Penulis: Levina Naurah Syifa | Narasumber: Mbah Tariyah | Keterangan: Human Interest | Rabu, 07 Oktober 2026 | 07.30 WIB

Sosok Mbah Tariyah yang Sedang Melayani Pelanggan (Dok. Koleksi Pribadi)
CILACAP, SUDUTNALAR – Pukul empat pagi, ketika sebagian besar warga masih terlelap, Mbah Tariyah sudah berjalan menuju pasar. Udara dingin menusuk, jalanan masih lengang, dan lampu-lampu belum padam. Di sana ia memilih satu per satu sayur yang akan dijualnya hari itu: bayam, kangkung, sawi, kacang panjang. Daunnya ia balik, batangnya ia remas pelan, memastikan hanya yang segar yang ikut pulang bersamanya.
Perempuan 62 tahun itu sudah menjalani rutinitas ini selama lebih dari tiga dekade.
Menjelang pukul lima, dagangan sudah tertata di pelataran depan stasiun. Ikatan-ikatan sayur disusun rapi di atas meja, sebagian masih berselimut embun dan menyisakan tanah di pangkal batangnya. Di belakang lapak, di atas bangku kecil, bertengger sebuah timbangan besi berwarna gelap. Catnya mengelupas dan karatnya merambat di tepian. Jarumnya bergetar sebentar setiap kali ada beban baru, lalu pelan-pelan berhenti.
Suara pengumuman kereta bersahutan dengan deru motor dan obrolan para pedagang. Satu per satu orang mendekat. Ada karyawan yang bergegas, ada ibu-ibu yang berhenti sebentar untuk menawar. Mbah Tariyah melayani mereka dengan tangan cekatan dan senyum yang hampir tak pernah hilang. Ia terus berjualan sampai sekitar pukul sepuluh pagi, saat matahari mulai terasa menyengat dan dagangannya tinggal sedikit.
Bagi sebagian orang, usia 62 tahun adalah waktu untuk beristirahat. Mbah Tariyah punya alasan lain untuk tetap bangun sebelum subuh. Ketiga anaknya sudah berkeluarga dan merantau. Suaminya telah lama berpulang. Rumah yang dulu riuh kini lebih sering diisi hening.
“Kalau di rumah terus, sepi. Sakit semua badan. Kalau di pasar, ketemu orang, hati senang. Lagi pula, dari jualan ini Mbah bisa kirim sedikit buat cucu jajan, tidak minta ke anak,” tuturnya.
Kalimat itu meluncur ringan, tanpa nada mengeluh. Namun di baliknya ada keteguhan yang tidak sederhana. Lapak sayur ini bukan lagi sekadar tempat mencari uang. Di sinilah ia merasa dibutuhkan, disapa, dan tidak sendirian. Hasil berjualan memang tak seberapa, tetapi cukup untuk membuatnya tetap berdiri di atas kaki sendiri. Ia bisa menyelipkan uang jajan untuk cucu tanpa harus menengadahkan tangan kepada anak-anaknya.
Di antara deretan pedagang lain, lapak Mbah Tariyah mungkin yang paling sederhana. Tak ada tenda, tak ada papan nama, tak ada pajangan menarik. Meski begitu, lapaknya justru yang paling sering dikerumuni pembeli. Rahasianya ada pada benda yang tampak paling tidak berarti: timbangan besi tua di belakangnya.
Menurut standar modern, timbangan itu mungkin sudah tidak akurat lagi. Namun bagi Mbah Tariyah dan para pelanggannya, timbangan itu adalah simbol kejujuran. Ia tidak pernah mengurangi takaran, dan prinsip itu ia pegang sejak hari pertama berjualan.
Seorang pelanggan yang ditemui pagi itu membenarkannya. “Saya langganan sama Mbah Tariyah sudah lima tahun. Sayurnya masih segar, harganya juga murah. Orangnya jujur, kalau sayurnya tidak bagus dia bilang tidak bagus,” ujarnya sambil menerima bungkusan dari tangan keriput itu.
Kejujuran semacam itu jarang ditemukan di tengah persaingan dagang. Mbah Tariyah tidak berpura-pura bahwa semua dagangannya sempurna. Jika ada sayur yang kurang bagus, ia mengatakannya terus terang dan membiarkan pembeli memutuskan sendiri. Justru dari situlah kepercayaan tumbuh, pelan dan kokoh, seperti akar sayur yang masih menempel tanah di lapaknya.
Menjelang pukul sepuluh, matahari sudah tinggi. Ikatan sayur di lapak tinggal beberapa. Mbah Tariyah merapikan sisa dagangan, mengelap timbangan dengan kain lusuh, lalu mengemasi barang-barangnya. Besok, sebelum fajar, ia akan kembali melakukan hal yang sama: ke pasar, memilih sayur, lalu duduk di depan stasiun bersama timbangan tuanya.
Sosok Mbah Tariyah mengingatkan kita bahwa di balik setiap ikat sawi yang kita beli, ada doa seorang ibu dan keteguhan hati yang tak pernah layu, bahkan ketika sayurannya sendiri sudah layu.
Penulis: Levina Naurah Syifa
