
Indra saat menjelaskan nilai filosofis tokoh Wayang Bawor khas Banyumasan kepada pengunjung di ruang pamer utama. Senin (21/9/2026). (Foto: Lelyana Dwi Maharani)
Banyumas – Sudutnalar.com, Trijono Indra Winaryo atau lebih akrab disapa Indra telah mendedikasikan hidupnya untuk menjaga dan mengenalkan budaya wayang kepada pengunjung Museum Wayang Banyumas sejak 2007. Di tempat ini, ia memegang peran penting dalam menjembatani warisan masa lalu dengan generasi modern. Di tengah perkembangan tren digital, ketulusan hatinya dalam memandu setiap tamu menjadi salah satu upaya dalam menjaga kelestarian tradisi pewayangan lokal di kawasan cagar budaya ini.
Langkah kaki Indra di lorong museum ini bukanlah hal baru. Lingkungan museum sebenarnya sudah sangat akrab baginya sejak kecil karena ayahnya dahulu merupakan pegawai pemerintah dan tinggal di sekitar lingkungan museum. Hubungan emosional sejak masa kecil itulah yang menuntun langkahnya untuk melestarikan budaya Wayang Banyumas.
Indra mendedikasikan dirinya untuk mengelola museum secara total, mulai dari melayani administrasi tata usaha, memandu tamu dari berbagai daerah, mengedukasi pengunjung tentang sejarah cagar budaya, hingga turun tangan langsung mencangkul dan membersihkan rumput liar di sekitar area museum. Baginya, kepedulian terhadap pelestarian budaya harus dinikmati dan dijalani tanpa terbebani oleh hasil akhir.
“Kita peduli terhadap budaya. pekerjaan yang memang harus dinikmati dan dijalani sejak awal. Mengenai hasil, itu sudah ada yang mengatur di Atas. Kita ikuti saja. Lagi pula, kalau bukan kita yang peduli, siapa lagi?” ujar Indra.
Selama bertugas, tantangan terbesar yang dihadapi Indra adalah menghadapi pengunjung dengan karakteristik yang beragam, terutama anak-anak usia dini. Selain itu, ia juga kerap menghadapi kenyataan bahwa sebagian besar pelajar dan mahasiswa datang berkunjung hanya karena tugas.
Sambil bercanda, Indra sempat membahas kebiasaan tersebut.
“Kendalanya cukup banyak, Salah satunya kalau tidak ada tugas, kalian tidak akan datang ke sini. Karena itu, saya terima kasih sekali kepada para dosen dan guru di luar sana. Melalui tugas-tugas seperti itulah anak muda menjadi mau datang ke museum.” Ujarnya.
Namun, bagi Indra, kedatangan mereka tetap dapat menjadi kesempatan untuk mengenalkan budaya Banyumas.
Karena itu, ia mendorong generasi muda untuk tidak berhenti setelah menyelesaikan tugas. Menurutnya, museum dan budaya Banyumas juga dapat dikenalkan melalui media yang dekat dengan anak muda, seperti vlog dan konten media sosial.
“Bagi Indra, wayang bukan sekadar pertunjukan.” Di dalam cerita dan tokoh-tokohnya terdapat nilai-nilai yang dapat dipelajari dalam kehidupan sehari-hari. Nilai tersebut menjadi salah satu hal yang menurut Indra perlu terus dikenalkan kepada generasi muda. Ia berharap masyarakat memiliki keinginan untuk mempelajari dan melestarikan budaya Wayang Banyumas.
Lewat pengabdian panjangnya di museum ini, Indra menyampaikan satu pesan mendalam bagi generasi penerus bangsa. Ia mengingatkan bahwa kebudayaan merupakan identitas dan jati diri yang harus dirawat agar tidak hilang ditelan zaman.
“Budaya adalah suatu jati diri. Jadi kita harus ikut menumbuhkembangkan budaya itu yang menjadi suatu identitas kita,” pesan Indra.
Penulis : Lelyana Dwi Maharani
Editor : Kayla Fadilla
