
Sumber foto: Dok. Pribadi Syifa Aryani Putri
BANYUMAS, SUDUTNALAR – Suara sepatu yang bergesek dengan lantai ruangan latihan terdengar berirama, beradu dengan napas yang memburu. Di balik peluh yang menetes, sorot mata seorang mahasiswi muda bernama Syifa Aryani Putri tampak begitu tajam, memancarkan ketulusan yang sulit disembunyikan. Bagi sebagian orang, menari mungkin sekadar hiasan panggung atau gerakan fisik yang menghibur. Namun, bagi Syifa, panggung adalah tempat di mana ia bisa bernapas lebih lega, ruang latihan untuk merajut asa dan menyuarakan emosi yang tak sanggup diungkapkan lewat kata-kata.
Ketertarikan Syifa pada dunia seni gerak ini, bermula dari kekagumannya pada budaya K-pop saat ia duduk di bangku kelas 10 SMA. Melihat para idolanya tampil penuh energi di layar kaca membuat hatinya terpaut.
“Menurut saya, mereka itu keren banget waktu dance. Jadi saya ingin keren seperti mereka,” ujar Syifa mengenang awal perjalanannya.
Meski awalnya hanya coba-coba meniru tutorial dance di YouTube secara otodidak tanpa pemahaman dasar hip-hop atau dance, tekadnya perlahan membawanya menemukan pelatih profesional saat SMA. Dari sanalah ia belajar memahami makna di balik setiap hentakan, bukan sekadar bergerak mengikuti ketukan lagu.
Namun, jalan terjal tentu menghampiri. Syifa mengaku pernah merasakan pahitnya kritik tajam, baik saat masih berseragam putih abu-abu hingga menginjak bangku kuliah. Ia pernah dikritik kurang memiliki power, kontrol tubuh yang minim, hingga mendapat komentar bahwa dirinya tidak cocok membawakan dance cover bertema pria. Kritik tersebut sempat menusuk hatinya, membuatnya merasa kecil.
Belum lagi ketika ia harus menelan kekalahan telak dalam sebuah kompetisi dance tingkat kabupaten semasa sekolah. Kala itu, ia dan temannya masih awam dan harus bersaing dengan kontestan lain yang jauh lebih profesional dan berpengalaman.
“Perasaan saya ya sedih, padahal sudah lama dan rajin berlatih, tapi tidak menang,” kenangnya dengan nada lirih.
Namun, alih-alih meratapi nasib dan menyerah, kegagalan itu justru ia jadikan bahan bakar untuk terus menempa diri. Baginya, kompetisi dan kekalahan adalah guru terbaik untuk mendewasakan mental.
Tantangan terberat baginya bukanlah menghafal koreografi yang rumit atau menyelaraskan tempo yang rapat, melainkan bagaimana menjaga konsistensi di tengah kesibukan akademik. Sebagai seorang mahasiswi, prioritas utamanya tetaplah perkuliahan. Ketika jadwal latihan berbenturan dengan tugas kelompok yang menumpuk, Syifa memiliki cara tersendiri untuk menyiasatinya. Ia memilih menyelesaikan urusan kelompok terlebih dahulu, membagi porsi tugas yang harus ia kerjakan dahulu, sebelum akhirnya pamit untuk berlatih. Ia membuktikan bahwa hobi tidak harus mengorbankan masa depan pendidikannya.
Puncak kebahagian dan pencapaian terbesarnya adalah ketika ia diberi kesempatan tampil di berbagai panggung besar. Mulai dari panggung sekolah, acara kampanye sosial, hingga memeriahkan panggung pameran kampus (Ospek Universitas dan PKKMB). Di sanalah ia merasa hidupnya benar-benar berarti.
“Dance itu cara saya untuk mengeluarkan suka-duka. Jadi saya suka sekali dengan dance dan hal itulah yang membuat saya bertahan sampai sekarang,” ungkapnya.
Bagi Syifa, dance bukan sekadar gerakan fisik yang indah dipandang mata. Lebih dari itu, seni gerak ini menjadi sebuah bahasa universal yang merangkul sunyi, menyebuhkan luka, dan merayakan kehidupan. Dari lantai ruang latihan yang sederhana, Syifa terus menari, menentang waktu, dan membuktikan bahwa ketekunan selalu menemukan jalannya untuk bersinar.
Penulis : Sabti Ainnur Rahmah
Editor : Salamah
