Penulis: Revaliana Arianti | Narasumber: Riyanto | Keterangan: Feature News | Rabu, 7 Oktober 2026 | 20.26 WIB

Riyanto Penjual Kerupuk Cantir (Dok. Revaliana Arianti)
BANYUMAS, SUDUTNALAR — Sejauh mana seseorang harus melangkah untuk menjemput rezeki? Bagi Riyanto, menyusuri sudut-sudut Purwokerto di bawah terik matahari hingga dinginnya angin malam telah menjadi bagian yang disyukuri tiap harinya. Di tengah riuk pikuk lalu lintas kota yang tak pernah tidur, langkah kakinya tetap berayun perlahan, membawa harapan yang digantungkan pada dua keranjang dengan penuh semangat.
Riyanto, 47 tahun, merupakan warga Karanglewas, Banyumas yang berjualan kerupuk cantir secara berkeliling. Ia mulai berjualan sekitar pukul 09.00 Pagi dengan membawa kerupuk dari pemasok di Cilongok. Tidak memiliki tempat berjualan tetap, Riyanto menyusuri sejumlah kawasan untuk mencari pembeli.
“Kerupuk ini saya ambil dari pemasok khas Cilongok, kemudian saya jual Kembali.” ujar Riyanto, Rabu(7/10/2026).
Kerupuk cantir tersebut dibeli dengan harga Rp6.000 per bungkus dan dijual kembali seharga Rp12.000. Keuntungan yang diperoleh digunakan untuk memutar kembali modal agar ia dapat mengambil dagangan berikutnya. Menurut Riyanto, hasil penjualan tidak selalu sama setiap harinya.
“Kerupuk ini saya ambil dari pemasok asli Cilongok, kemudian saya jual kembali. Dengan begitu, modal yang saya dapatkan bisa digunakan untuk mengambil kerupuk dan dijual lagi,” ujar Riyanto.
Pilihan menjual kerupuk dalam keadaan mentah muncul dari pengalaman sebelumnya. Riyanto pernah menjual kerupuk yang sudah matang, tetapi sejumlah pembeli justru meminta kerupuk mentah agar dapat menggorengnya sendiri di rumah.
“Saya pernah menjual yang matang, tetapi banyak pembeli yang meminta yang mentah agar dapat digoreng sendiri dan dinikmati dalam keadaan hangat,” ujarnya.
Untuk mendapatkan pembeli, Riyanto berkeliling melalui sejumlah wilayah. Ia biasa melewati underpass jalan baru, menuju Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP), kemudian ke arah Mersi hingga kawasan Pasar Wage bagian timur. Dagangan tersebut dibawa di pundaknya sepanjang perjalanan.
“Saya terkadang berjualan di sekitar underpass. Dari sana saya berjalan menuju UMP, kemudian ke arah Mersi hingga Pasar Wage bagian timur,” ujar Riyanto.
Perjalanan berjualan tidak selalu berakhir pada hari yang sama. Ketika kerupuk tak habis terjual, Riyanto memilih tidak kembali ke kediamannya, ia justru akan kembali ke rumah sekitar dua hari kemudian. Selama tidak pulang, ia menggunakan masjid sebagai tempat untuk beristirahat atau tidur.
“Kalau kerupuk mentah belum habis terjual, terkadang saya baru pulang dua hari sekali. Saya lebih memilih untuk beristirahat atau tidur di masjid,” katanya.
Di umur yang masih sangat produktif, Riyanto hanya tinggal bersama istrinya saja. Ia mengatakan kondisi istrinya sehat. Meskipun belum dikaruniai seorang anak hingga saat ini, ia tetap semangat menjalani aktivitas berjualan demi memenuhi kebutuhan hidup dan menjaga modal usahanya agar terus berputar.
“Yang penting tetap berusaha. Rezeki sudah ada yang mengatur. Terkadang dagangan cepat laku, terkadang lambat, tetapi saya tetap menjalaninya,” ujarnya.
Langit yang semakin gelap tidak serta-merta menghentikan langkah Riyanto. Kerupuk cantir yang masih tersisa tetap dibawanya, menjadi pengingat bahwa hari itu belum sepenuhnya selesai. Di antara lalu lintas yang terus bergerak, ia kembali menunggu kesempatan untuk mendapatkan pembeli yang tidak tahu kapan akan datang membawa rezeki bagi dirinya.
Dari Karanglewas hingga jalan-jalan di Purwokerto, Riyanto terus berjalan dengan kerupuk cantir di pundaknya. Baginya, setiap langkah bukan sekadar perjalanan mencari pembeli, melainkan cara untuk mempertahankan usaha dan menjemput rezeki. Selama masih mampu berjalan dan berusaha, ia memilih untuk tidak berhenti.
Penulis — Revaliana Arianti
Editor — Zalfa Nur Afiifah
