Penulis: Aurelia Dwi Salsabila | Narasumber: Randhi Hariyaningtyastomo | Keterangan: Feature News | Selasa, 07 September 2026

Randhi mengisi kegiatan pengenalan mahasiswa baru Fakultas Peternakan Universitas Jenderal Soedirman (Foto: Dokumen Pribadi Randhi)
BANYUMAS, SUDUTNALAR – Keinginan untuk berhenti pernah muncul dalam perjalanan Randhi Hariyaningtyastomo sebagai pengajar seni selama hampir 25 tahun. Kegagalan dalam sebuah perlombaan membuatnya kecewa hingga sempat berpikir untuk meninggalkan dunia seni yang telah dikenalnya sejak kecil. Namun, ia tidak benar-benar berhenti. Masih ada murid dan orang-orang yang menjadikannya panutan serta membutuhkan pengetahuan yang dimilikinya.
Randhi mengenal seni sejak kecil karena tumbuh dalam keluarga yang berkecimpung di bidang kesenian. Ayahnya merupakan pengajar seni tari dan karawitan, sedangkan ibunya juga berkecimpung dalam bidang seni dan kebudayaan. Sejak taman kanak-kanak, Randhi telah mengenal dan menekuni seni tari. Hingga sekarang, masih terlibat dalam kegiatan menari pada acara tertentu, termasuk kegiatan sosial yang menurutnya menjadi bagian dari upaya melestarikan seni tradisional.
Meskipun pendidikan akademiknya berada di bidang biologi, Randhi tetap menekuni kesenian. Dalam perjalanan, ia pernah menjadi dosen praktisi di ISI Yogyakarta. Saat ini, ia mengajar seni tari di sekolah dasar, sekolah menengah pertama, dan sekolah menengah atas. Selain itu, juga mengajar di sanggar serta menerima berbagai kegiatan kesenian sesuai dengan kebutuhan.
Sanggar yang kini dikelolanya, yakni Sanggar Panginyongan, juga merupakan bagian dari perjalanan keluarganya. Sanggar tersebut sebelumnya didirikan oleh orang tuanya dengan nama Sanggar Sekar Budaya. Ketika pengelolaan beralih kepadanya, Randhi mengganti nama sanggar menjadi Satria Budaya. Pada 2020, ia kemudian mengurus sanggar tersebut agar memiliki badan hukum. Karena nama Sekar Budaya dan Satria Budaya telah digunakan oleh sanggar lain, ia akhirnya memilih nama Panginyongan yang mencerminkan rumpun Budaya Banyumasan.
Hampir 25 tahun menjadi pengajar, membuat Randhi terbiasa menghadapi berbagai karakter anak. Ada anak yang memiliki minat terhadap tari, tetapi tidak mendapat dukungan dari orang tua. Sebaliknya, ada orang tua yang menginginkan anaknya mengikuti kegiatan sanggar, sedangkan anak tersebut tidak memiliki minat.
Kemampuan setiap anak juga berbeda ada yang mudah diajari, tetapi cepat lupa ada pula yang membutuhkan waktu lebih lama untuk belajar, tetapi mampu mengingat gerakan dengan baik. Bahkan ada anak yang bakatnya tidak terlalu menonjol, tetapi memiliki kemauan belajar yang tinggi.
Tidak semua pengalaman sebagai pelatih selalu menyenangkan, Randhi pernah menghadapi situasi ketika kegiatan latihan berlangsung hingga malam sehingga mengganggu lingkungan sekitar, ia juga pernah berada dalam kondisi ingin berhenti setelah mengalami kegagalan dalam sebuah perlombaan. Kekecewaan tersebut membuat ia mempertanyakan perjuangan yang telah dilakukan. Namun, ia melanjutkan perjalanan sebagai pengajar seni hingga kini, murid-muridnya telah meraih prestasi dari tingkat kecamatan hingga Nasional, bahkan pernah mengikuti ajang internasional secara daring.
Ada alasan yang membuatnya tetap bertahan. Randhi merasa kasihan kepada orang-orang yang selama ini mengikutinya dan menjadikannya sebagai panutan. Ia khawatir jika dirinya berhenti, mereka juga akan kehilangan tempat untuk memperoleh pengetahuan.
“Saya merasa apabila nanti saya berhenti, saya kasihan sama orang-orang yang sudah mengikuti saya atau menjadi panutan mereka,” ujar Randhi.
Ia kemudian menggambarkan dirinya seperti sebuah pohon. Ketika pohon tumbuh besar, orang lain dapat memanfaatkan buah dan daunnya. Jika pohon tersebut mati, orang-orang yang selama ini memperoleh manfaat akan kehilangan sumbernya bagi Randhi, gambaran tersebut menjadi alasan untuk terus mempertahankan semangat berkesenian.
Randhi juga merasa memiliki tanggung jawab sebagai pewaris tunggal dari para sesepuh dan keluarganya. Ia tidak ingin ilmu serta kebudayaan yang telah diterimanya berhenti pada dirinya. Menjadi seseorang yang dapat memberikan manfaat kepada orang lain merupakan bagian penting dari perjalanan hidupnya.
Karena itu, seni bagi Randhi bukan sekadar kegiatan untuk menghasilkan karya. Ia menyebut seni sebagai “ladang untuk ibadahku, ladang untuk pahalaku, ladang untuk kehidupanku”. Melalui seni, ia ingin tetap dapat hidup sekaligus membuat orang-orang di sekitarnya berkembang dan memperoleh manfaat.
Keinginan tersebut juga menjadi dasar harapannya terhadap Sanggar Panginyongan. Randhi ingin sanggar tersebut terus melestarikan, menjaga serta mengembangkan seni. Ia ingin sanggar mampu menghasilkan karya sekaligus sumber daya manusia sehingga tidak terjadi putus generasi dalam pewarisan Budaya. Ia juga berharap bukan hanya anak-anaknya, tetapi siapa pun yang berada di lingkungan sanggar dapat berkembang dan maju bersama.
Pesan Randhi kepada generasi muda pun sederhana. Ia meminta mereka tidak menyerah dan tidak menganggap rendah seni Budaya sendiri. Perkembangan teknologi dan media sosial dapat dimanfaatkan untuk memperkenalkan kesenian tradisional. Menurutnya, teknologi, termasuk kecerdasan buatan, seharusnya menjadi alat yang membantu manusia berkarya, bukan sesuatu yang membuat manusia menjadi malas.
“Jangan pernah menyerah, jangan pernah mengesampingkan atau menganggap rendah seni Budaya kita,” pesannya.
Pada akhirnya, yang ingin dijaga Randhi bukan hanya keberadaan sebuah sanggar atau karya tari yang telah dibuatnya. Ia ingin Budaya Banyumas tetap hidup ketika generasi sekarang sudah tidak ada. Ia menitipkan Budaya Banyumas dan Budaya Indonesia kepada generasi muda agar warisan yang diterimanya tidak berhenti pada satu generasi, tetapi tetap dikenal dan berkembang di masa depan.
Penulis : Aurelia Dwi Salsabila
Editor : Mishyagian Romadon
