Skip to content
sudutnalar.com
Menu
  • Beranda
  • Tentang
  • Bahasa
  • Wisata
  • Tips
  • Budaya
  • Teknologi
  • Sosial
  • Politik
  • Sastra
  • Kuliner
  • Hiburan
  • Profile
  • Pendidikan
  • Feature
  • Ekonomi
  • Hukum
Menu

Merawat Seni Banyumas di Tengah Perubahan Generasi

Posted on Oktober 8, 2026Oktober 8, 2026 by Erdi Aqil Fauzan

Penulis: Aurelia Dwi Salsabila | Narasumber: Randhi Hariyaningtyastomo | Keterangan: Feature News | Selasa, 07 September 2026

Randhi mengisi kegiatan pengenalan mahasiswa baru Fakultas Peternakan Universitas Jenderal Soedirman (Foto: Dokumen Pribadi Randhi)

BANYUMAS, SUDUTNALAR – Keinginan untuk berhenti pernah muncul dalam perjalanan Randhi Hariyaningtyastomo sebagai pengajar seni selama hampir 25 tahun. Kegagalan dalam sebuah perlombaan membuatnya kecewa hingga sempat berpikir untuk meninggalkan dunia seni yang telah dikenalnya sejak kecil. Namun, ia tidak benar-benar berhenti. Masih ada murid dan orang-orang yang menjadikannya panutan serta membutuhkan pengetahuan yang dimilikinya.

Randhi mengenal seni sejak kecil karena tumbuh dalam keluarga yang berkecimpung di bidang kesenian. Ayahnya merupakan pengajar seni tari dan karawitan, sedangkan ibunya juga berkecimpung dalam bidang seni dan kebudayaan. Sejak taman kanak-kanak, Randhi telah mengenal dan menekuni seni tari. Hingga sekarang, masih terlibat dalam kegiatan menari pada acara tertentu, termasuk kegiatan sosial yang menurutnya menjadi bagian dari upaya melestarikan seni tradisional. 

Meskipun pendidikan akademiknya berada di bidang biologi, Randhi tetap menekuni kesenian. Dalam perjalanan, ia pernah menjadi dosen praktisi di ISI Yogyakarta. Saat ini, ia mengajar seni tari di sekolah dasar, sekolah menengah pertama, dan sekolah menengah atas. Selain itu, juga mengajar di sanggar serta menerima berbagai kegiatan kesenian sesuai dengan kebutuhan. 

Sanggar yang kini dikelolanya, yakni Sanggar Panginyongan, juga merupakan bagian dari perjalanan keluarganya. Sanggar tersebut sebelumnya didirikan oleh orang tuanya dengan nama Sanggar Sekar Budaya. Ketika pengelolaan beralih kepadanya, Randhi mengganti nama sanggar menjadi Satria Budaya. Pada 2020, ia kemudian mengurus sanggar tersebut agar memiliki badan hukum. Karena nama Sekar Budaya dan Satria Budaya telah digunakan oleh sanggar lain, ia akhirnya memilih nama Panginyongan yang mencerminkan rumpun Budaya Banyumasan. 

Hampir 25 tahun menjadi pengajar, membuat Randhi terbiasa menghadapi berbagai karakter anak. Ada anak yang memiliki minat terhadap tari, tetapi tidak mendapat dukungan dari orang tua. Sebaliknya, ada orang tua yang menginginkan anaknya mengikuti kegiatan sanggar, sedangkan anak tersebut tidak memiliki minat. 

Kemampuan setiap anak juga berbeda ada yang mudah diajari, tetapi cepat lupa ada pula yang membutuhkan waktu lebih lama untuk belajar, tetapi mampu mengingat gerakan dengan baik. Bahkan ada anak yang bakatnya tidak terlalu menonjol, tetapi memiliki kemauan belajar yang tinggi. 

Tidak semua pengalaman sebagai pelatih selalu menyenangkan, Randhi pernah menghadapi situasi ketika kegiatan latihan berlangsung hingga malam sehingga mengganggu lingkungan sekitar, ia juga pernah berada dalam kondisi ingin berhenti setelah mengalami kegagalan dalam sebuah perlombaan. Kekecewaan tersebut membuat ia mempertanyakan perjuangan yang telah dilakukan. Namun, ia melanjutkan perjalanan sebagai pengajar seni hingga kini, murid-muridnya telah meraih prestasi dari tingkat kecamatan hingga Nasional, bahkan pernah mengikuti ajang internasional secara daring. 

Ada alasan yang membuatnya tetap bertahan. Randhi merasa kasihan kepada orang-orang yang selama ini mengikutinya dan menjadikannya sebagai panutan. Ia khawatir jika dirinya berhenti, mereka juga akan kehilangan tempat untuk memperoleh pengetahuan.

“Saya merasa apabila nanti saya berhenti, saya kasihan sama orang-orang yang sudah mengikuti saya atau menjadi panutan mereka,” ujar Randhi. 

Ia kemudian menggambarkan dirinya seperti sebuah pohon. Ketika pohon tumbuh besar, orang lain dapat memanfaatkan buah dan daunnya. Jika pohon tersebut mati, orang-orang yang selama ini memperoleh manfaat akan kehilangan sumbernya bagi Randhi, gambaran tersebut menjadi alasan untuk terus mempertahankan semangat berkesenian.

Randhi juga merasa memiliki tanggung jawab sebagai pewaris tunggal dari para sesepuh dan keluarganya. Ia tidak ingin ilmu serta kebudayaan yang telah diterimanya berhenti pada dirinya. Menjadi seseorang yang dapat memberikan manfaat kepada orang lain merupakan bagian penting dari perjalanan hidupnya. 

Karena itu, seni bagi Randhi bukan sekadar kegiatan untuk menghasilkan karya. Ia menyebut seni sebagai “ladang untuk ibadahku, ladang untuk pahalaku, ladang untuk kehidupanku”. Melalui seni, ia ingin tetap dapat hidup sekaligus membuat orang-orang di sekitarnya berkembang dan memperoleh manfaat. 

Keinginan tersebut juga menjadi dasar harapannya terhadap Sanggar Panginyongan. Randhi ingin sanggar tersebut terus melestarikan, menjaga serta mengembangkan seni. Ia ingin sanggar mampu menghasilkan karya sekaligus sumber daya manusia sehingga tidak terjadi putus generasi dalam pewarisan Budaya. Ia juga berharap bukan hanya anak-anaknya, tetapi siapa pun yang berada di lingkungan sanggar dapat berkembang dan maju bersama. 

Pesan Randhi kepada generasi muda pun sederhana. Ia meminta mereka tidak menyerah dan tidak menganggap rendah seni Budaya sendiri. Perkembangan teknologi dan media sosial dapat dimanfaatkan untuk memperkenalkan kesenian tradisional. Menurutnya, teknologi, termasuk kecerdasan buatan, seharusnya menjadi alat yang membantu manusia berkarya, bukan sesuatu yang membuat manusia menjadi malas.

“Jangan pernah menyerah, jangan pernah mengesampingkan atau menganggap rendah seni Budaya kita,” pesannya. 

Pada akhirnya, yang ingin dijaga Randhi bukan hanya keberadaan sebuah sanggar atau karya tari yang telah dibuatnya. Ia ingin Budaya Banyumas tetap hidup ketika generasi sekarang sudah tidak ada. Ia menitipkan Budaya Banyumas dan Budaya Indonesia kepada generasi muda agar warisan yang diterimanya tidak berhenti pada satu generasi, tetapi tetap dikenal dan berkembang di masa depan. 

Penulis   : Aurelia Dwi Salsabila

Editor     : Mishyagian Romadon

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

Berita Terbaru

  • Dulu Semalam Suntuk, Kini Sekadar Pembuka Acara: Cerita Lengger dari Rumah Lengger Banyumas
    By bagus aji
    Oktober 9, 2026
    Lukisan penari lengger dan seperangkat calung di sudut […]
  • Gemblong Ocar-Acir di Tengah Perubahan Selera Generasi Muda
    By Erdi Aqil Fauzan
    Oktober 8, 2026
    Penulis: Erdi Aqil Fauzan | Keterangan: Feature, […]
  • Ketika Krama Inggil Perlahan Kehilangan Suara di Patikraja
    By Erdi Aqil Fauzan
    Oktober 8, 2026
    Oleh: Farah Nasywa Nurrahma | Narasumber: Mareta & […]

Pendidikan

  • SMA Muhammadiyah Sokaraja Benahi Manajemen untuk Pulihkan Kepercayaan Masyarakat
    By shafrifa aulia
    Pendidikan
    September 29, 2026
  • Keterbatasan Perpustakaan Tak Padamkan Semangat Membaca, Pojok Literasi Jadi Solusi bagi Murid UPTD SDN 3 Kedungdawa
    By calista aneen
    Pendidikan
    September 29, 2026
  • Kopi dan Laptop: Cerita Mahasiswa Unsoed Menghadapi Tenggat Tugas Tengah Semester
    By athaya qila
    Pendidikan
    September 29, 2026

Bahasa

  • Mengenal Dunia Inklusif Melalui Kelas Bahasa Isyarat Himpunan Mahasiswa KIP-K Unsoed
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan, Terbaru
    September 21, 2026
  • Usung Tema “Citta Karya”, Seminar Kepenulisan 2026 Hadirkan Luluk HF, Penulis “Mariposa”
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Resmi Berlangsung 14–16 September
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Hiburan, Pendidikan, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Resmi Dibuka, Wabup Dorong Budaya Baca Masyarakat
    By akt 24
    Bahasa Bahasa, Sastra
    September 21, 2026
  • Festival Literasi Banyumas 2026 Hadirkan Beragam Stan Literasi
    By kelaas d
    Bahasa Bahasa, Pendidikan
    September 21, 2026

Kuliner

  • Segelas Dawet Ayu, Rezeki yang Tak Tertukar
    By Hanunah Mumtaz
    Feature, Kuliner, Sosial
    Oktober 8, 2026
  • Makaroni Tasik Mang Dadang, Kuliner Pedas Hits di Purwokerto
    By Hanunah Mumtaz
    Kuliner
    September 21, 2026
  • Memadukan Kopi dan Literasi di Bawah Keteduhan Hutan Pinus Ajibarang
    By kelaas d
    Kuliner, Wisata
    September 21, 2026

Wisata

  • Riak Sang Penyu, Potret Kehidupan di Kawasan Konservasi
    By kelasB
    Pendidikan, Wisata
    September 21, 2026
  • Sabtu Malam, Kawasan Malioboro Dipenuhi Wisatawan
    By akt 24
    Wisata
    September 21, 2026
  • Memadukan Kopi dan Literasi di Bawah Keteduhan Hutan Pinus Ajibarang
    By kelaas d
    Kuliner, Wisata
    September 21, 2026

Sudut Nalar

Media pemberitaan mahasiswa
Hasil praktik Mata Kuliah Dasar-dasar Jurnalistik.

Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jenderal Soedirman

Tautan

Tentang Kami
Susunan Redaksi
Pedoman Media Siber
Kirim Tulisan
Arsip Berita.

Tentang

Diterbitkan oleh mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jenderal Soedirman, sebagai bagian dari praktik Mata Kuliah Dasar-dasar Jurnalistik.

Dosen Pengampu : Dr. Memet Sudaryanto, M.Pd.

©2026 sudutnalar.com | Design: Newspaperly WordPress Theme