dengan aktivitas sehari-hari. Ia juga memandang maraknya modifikasi model kebaya oleh generasi muda sebagai fenomena positif untuk menjaga keberlanjutan tradisi agar tidak punah ditelan zaman.

Upaya yang ditunjukkan Qorry mendapat respons positif dari lingkungannya serta para pengikut di media sosial. Sejumlah warganet merespons bahwa konten tersebut menjadi ruang diskusi yang dapat membangun kepercayaan diri, bahkan menjadi inspirasi untuk mulai mengenakan kebaya dalam kegiatan sehari-hari. Melalui konsistensinya dalam membuat konten, ia menunjukkan bagaimana tradisi lokal dapat dihidupkan kembali sebagai bagian dari identitas dan ekspresi diri di tengah masyarakat modern.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

Berita Terbaru

  • Dulu Semalam Suntuk, Kini Sekadar Pembuka Acara: Cerita Lengger dari Rumah Lengger Banyumas
    By bagus aji
    Oktober 9, 2026
    Lukisan penari lengger dan seperangkat calung di sudut […]
  • Gemblong Ocar-Acir di Tengah Perubahan Selera Generasi Muda
    By Erdi Aqil Fauzan
    Oktober 8, 2026
    Penulis: Erdi Aqil Fauzan | Keterangan: Feature, […]
  • Ketika Krama Inggil Perlahan Kehilangan Suara di Patikraja
    By Erdi Aqil Fauzan
    Oktober 8, 2026
    Oleh: Farah Nasywa Nurrahma | Narasumber: Mareta & […]

Pendidikan

  • SMA Muhammadiyah Sokaraja Benahi Manajemen untuk Pulihkan Kepercayaan Masyarakat
    By shafrifa aulia
    Pendidikan
    September 29, 2026
  • Keterbatasan Perpustakaan Tak Padamkan Semangat Membaca, Pojok Literasi Jadi Solusi bagi Murid UPTD SDN 3 Kedungdawa
    By calista aneen
    Pendidikan
    September 29, 2026
  • Kopi dan Laptop: Cerita Mahasiswa Unsoed Menghadapi Tenggat Tugas Tengah Semester
    By athaya qila
    Pendidikan
    September 29, 2026

Bahasa

  • Mengenal Dunia Inklusif Melalui Kelas Bahasa Isyarat Himpunan Mahasiswa KIP-K Unsoed
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan, Terbaru
    September 21, 2026
  • Usung Tema “Citta Karya”, Seminar Kepenulisan 2026 Hadirkan Luluk HF, Penulis “Mariposa”
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Resmi Berlangsung 14–16 September
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Hiburan, Pendidikan, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Resmi Dibuka, Wabup Dorong Budaya Baca Masyarakat
    By akt 24
    Bahasa Bahasa, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Hadirkan Beragam Stan Literasi
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan
    September 21, 2026

Kuliner

  • Segelas Dawet Ayu, Rezeki yang Tak Tertukar
    By Hanunah Mumtaz
    Feature, Kuliner, Sosial
    Oktober 8, 2026
  • Makaroni Tasik Mang Dadang, Kuliner Pedas Hits di Purwokerto
    By Hanunah Mumtaz
    Kuliner
    September 21, 2026
  • Memadukan Kopi dan Literasi di Bawah Keteduhan Hutan Pinus Ajibarang
    By kelaas d
    Kuliner, Wisata
    September 21, 2026

Wisata

  • Riak Sang Penyu, Potret Kehidupan di Kawasan Konservasi
    By kelasB
    Pendidikan, Wisata
    September 21, 2026
  • Sabtu Malam, Kawasan Malioboro Dipenuhi Wisatawan
    By akt 24
    Wisata
    September 21, 2026
  • Memadukan Kopi dan Literasi di Bawah Keteduhan Hutan Pinus Ajibarang
    By kelaas d
    Kuliner, Wisata
    September 21, 2026

Sudut Nalar

Media pemberitaan mahasiswa
Hasil praktik Mata Kuliah Dasar-dasar Jurnalistik.

Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jenderal Soedirman

Tautan

Tentang Kami
Susunan Redaksi
Pedoman Media Siber
Kirim Tulisan
Arsip Berita.

Tentang

Diterbitkan oleh mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jenderal Soedirman, sebagai bagian dari praktik Mata Kuliah Dasar-dasar Jurnalistik.

Dosen Pengampu : Dr. Memet Sudaryanto, M.Pd.

©2026 sudutnalar.com | Design: Newspaperly WordPress Theme