Penulis: Aurelia Dwi Salsabila | Narasumber: Randhi Hariyaningtyastomo | Keterangan: Profil | Minggu, 21 September 2026 | 20.05 WIB

Randhi bersama para penari dalam kegiatan Honda Dream Cup 2026. (Foto: Dok. Pribadi Randhi)
Purwokerto – sudutnalar.com, Randhi Hariyaningtyastomo, merupakan seniman dan pelatih tari asal Grendeng, Purwokerto. Ia mengenal seni sejak kecil dan terus menekuninya hingga menjadi pelatih tari di berbagai jenjang pendidikan.
Meskipun pendidikan formalnya tidak secara khusus berkaitan dengan seni, Randhi pernah mengikuti program pemerintah hingga menjadi praktisi dan dosen di ISI Yogyakarta. Pengalaman tersebut semakin memperkuat perjalanan dalam mengembangkan kesenian.
Perjalanan Randhi mengelola sanggar berawal dari Sanggar Sekar Budaya yang didirikan orang tuanya. Saat tanggung jawab pengelolaan beralih kepadanya, nama sanggar diubah menjadi Satria Budaya, sebelum akhirnya pada 2020 disahkan secara hukum.
Nama Sanggar Panginyongan kemudian dipilih karena dua nama sebelumnya telah digunakan sanggar lain. Nama tersebut menjadi bentuk penegasan terhadap identitas budaya Banyumas dan wilayah sekitarnya.
Dalam melatih tari, Randhi menghadapi murid dengan karakter dan kemampuan yang berbeda. Ia juga terus menciptakan karya tari untuk berbagai jenjang pendidikan dengan mengambil inspirasi dari lingkungan, kehidupan, sejarah, dan pengalaman pribadi.
Setiap karya yang dibuatnya dikembangkan melalui proses riset agar gagasan yang disampaikan memiliki dasar yang jelas. Bagi Randhi, proses berkarya tidak hanya tentang menghasilkan pertunjukan, tetapi juga menyampaikan nilai dan cerita melalui seni.
Perjalanan tersebut tidak selalu mudah. Randhi pernah mengalami kegagalan dalam perlombaan hingga sempat ingin berhenti. Namun, tanggung jawab terhadap peserta didik dan keinginannya untuk terus menjaga kesenian membuatnya kembali berkarya.
Melalui Sanggar Panginyongan, Randhi tidak hanya mengembangkan tari, tetapi juga membuka ruang bagi kesenian lain seperti macapat, teater, dan karawitan. Ia juga mendorong generasi muda memanfaatkan media sosial dan teknologi untuk memperkenalkan budaya lokal.
Bagi Randhi, keberlangsungan seni bergantung pada generasi yang meneruskannya. Ia berharap seni dan budaya Banyumas tetap dikenal, dipelajari, dan berkembang di tengah perubahan zaman.
Penulis : Aurelia Dwi Salsabila
Editor : Mishyagin Romadon
